Kaltim
Pulau Kedindingan, ‘’Benteng Terakhir’’ Bontang yang Dipertaruhkan
Apa yang dipertaruhkan ketika kawasan yang dipulihkan selama belasan tahun itu mulai dilirik sebagai destinasi wisata baru?
SETELAH MEMBELAH lautan sekitar 40 menit dari Dermaga Bontang Kuala, kapal speed bermesin ganda yang dinahkodai Abdul Malik (52) melaju ke Pulau Kedindingan. Dari kejauhan, lamat-lamat terlihat siluet pulau tak berpenghuni itu.
Namun, sekitar 600 meter dari bibir pulau, Malik mematikan mesin kapal. Perairan di depan terlalu dangkal untuk dilalui. Ia juga tak mau memaksakan, khawatir biota laut di perairan pulau itu rusak karena baling-baling kapal.
"Sudah terlalu dangkal, tidak bisa kapal lewat," ujarnya saat menemani saya melihat Pulau Kedindingan, Jumat (26/6/2026) pagi.
Sehari sebelumnya, Malik sebenarnya sudah mengingatkan bahwa laut di sekitar pulau biasanya surut pada pagi hari. Tetapi karena cuaca yang belakangan sulit diprediksi, terutama di laut-- juga karena diburu deadline-- membuat saya harus melakukan perjalanan ini secepatnya. Tidak menunda-nunda.
Untuk mendekatkan kapal, Malik menggunakan sebatang bambu yang panjangnya sekitar 2,5 meter. Ujung bambu itu ditancapkan ke dasar laut berpasir, lalu didorong perlahan agar kapal terus bergerak. Meski begitu, kami tetap tak bisa mencapai ujung pulau. Kapal akhirnya berhenti sekitar 450 meter dari pulau itu.
Dari jarak itu, bentang alam Pulau Kedindingan terlihat jelas.
Hutan mangrove tumbuh rapat menyelimuti hampir seluruh daratan pulau. Sementara laut yang tenang dan jernih memperlihatkan isi dasar perairannya hingga ke detil terkecil.
Hamparan pasir putih. Bintang laut aneka warna. Gugusan terumbu karang dengan bentuk beragam. Ada serupa bunga yang mekar, ada yang mirip lekukan otak manusia.
Namun dari semua pemandangan dasar laut itu, ada satu yang paling mendominasi: padang lamun. Ia menyebar di penjuru lautan Pulau Kedindingan yang pagi itu sangat dangkal.
Pulau inilah, yang jaraknya sekitar 2,5 kilometer dari ikon wisata Bontang, Pulau Beras Basah, diwacanakan jadi wisata baru oleh Pemkot Bontang. Tak main-main, Pemkot bahkan bercita-cita menjadikannya seperti "Gili Trawangan" di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Namun persoalannya, Pulau Kedindingan bukan sekadar pulau tak berpenghuni. Ia adalah kawasan konservasi areal satu bersama Pulau Beras Basah.
Di kawasan yang melingkupinya hidup tiga ekosistem saling terkait; mangrove, padang lamun, dan terumbu karang. Ketiganya penting untuk menopang pesisir Bontang.
Perairan Pulau Kedindingan juga pernah mengalami masa-masa kelam. Ekosistemnya sempat rusak akibat praktik bom ikan.
Sudah lebih sedekade nelayan dibantu perusahaan setempat memperbaikinya. Dan proses itu masih berlangsung hingga kini.
"Kalau memang mau dijadikan kawasan wisata, pemerintah bisa jamin kah ekosistem Pulau Kedindingan dan perairannya terjaga?," kata Malik.
Pria yang bermukim di Bontang Kuala itu adalah salah satu nelayan yang aktif melakukan konservasi terumbu karang di perairan Pulau Kedindingan, Tobok Batang.
“Benteng Terakhir” Itu Bernama Pulau Kedindingan
BAGI ORANG lain, pilihan mendorong kapal menggunakan bambu ketika kapal memasuki perairan dangkal pulau mungkin terbilang sepele. Tapi ini tidak berlaku bagi Malik. Sebab, dia bersama puluhan nelayan lain sudah bertahun-tahun melakukan kerja-kerja konservasi di sekitar perairan Pulau Kedindingan. Mereka mafhum benar, kerusakan di salah satu ekosistem di perairan, bisa berdampak pada ekosistem lainnya.
