Nasional

Peneliti Iklim Ingatkan Ancaman El Nino Godzilla, Indonesia Diproyeksi 19.300 Kematian

Kaltim Today
27 September 2026 17:47
Peneliti Iklim Ingatkan Ancaman El Nino Godzilla, Indonesia Diproyeksi 19.300 Kematian
Peta analisis gelombang panas akibat El Nino dari Climate Impact Lab, Minggu (27/9/2026).

JAKARTA, Kaltimtoday.co - Para ilmuwan dan peneliti iklim menyampaikan peringatan terkait potensi dampak fenomena iklim El Nino berskala raksasa atau El Nino Godzilla yang diprediksi memicu lebih dari 450.000 kematian di seluruh dunia.

Berdasarkan analisis terbaru dari Climate Impact Lab (CIL), fenomena cuaca ekstrem berupa lonjakan suhu panas dan badai besar ini dinilai berisiko memicu ratusan ribu kematian berlebih (excess deaths).

Perwakilan riset CIL menyebut mayoritas korban disebabkan oleh paparan suhu panas ekstrem seiring kenaikan suhu global sekitar 1,2 derajat Celsius dalam beberapa bulan mendatang.

"Kami memproyeksikan sebanyak 451.000 jiwa melayang akibat paparan suhu panas pada sembilan bulan pertama (Juni–Februari) periode El Nino ini jika dibandingkan dengan tahun normal," ungkap perwakilan riset Climate Impact Lab dikutip Daily Star, Minggu (27/9/2026).

Laporan riset tersebut menambahkan bahwa angka fatalitas diperkirakan masih akan terus meningkat karena dampak suhu tinggi diperkirakan bertahan hingga pertengahan tahun.

"Dengan perkiraan bahwa El Nino akan bertahan hingga musim semi 2027, kami memperkirakan angka-angka ini akan terus meningkat, terutama karena dampak suhu tinggi dan kematian akibat panas masih akan berlanjut hingga Juni dan Juli," bunyi laporan tersebut.

Laporan CIL menegaskan ancaman kematian berlebih ini tidak tersebar secara merata, dengan negara-negara di belahan bumi selatan atau Global South diprediksi menanggung beban terberat.

Wilayah Afrika Barat dan Afrika Tengah tercatat sebagai kawasan yang paling terdampak, dengan Nigeria diproyeksikan mencatatkan 31.400 kematian berlebih sepanjang September hingga Februari.

Lonjakan angka kematian akibat gelombang panas tersebut juga membayangi Sudan dengan perkiraan 17.500 kematian, Niger sebanyak 10.000 kematian, serta Chad dengan 8.000 kematian.

Kawasan Asia Tenggara turut masuk dalam zona merah ancaman gelombang panas dengan proyeksi puluhan ribu korban jiwa.

Khusus di Indonesia, dampak cuaca panas terik diprediksi memicu tambahan 19.300 kematian berlebih jika dibandingkan dengan kondisi tahun normal.

Proyeksi tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara di Asia dengan tingkat kerentanan tertinggi, berada di atas India dengan potensi 15.800 kematian dan Brasil sebanyak 13.300 kematian.

Sementara itu, gabungan negara tetangga di Asia Tenggara yakni Filipina, Vietnam, Thailand, dan Kamboja diperkirakan menanggung total 19.400 kematian berlebih.

Atas temuan tersebut, para ahli mendesak pemerintah di negara-negara terdampak untuk segera memperkuat infrastruktur kesehatan masyarakat serta menyiapkan langkah mitigasi antisipasi gelombang panas hingga 2027.

[TOS]



Berita Lainnya