DISKOMINFO KUKAR
Kasus ISPA di Kukar Tembus 10.012 pada September, Naik Hampir 1.000 Kasus
Kaltimtoday.co, Tenggarong - Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) kembali meningkat pada September 2026. Tercatat 10.012 kasus sepanjang bulan tersebut, naik dibandingkan Agustus yang mencapai 9.074 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar, Ismi Mufiddah mengatakan, peningkatan kasus ISPA tercatat dalam tiga bulan terakhir. Kondisi ini berlangsung ketika asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terlihat di sejumlah wilayah.
"Jadi September ada peningkatan sekitar 1.000 kasus. Itu laki-laki 4.691, perempuan 5.321. Lebih banyak terjadi pada kelompok perempuan,” kata Ismi, Jumat (2/10/2026).
Berdasarkan kelompok umur, kasus paling banyak ditemukan pada usia 18-59 tahun dengan 3.715 kasus atau sekitar 37 persen. Disusul kelompok usia 5-18 tahun sebanyak 3.082 kasus atau 30,8 persen.
Ismi menyebut angka tersebut belum tentu menggambarkan keseluruhan kasus ISPA yang terjadi di masyarakat. Sebab, data yang dihimpun Dinkes Kukar berasal dari masyarakat yang datang dan mendapatkan pelayanan di fasilitas kesehatan.
“Data ini adalah pasien yang datang ke puskesmas. Artinya, kasus yang sebenarnya terjadi di masyarakat mungkin bisa jadi lebih besar dari ini, karena ada yang tidak datang. Mungkin berobat sendiri,” jelasnya.
Pada September, Puskesmas Loa Ipuh menjadi wilayah dengan jumlah kasus ISPA tertinggi, yakni 677 kasus. Berikutnya Rapak Mahang dengan 670 kasus dan Samboja sebanyak 576 kasus.
Lima wilayah dengan kasus ISPA terbanyak pada September yakni Loa Ipuh, Rapak Mahang, Samboja, Loa Duri, dan Loa Janan.
Di sisi lain, kondisi kualitas udara di Kukar masih menjadi perhatian. Secara kasat mata, keberadaan asap masih terlihat di sejumlah wilayah seiring kebakaran hutan dan lahan yang masih terjadi di beberapa titik.
Meski berbagai upaya telah dilakukan, termasuk cloud seeding atau modifikasi cuaca, kualitas udara yang diukur di sejumlah puskesmas masih menunjukkan kondisi di atas normal.
“Kalau saya bicara secara general, turun, tapi masih di atas normal. Ada PM 2,5, ada PM 10,” ujarnya.
Pengukuran yang dilakukan puskesmas lebih difokuskan pada kualitas udara di dalam ruangan (indoor) untuk mendukung proses pelayanan kesehatan.
Menurut Ismi, kondisi kualitas udara saat ini memang sudah lebih baik dibandingkan ketika asap berada pada kondisi terparah. Namun, nilainya masih dapat berubah ketika cuaca kembali dipenuhi asap.
“Jadi gap antara normal dengan kondisi sekarang itu semakin kecil. Kalau dulu itu tinggi sekali gap-nya. Tapi kadang-kadang kalau cuaca lagi berasap, agak tebal, fluktuatif juga, dia jadi kelihatan tinggi lagi,” katanya.
Ia memastikan kondisi udara saat ini masih tergolong tidak sehat. Karena itu, masyarakat diimbau tetap menggunakan masker, terutama ketika berada di luar ruangan saat asap terlihat cukup tebal.
Ismi menjelaskan partikel Particulate Matter (PM 2,5) berukuran sangat kecil sehingga tidak selalu terasa oleh masyarakat. Selain PM 2,5, pengukuran kualitas udara juga mencakup PM 10.
“Masih tidak sehat. Jadi mungkin kami tetap menyarankan untuk menggunakan masker,” tandasnya.
[RWT | ADV DISKOMINFO KUKAR]
Related Posts
- Karhutla Kaltim Tembus 6.684 Hektare, Kabupaten Kutai Kartanegara Jadi Wilayah Terluas
- TAKAR Ungkap 69 Persen Karhutla Kaltim Terjadi di Wilayah Konsesi
- Samri Dorong PJJ Diperpanjang Jika Asap Masih Membahayakan
- Hotspot Karhutla di Kaltim Melonjak Dua Kali Lipat, BMKG Sebut Asap Berasal dari Pembakaran Lokal
- Pertengahan September, Lahan Terbakar akibat Karhutla Tembus 2.500 Hektare di Kaltim