Banyak orang, termasuk warga Bontang sendiri tak tahu soal Pulau Kedindingan. Ini tidak mengherankan, sebab ia memang bukan kawasan wisata seperti tetangganya, Pulau Beras Basah.
Pada 2021, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI menetapkan empat kawasan konservasi laut di Bontang. Keempatnya meliputi Pulau Kedindingan, Pulau Beras Basah, Pulau Segajah dan Melahing. Total kawasan konservasi itu mencapai 867,39 hektar.
Kawasan konservasi itu kemudian dibagi dalam dua bagian. Pertama, zona inti seluas 541,64 hektar. Ini meliputi Pulau Kedindingan, Pulau Beras Basah dan perairan sekitarnya. Jarak antara kedua pulau ini sekitar 2,5 kilometer.
Zona satu atau zona Inti adalah area yang dilindungi secara penuh dan dilarang untuk kegiatan manusia, seperti memancing apalagi wisata. Area ini berfungsi sebagai tempat aman bagi ikan untuk tumbuh, bertelur, dan berkembang.
Namun jauh sebelum penetapan itu, Pulau Beras Basah lebih sudah menjadi ikon wisata Bontang. Sementara Pulau Kedindingan, tidak. Hanya pemancing dan nelayan setempat umumnya melintasi perairannya.
Kemudian areal dua atau zona pemanfaatan meliputi Pulau Segajah dan Melahing seluas 326,75 hektar. Di zona dua ini, aktivitas warga diperkenankan, tapi terbatas. Aktivitas diperkenankan seperti pariwisata, penelitian, dan perikanan tradisional yang menggunakan peralatan yang aman bagi lingkungan.
Dari keempat kawasan konservasi itu, hanya Pulau Kedindingan terbilang masih alami kondisi alamnya.
Pulau Beras Basah, misanya. Jauh sebelum penetapan kawasan konservasi oleh KKP RI, ia sudah jadi ikon wisata Bontang. Setiap tahunnya orang ribuan orang menyambangi pulau yang tersohor dengan pasir putihnya itu.
Pulau Segajah pun demikian. Dalam beberapa tahun terakhir, ia menjadi spot andalan wisatawan yang ingin menikmati keindahan maritim Bontang. Baik dalam maupun dari luar kota. Pelaku wisata lokal pun umumnya memasukkannya dalam satu paket perjalanan bersama Pulau Beras Basah dan Pondok Pasilan. Jarak Segajah dan Kedindingan sekitar 7,3 km.
Sebagai tambahan, Pulau Segajah tidak setiap waktu bisa disambangi. Daratannya terlihat hanya ketika air laut surut. Dan ketika pasang, seluruh daratannya yang dihiasi pasir putih habis diselimuti air laut.
Melahing pun sama, merupakan destinasi wisata. Berjarak sekitar 4,5 km dari Kedindingan, Melahing sebetulnya merupakan perkampungan atas laut yang terpisah dari dataran utama Bontang. Ia benar-benar mengapung di tengah lautan. Inilah yang menjadi keunikannya.
Dilansir dari Harian Kompas, Kampung Malahing disebut bermula pada 1999. Kampung apung ini didirikan oleh nelayan asal Mamuju, Sulawesi Barat, bernama Nasir Lakada bersama kakaknya. Kala itu, mereka berlayar menuju Bontang dan membangun sebuah pondok sederhana di atas laut sebagai tempat beristirahat.
Seiring berjalannya waktu, wilayah ini menjadi tempat tinggal bagi para nelayan pendatang lainnya yang ikut membangun rumah apung.
Kondisi inilah yang membuat Pulau Kedindingan jadi satu-satunya kawasan konservasi di Bontang yang terbilang alami dan benar-benar menjalankan fungsinya sebagai kawasan konservasi. Bukan dicampur-campur; wisata-konservasi.
Bila dilihat dari udara, pulau yang masuk wilayah administratif Kecamatan Bontang Lestari ini memiliki bentuk serupa kacamata.
Dataran utama pulau tak berpenghuni ini tak bisa dibilang dataran utuh. Sebab sejatinya, datarannya itu perpaduan antara lumpur hitam dengan akar-akar mangrove yang tumbuh rapat dan menjalar ke penjuru pulau.
