Pendidikan
970 Papan Digital Sudah Tersalurkan di Kukar, Guru Didorong Tak Sekadar Pakai untuk Presentasi
Kaltimtoday.co, Kukar - Ribuan papan interaktif digital (PID) telah disalurkan ke sekolah-sekolah di Kalimantan Timur. Namun, keberadaan perangkat tersebut belum otomatis membuat pembelajaran di kelas menjadi lebih interaktif.
Di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), sekitar 970 unit PID telah tersalurkan. Tantangan berikutnya adalah memastikan perangkat tersebut benar-benar digunakan guru untuk mengembangkan metode pembelajaran, bukan sekadar menjadi pengganti proyektor atau media presentasi.
Kepala Balai Guru dan Tenaga Kependidikan Kalimantan Timur, Wiwik Setiawati, mengatakan pemanfaatan PID masih perlu diperkuat melalui peningkatan kompetensi guru.
“Yang menjadi tantangan di sekolah adalah apakah PID tersebut dimanfaatkan sesuai yang kita harapkan. Dengan adanya workshop hari ini tentu akan memberikan wawasan dan memperkaya guru-guru dalam pemanfaatan PID sehingga bukan hanya menjadi pajangan atau hanya dimanfaatkan untuk kuis,” kata Wiwik.
Hal itu disampaikan Wiwik saat menghadiri workshop guru bertajuk From Smart Board to Smart Learning yang digelar Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui program pengabdian kepada masyarakat di Kutai Kartanegara.
Workshop tersebut diikuti sekitar 120 guru dan kepala sekolah. Pelatihan difokuskan pada pemanfaatan teknologi digital, khususnya PID, untuk menciptakan pembelajaran yang lebih interaktif.
Wiwik menyebut pemerintah pada 2025 telah menyalurkan sekitar 3.900 unit PID ke sekolah-sekolah di Kaltim. Setiap sekolah mendapatkan sedikitnya satu perangkat, baik sekolah negeri maupun swasta.
“Kemudian ke depan juga ingin menambah dua unit lagi untuk setiap sekolah,” ujarnya.
Menurut Wiwik, penambahan perangkat harus berjalan beriringan dengan peningkatan kemampuan guru. Sebab, teknologi yang tersedia di sekolah tidak akan banyak memberikan dampak apabila hanya digunakan untuk kebutuhan dasar.
“Sebagian masih menggunakan PowerPoint atau langsung mengakses YouTube dan Google. Padahal bagaimana menciptakan pembelajaran interaktif dengan memanfaatkan PID itu yang perlu terus didukung,” katanya.
Karena itu, dia menilai workshop yang digelar ITB dapat menjadi salah satu cara memperluas kemampuan guru dalam memanfaatkan perangkat yang sudah tersedia.
“Tadi kita lihat materi yang disampaikan sangat sesuai dengan kebutuhan guru. Semoga dari 120 guru yang mengikuti kegiatan ini semuanya bisa mengimplementasikan dan bahkan menularkannya kepada rekan sejawat sehingga dampaknya dapat dirasakan oleh peserta didik,” ujarnya.
Selain pemanfaatan PID, perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga menjadi bagian dari pembahasan mengenai transformasi pembelajaran.
Anggota Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, mengatakan AI dapat dimanfaatkan guru sebagai alat bantu untuk membuat proses belajar lebih menarik dan partisipatif.
“AI sekarang sebenarnya bisa digunakan sebagai asisten guru. Karena AI berkembang begitu pesat, maka kita harus terus meningkatkan dan mengasah keterampilan menggunakannya sebagai asisten dalam proses pembelajaran,” kata Hetifah.
Menurut dia, AI selama ini masih kerap dilihat dari sisi risikonya, seperti plagiarisme dan kekhawatiran terhadap kemampuan berpikir siswa. Padahal, teknologi tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas belajar.
“AI bisa digunakan untuk menciptakan berbagai konten yang meningkatkan kerja sama, meningkatkan partisipasi, dan membuat pembelajaran lebih interaktif,” ujarnya.
Hetifah menekankan penggunaan teknologi tidak berarti menghilangkan peran guru dalam proses pembelajaran.
“Guru-guru jangan khawatir bahwa fungsinya akan tergantikan oleh AI. Guru yang tidak menggunakan AI tidak akan bisa menyaingi guru yang menggunakan AI. Guru yang menggunakan AI akan lebih disukai oleh anak-anak,” katanya.
Menurut Hetifah, penguatan kemampuan guru dan pemanfaatan teknologi juga penting bagi Kukar yang berada di sekitar kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Dengan pembangunan IKN yang diarahkan sebagai kota cerdas, dia menilai peningkatan kualitas sumber daya manusia di daerah sekitar menjadi bagian penting agar Kaltim dapat berkontribusi terhadap perkembangan kawasan tersebut.
“Dengan adanya IKN yang akan menjadi smart city, maka Kutai Kartanegara harus memberikan yang terbaik untuk bisa berkontribusi terhadap pengembangan Kalimantan Timur dan IKN,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua pelaksana kegiatan sekaligus dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, Dr. Intan Rizky Mutiaz, mengatakan keberadaan teknologi tidak otomatis menentukan kualitas pembelajaran.
Menurut dia, guru tetap menjadi faktor utama dalam menentukan bagaimana perangkat digital digunakan di ruang kelas.
“Smartphone adalah alat, tetapi guru yang membuat teknologi menjadi bermakna untuk pembelajaran. Itulah semangat dari kegiatan pengabdian masyarakat ITB hari ini,” kata Intan.
Kegiatan tersebut melibatkan dosen dan mahasiswa program magister Desain Komunikasi Visual ITB. Sejumlah mahasiswa asal Kaltim yang sedang menempuh pendidikan melalui program beasiswa juga dilibatkan dalam kegiatan tersebut.
Intan mengatakan keterlibatan mahasiswa asal Kaltim menjadi bagian dari upaya membawa pengetahuan yang mereka dapatkan di perguruan tinggi kembali ke daerah asal.
“Saya mengajak mahasiswa saya sebagai agen perubahan. Mereka berasal dari Kalimantan Timur dan ingin berbaur serta berbagi ilmu di daerahnya sendiri. Ini bagian dari semangat memajukan Kalimantan Timur melalui pendidikan,” ujarnya.
Dia berharap workshop tersebut tidak berhenti pada materi yang disampaikan selama kegiatan. Guru diharapkan mencoba langsung metode yang diperoleh ketika kembali ke kelas.
“Mungkin workshop ini hanya berlangsung beberapa jam. Tetapi satu ide yang dibawa pulang, satu metode baru yang dicoba di kelas, bisa memberikan pengalaman berbeda bagi puluhan bahkan ratusan anak,” katanya.
Intan mengatakan ukuran keberhasilan program pengabdian masyarakat bukan sekadar jumlah peserta yang mengikuti kegiatan, tetapi sejauh mana pengetahuan yang diberikan menghasilkan perubahan di masyarakat.
“Pengabdian masyarakat sesungguhnya adalah keberdampakan yang dirasakan langsung. Mari kita belajar, mencoba, dan membuat perubahan bersama untuk anak Indonesia,” pungkasnya.
[RWT | ADV]








