DISDIKBUD BONTANG

Dampingi Anak Inklusi, SDN 013 Bontang Selatan Terapkan Pendekatan Personal

Fitriwahyuningsih — Kaltim Today 04 Mei 2026 12:06
Dampingi Anak Inklusi, SDN 013 Bontang Selatan Terapkan Pendekatan Personal
Kepala SDN 013 Bontang Selatan, Yuningsih. (Fitri Wahyuningsih/Kaltim Today).

BONTANG, Kaltimtoday.co - SD Negeri 013 Bontang Selatan terus berupaya menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi seluruh siswa, termasuk anak berkebutuhan khusus atau inklusi.

Kepala SDN 013 Bontang Selatan, Yuningsih, mengatakan sekolah tetap membuka peluang bagi siswa inklusi untuk bersekolah di sekolah umum, meski penerimaannya harus melalui asesmen psikolog terlebih dahulu.

“Karena kami juga harus melihat apakah anak memang bisa mengikuti pembelajaran di sekolah umum atau perlu di sekolah khusus. Kami bukan sekolah khusus, jadi tetap harus ada asesmen dari psikolog,” ujarnya ketika ditemui di kantornya belum lama ini.

Saat ini, sekolah memiliki satu siswa inklusi yang duduk di kelas 6. Menurut Yuningsih, pendekatan yang dilakukan sekolah tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga bagaimana membuat siswa merasa diterima dan percaya diri di lingkungan sekolah.

Ia menjelaskan, kemampuan akademik anak inklusi memang tidak bisa disamakan dengan siswa lainnya. Karena itu, sekolah menyesuaikan metode dan target pembelajaran sesuai kemampuan masing-masing anak.

“Grade pembelajarannya kita sesuaikan dengan kemampuannya. Jadi tidak bisa dipaksakan sama dengan anak-anak pada umumnya,” jelasnya.

Selain penyesuaian pembelajaran, sekolah juga memberikan pemahaman kepada siswa lain agar menghormati dan mendukung teman inklusi mereka. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah terjadinya perundungan di lingkungan sekolah.

“Kita sampaikan ke anak-anak kalau teman mereka memang berbeda, tapi punya kelebihan juga. Jadi harus saling menghormati dan menghargai supaya anak tetap nyaman sekolah,” katanya.

Yuningsih mengaku pendekatan emosional menjadi salah satu cara penting dalam mendampingi anak inklusi. Ia bahkan sempat secara langsung melakukan pendekatan kepada siswa yang awalnya tidak mau berbicara maupun berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

“Dulu anaknya sama sekali tidak mau ngomong. Jadi kami dekati pelan-pelan, diajak komunikasi,” ungkapnya.

Perubahan positif kemudian mulai terlihat setelah sekolah melakukan pendampingan intensif dan membawa siswa tersebut menjalani pemeriksaan psikologis.

“Sekarang sudah jauh berbeda. Dia sudah berani komunikasi, bermain dengan teman-temannya, ke perpustakaan, bahkan menyambut guru dan membukakan pintu,” bebernya.

Menurut Yuningsih, perkembangan tersebut menjadi pencapaian tersendiri bagi sekolah. Sebab, yang paling utama bukan hanya soal akademik, tetapi bagaimana anak memiliki rasa percaya diri dan merasa aman berada di lingkungan sekolah.

“Setidaknya sekarang dia sudah punya rasa percaya diri dan mau berinteraksi dengan lingkungan,” tandasnya.

[ADV DISDIKBUD BONTANG]



Berita Lainnya