Di tengah-tengah pulau, ada semacam lorong yang memisahkan dua daratan yang diselimuti mangrove. Dari jarak sekitar 450 meter, mangrove berjenis rhizophora muncorata banyak tumbuh mengelilingi pulau. Mangrove jenis ini memang jamak ditemui di pesisir Bontang.
Pulau ini nampak seperti halaman depan Bontang. Sebab, letaknya berada di garis terluar gugusan pulau-pulau pesisir yang menghadap langsung ke Selat Makassar.
Sebelum gelombang dan arus laut mencapai kampung-kampung pesisir Bontang, Pulau Kedindingan menjadi benteng pertama yang berhadapan dengan laut terbuka.
Di sekelilingnya terbentang ekosistem mangrove, padang lamun, dan terumbu karang yang saling terhubung, membentuk lapisan perlindungan alami bagi wilayah pesisir di belakangnya.
Bagi pegiat konservasi di kota ini, Pulau Kedindingan kerap disebut sebagai “benteng terakhir” Bontang. Julukan itu merujuk pada letaknya yang berada di bagian terluar wilayah pesisir kota dan langsung berhadapan dengan Selat Makassar.
Di pulau ini, tiga ekosistem pesisir (mangrove, lamun, dan terumbu karang) hidup saling terhubung. Keterkaitan ketiganya memperkuat peran Pulau Kedindingan sebagai pelindung alami bagi Bontang.
Hutan mangrove menahan abrasi di garis pantai. Padang lamun membantu meredam energi gelombang dan menstabilkan sedimen. Sementara terumbu karang menjadi penghalang pertama yang memecah hantaman ombak dari laut lepas.
Ketiga ekosistem tersebut membentuk benteng alami yang menjaga pesisir Bontang dari gelombang Selat Makassar sekaligus menopang kehidupan berbagai biota laut di sekitarnya.
Kawasan inilah diwacanakan jadi destinasi wisata baru di Bontang. Wacana itu hadir pertengahan 2025. Kala itu, Pemkot Bontang menyebut akan mengembangkan Pulau Kedindingan menyerupai Gili Trawangan di Lombok.
Selain untuk mendorong pertumbuhan PAD, Pulau Kedindingan diusulkan menjadi sentral Tempat Hiburan Malam (THM) di Bontang. Menurut Wakil Wali Kota Agus Haris, rencana tersebut masih akan dikaji secara ilmiah sebelum direalisasikan.
Perairan Pulau Kedindingan dan Masa Kelamnya
PERTAMA KALI Jusman menyadari ada yang tidak beres dengan perairan Pulau Kedindingan, tepatnya di Tobok Batang ialah pada 2009.
Kala itu, ia masih berprofesi sebagai nelayan dan pengepul ikan hias. Seperti hari-hari biasa, Jusman mencari ikan hias di sekitar Tobok Batang. Ikan hias tangkapannya rencana dijual ke toko yang menyediakan berbagai kebutuhan untuk aquarium di Bontang.
Di bawah terik matahari yang menusuk kulit siang itu, Jusman menyelam ke dasar Tobok Batang hanya menggunakan peralatan sederhana; kacamata dan snorkel. Tak ada peralatan modern lain, katakanlah tabung oksigen. Keselamatan dan keamanan bukan hal yang dipikirkannya saat itu. Yang penting, ia bisa membawa pulang ikan sebanyak mungkin.
Pada kedalaman lima hingga enam meter itulah pandangannya tersentak. Seketika langkahnya ikut terhenti.
Terumbu karang berserak di dasar laut. Hancur seperti puing-puing pecahan gelas di lantai.
Banyak juga yang telah memutih (coral bleaching). Pemutihan koral ini adalah kondisi ketika karang laut kehilangan warnanya dan berubah menjadi putih pucat karena stres akibat perubahan lingkungan. Sebagian lainnya patah dan terbalik. Kawasan yang selama ini akrab baginya tampak seperti baru saja diamuk bencana.
"Kalau diingat, kehancurannya parah waktu itu. Kalau dipresentasikan, mungkin dari 100 persen, cuma 25 persen saja yang bagus. Saking rusaknya," kata pria yang bermukim di Bontang sejak 1998 ini.
Jusman tahu betul penyebab kerusakan itu. Melihat pola kehancurannya saja, ia bisa menerka kerusakan itu akibat ulah manusia. Di dasar laut, ada semacam lubang di menyebar beberapa titik dekat karang.
Praktik menangkap ikan menggunakan bom kala itu memang masih jamak dilakukan nelayan pesisir Bontang. Bukan hanya karena disengaja, juga karena mereka masih tidak paham konsekuensi dari tindakan itu. Ekosistem bisa rusak, juga jerat hukum yang bisa mengintai mereka.
Pola illegal fishing lainnya juga masih umum dilakukan, katakanlah penggunaan jaring troll dan racun.
Belum lagi jangkar kapal yang kerap dilepas serampangan hingga merusak terumbu karang. Perairan Bontang kerap dilintasi kapal besar menuju atau berlayar dari pabrik-pabrik yang berbasis di kota ini.
Pada masa itu, banyak nelayan memandang laut seolah sebagai sumber yang tak ada habisnya. Bagi mereka, pergi ke laut artinya mencari hasil tangkapan sebanyak-banyaknya.
Mereka tidak peduli bagaimanapun caranya. Tak peduli apakah cara mereka merusak lingkungan atau tidak.
"Bisa dibilang kami-kami ini dulunya pelaku (perusak ekosistem laut), karena kami tidak paham. Makanya, kan, nelayan mikirnya saat itu, kalau bisa kami habiskan, kami habiskan semua," cerita Jusman, ketika disambangi di kediamannya di BTN Terapung, Kampung Nelayan Selambai, Lok Tuan, Bontang, Selasa (23/6/2026) siang.
Pemandangan terumbu yang rusak dan tercecer di dasar laut sebetulnya bukan hal baru bagi Jusman. Sebab Tobok Batang akrab baginya. Di sana ia kerap menangkap ikan dan menyelam.
Namun hari itu berbeda. Ada yang mengganggu batinnya.
Biasanya ia pulang melaut dengan satu pikiran, bagaimana menjual hasil tangkapan secepat mungkin. Kali ini pulang membawa sesuatu yang mengganggu pikirannya. Ada kegelisahan menggelayut.
Hari-hari selanjutnya, berbeda. Jusman dan lima kawannya sesama nelayan tak sekadar datang ke Tobok Batang untuk mencari ikan hias. Mereka datang untuk memperbaiki apa yang sudah rusak.
Pecahan-pecahan karang yang berserakan di dasar laut satu-satu mereka pungut. Karang-karang itu ditancapkan kembali di dasar perairan. Acak saja. Ada dekat induk karang. Ada yang berjauhan.
Aksi ini mereka lakukan sekadarnya. Tidak ada pelatihan. Tidak ada panduan. Semua hanya berbekal niatan baik dan keyakinan sederhana bahwa karang didirikan itu mungkin bisa hidup lagi.
Tapi hasilnya jauh sesuai harapan. Banyak karang yang coba mereka perbaiki tidak hidup lagi. Yang ada, terumbu karang itu tersapu arus laut.
Belakangan Jusman menyadari, memperbaiki terumbu karang memang butuh niat baik. Namun, itu tidak cukup.
Memperbaiki terumbu karang tidak mudah dan sembarangan. Banyak yang dibutuhkan. Pengetahuan. Keterampilan. Peralatan. Konsistensi jangka panjang. Ongkos tak sedikit. Hingga riset berkesinambungan.
Dan tidak kalah penting dari itu semua adalah gerakan kolektif. Tidak bisa hanya Jusman dan lima kawannya saja bergerak. Ini mesti jadi gerakan bersama seluruh warga kota.
"Saat itu kami, kan, tidak tahu bagaimana melakukan penyelamatan karang. Kalau turun ke bawah (menyelam) kami tancap saja di tanah. Padahal tidak begitu caranya. Tidak efektif," akunya.
"Niatan baik itu perlu. Tapi kalau mau konservasi terumbu karang, ada lebih banyak diperlukan. Selain berbiaya besar, ada keterampilan, ada ilmunya. Harus semua bergerak."
Bertahun kemudian, tepatnya pada 2017, PT Pupuk Kalimantan Timur mendengar aktivitas Jusman dan kawannya. PT Pupuk Kalimantan Timur, biasa disebut Pupuk Kaltim atau PKT, adalah perusahaan pupuk di bawah payung Pupuk Indonesia Holding Grup. Berdiri sejak Desember 1977, perusahaan ini berbasis di Bontang, Kalimantan Timur. Ia bersisian langsung dengan Kampung Nelayan Selambai dan BTN Terapung, kawasan rumah Jusman.
Perusahaan itu mengajak Jusman dan nelayan setempat berkolaborasi dalam program rehabilitasi terumbu karang di kawasan Tobok Batang. Luasan yang akan dikonservasi sekitar 10 hektar.
Adapun berdasar laporan DPKP Bontang pada 2015, sebagaimana dikutip dari laporan berjudul "Memupuk Ladang Terumbu Karang" yang diterbitkan Pupuk Kaltim pada, dari 5.464 hektar luasan wilayah terumbu karang di perairan Bontang, lebih dari 2.500 hektar mengalami kerusakan.
Kolaborasi itu juga menandai terbentuknya Kelompok Nelayan Kimasea. Ia diketuai Jusman dan beranggotakan 10 nelayan dari RT 10 Kelurahan Lok Tuan.
Momen ini seolah jadi titik balik bagi dirinya. Setelah bertahun-tahun melakukan perbaikan secara mandiri dan apa adanya, kini mereka mendapat pendampingan, pengetahuan, dan arah yang lebih jelas.
***
MANTAN PELAKU bom ikan. Begitulah Yusta memperkenalkan dirinya.
Cuaca di kampung atas laut Bontang Kuala sore itu cukup sejuk. Gulungan awan hitam menggantung di langit, pertanda hujan sepertinya akan turun-- dan dua jam selanjutnya, rupanya hujan tak kunjung turun. Dari kejauhan, bunyi mesin ketinting membelah lautan sesekali terdengar.
Di sanalah saya bertemu dengan Ketua Kelompok Konservasi Terumbu Karang (Karaka) Bontang Kuala, Yusta.
"Pertama-tama perkenalkan saya Yusta. Bisa dibilang saya sendiri dulunya mantan pelaku illegal fishing," ujarnya.
Pengakuan itu disampaikan tanpa tedeng aling-aling.
Ketika kecil hingga remaja, Yusta yang juga tinggal di Bontang Kuala kerap menggunakan bom ketika melaut. Metode ini digunakan karena ikan yang didapat bisa lebih banyak dan cepat.
Penggunaan bom ikan untuk melaut dulunya seperti turun temurun dilakukan nelayan di Bontang Kuala. Anak-anak melihat orang tua melakukannya, lalu tumbuh dengan menganggap cara itu sebagai hal biasa.
Warga pesisir seperti mereka kala itu memang tidak memiliki pemahaman soal bahaya penggunaan metode tangkap destruktif itu.
"Bisa dibilang pelaku bom ikan terkenalnya banyak dari Bontang Kuala. Kami dulu tidak paham akibatnya. Tahunya cari ikan banyak saja di laut," akunya.
Salah satu kawasan langganan bom ikan ialah Tobok Batang. Kawasan ini masuk dalam perairan Pulau Kedindingan. Dari Dermaga Bontang Kuala, ia bisa ditempuh dalam 35-40 menit perjalanan menggunakan kapal speed.
Dari Dermaga Bontang Kuala, dibutuhkan waktu sekitar 35-40 menit menggunakan kapal speed untuk tiba ke Pulau Kedindingan dan perairan sekitarnya. (Fitri Wahyuningsih/Kaltim Today)
Tobok Batang kerap menjadi sasaran illegal fishing karena ia merupakan titik terbaik mencari ikan di Bontang. Berbagai hasil laut, khususnya ikan dari famili Siganidae seperti baronang, hingga ikan yang belakangan identik dengan Bontang, bawis, banyak hidup di sana.
Ini sebenarnya tidak mengherankan. Pasalnya di Pulau Kedindingan hidup tiga ekosistem yang saling terkait: mangrove, padang lamun, dan terumbu karang. Ketiganya menjadi rumah dan tempat tumbuh kembang ikan.
Seiring bertambah usia, Yusta mulai jarang melaut. Sejak 2007 ia bekerja di Kantor Kelurahan Bontang Kuala. Namun kehidupan di lautan tak pernah benar-benar hilang dari dirinya.
Dari berbagai sosialisasi dan diskusi yang diikuti, Yusta mulai memahami dampak ditimbulkan dari illegal fishing, utamanya bom ikan. Ledakannya boleh jadi sebentar. Mungkin dalam hitungan detik.
Namun, dampak yang ditimbulkan tidak sepele.
Terumbu karang misalnya. Ia bisa langsung hancur dalam sepersekian detik ledakan itu. Sementara untuk memulihkannya, butuh puluhan tahun.
Perubahan cara pandang itu semakin kuat ketika ia mendengar keluhan kawan dan keluarga yang berprofesi nelayan.
Banyak di antara mereka mengaku hasil tangkapan tak lagi seperti dulu. Lokasi mencari ikan terus bergeser semakin jauh.
Jika sebelumnya cukup melaut di sekitar perairan Bontang, kini sebagian nelayan harus berlayar hingga ke perairan Kutai Kartanegara dan Kutai Timur.
"Dari zaman nenek saya sudah ngebom ikan. Dari dulu juga merusak terumbu karang tapi ikan masih ada," kata Yusta, mengingat ucapan seorang nelayan yang pernah diajak berdiskusi.
"Ya memang masih dapat ikan. Tapi yang tidak mereka sadari, dulu cari ikan dekat-dekat saja. Sekarang makin jauh, sampai perairan Kukar, Kutim. Melaut jauh, anak dan istri ditinggal."
Perubahan itulah yang membuat Yusta mulai memandang laut secara berbeda.
Sebabnya, ketika mendengar ada sekelompok nelayan di Kampung Selambai melalui Kimasea pada 2018 berupaya memulihkan terumbu karang di Tobok Batang, ia merasa heran sekaligus tersentuh.
Dia terheran, mengapa nelayan di Selambai, yang secara geografis cukup jauh dari Tobok Batang, peduli dengan terumbu karang kawasan itu. Sementara warga Bontang Kuala yang lebih dekat, justru kurang peduli.
Sebagai gambaran. Jarak dari Kampung Nelayan Selambai, Kelurahan Lok Tuan, menuju Tobok Batang, dua kali lipat dari Kelurahan Bontang Kuala (BK). Jadi, bila warga BK butuh waktu 40 menit ke Tobok Batang, maka warga di Kampung Selambai butuh 1 jam 20 menit.
"Bagi orang Bontang Kuala, laut itu sudah seperti halaman rumah. Ketika membuka jendela, sudah laut yang dilihat. Apalagi Tobok Batang, sangat dekat. Kok kami sendiri tidak peduli, justru orang lain yang peduli," kata Yusta, nada suaranya meninggi di sini.
Sejak saat itulah dia mulai melibatkan diri dan belajar dari Kimasea soal konservasi terumbu karang.
Menanam Laut, Menanam Masa Depan
DUA EKOR ikan nemo berenang lincah di antara tentakel anemon yang menempel pada terumbu karang di dasar laut Tobok Batang. Dalam foto lain yang ditunjukkan Jusman, tampak deretan media tanam bentuk kubus berukuran 60x60x60x60 tersusun rapi di dasar perairan.
Kubus terbuat dari campuran semen dan pasir itu merupakan rumah baru bagi kehidupan bawah laut. Ini terlihat dari permukaannya yang semula polos kini mulai diselimuti anakan terumbu karang. Bentuk rangkanya yang tak lagi rata karena perlahan ditumbuhi organisme laut.
Di sela-sela rongga kubus, ikan-ikan berwarna cerah hilir mudik mencari perlindungan. Pemandangan itu berpadu dengan air laut Bontang yang terlihat kehijauan, membentuk lanskap bawah laut yang perlahan kembali hidup.
Inilah pemandangan dasar di kawasan perairan Pulau Kedindingan, Tobok Batang, yang hampir sedekade terakhir ini Jusman dan kawannya dari Kimasea konservasi. Jauh sebelum konservasi dilakukan, sulit rasanya mendapati pemandangan bawah laut yang memanjakan mata seperti itu.
Sembari membakar rokok kretek yang sedari tadi digenggamnya, Jusman coba mengingat kembali keterlibatannya dalam konservasi. Baginya, terlibat konservasi adalah bagian dari perjalanan hidup yang mengantarkannya dari kesadaran ke kesadaran lain dalam memandang arti penting laut untuk masa depan.
Pada 2017 adalah titik mula di mana ia fokus melakukan konservasi laut, terkhusus terumbu karang. Pada tahun yang sama, didirikan Kelompok Nelayan Kimasea di Kampung Nelayan Selambai, Lok Tuan.
Ketika pertama diajak berkolaborasi dengan Pupuk Kaltim, mereka tak langsung diminta menanam terumbu karang di dasar laut. Mereka lebih dulu dibekali berbagai pengetahuan dasar mengenai konservasi.
Seluruh anggota Kimasea yang saat itu berjumlah 12 orang mempelajari teknik transplantasi karang, cara membuat media tanam, metode pemantauan pertumbuhan karang, hingga penggunaan peralatan selam yang aman.
Mereka juga mengikuti sertifikasi menyelam sebelum diperbolehkan turun ke lokasi konservasi.
"Tahun pertama kami tidak langsung konservasi. Kami belajar dulu soal terumbu karang itu, tekniknya apa segala macam, membuat media tanamnya, sampai diikutikan sertifikasi. Tahun selanjutnya (2018) baru kami mulai turun ke bawah (dasar laut)," kenang Jusman.
Saat wawancara berlangsung di kediamannya di BTN Terapung, suara sepeda motor melintas di jalan yang semuanya terbuat dari kayu ulin sesekali memotong percakapan. Di kampung atas laut itu, Jusman lalu bercerita tentang salah satu hal yang paling mengubah pemahamannya.
Setelah terlibat konservasi, Jusman mengetahui terumbu karang rupanya bisa kembali hidup. Meski itu butuh waktu tak sebentar. Ada dua caranya, alami atau dengan transplantasi.
Namun, pertumbuhan itu bisa didorong bila ada substrat atau media tanam ditaruh di perairan untuk menjadi tempat hidup atau menempel organisme laut yang baru.
Selama bertahun-tahun, Jusman dan Kimasea telah bereksperimen dengan berbagai jenis material untuk media tanam.
Eksperimen ini dilakukan untuk memastikan material itu pas untuk merangsang pertumbuhan koloni karang yang baru serta ramah terhadap lingkungan.
Mereka sudah pernah mencoba pipa PVC, semen beton, ban mobil, besi, balok papan biasa, papan dan sebagainya. Dari berbagai eksperimen itu, semen beton dan besi dianggap paling pas merangsang hadirnya koloni karang baru.
Media berbahan beton dibuat dalam beragam bentuk, mulai dari kubus, segitiga, hingga dome. Komposisi campurannya pun beragam. Setidaknya ada lima formula yang pernah mereka uji.
Anggota Kimasea kala membuat media tanam konservasi terumbu karang. (Istimewa)
Salah satunya medium berkode FBC yang tersusun dari 50 persen BA, 25 persen koral, dan 25 persen pasir. Ada pula medium berkode FB yang terdiri atas 80 persen BA, 10 persen koral, dan 10 persen pasir.
Berdasarkan hasil pemantauan mereka, medium berkode FBC menunjukkan pertumbuhan karang paling cepat dibanding komposisi lainnya.
Kemudian untuk media tanam berbahan besi, umumnya ada dua jenis dibuat, dome dan meja.
Untuk media tanam berbentuk meja, ia memiliki panjang 1 meter 20 cm dengan ketinggian beragam. Mulai 10 cm, 20 cm, 30 cm, hingga setengah meter.
Bagian tengah rangka media tanam itu terdapat rongga berbentuk kotak. Pada tiap pertemuan rongga dipasang besi penyangga setinggi 13 cm yang menyembul ke atas. Besi itulah digunakan sebagai penyangga untuk mengikat fragmen karang hidup yang ditransplantasi.
Ketika media tanam rampung dibuat, saat hari cukup cerah barulah ia diturunkan ke dasar laut. Karena penurunan media tanam biasanya dilakukan sekaligus banyak, maka ia membutuhkan banyak kapal dan tenaga untuk pengerjaanya.
Proses penurunan media tanam pun tidak bisa sembarangan dilakukan. Harus berhati-hati. Ini untuk memastikan ia tak jatuh menimpa karang di bawahnya. Makanya ketika turun ke dasar laut membawa medium, selain menggunakan alat selam profesional, tubuh penyelam juga diikat dengan tali dari atas. Agar pendaratan bisa lebih mulus.
"Berat kan itu, jadi memang butuh banyak kapal dan anggota yang kerjakan," kata Jusman.
Saat mendarat di dasar laut, penempatan medium pun tak bisa dilakukan sembarangan. Salah satu yang menjadi pertimbangan utama adalah arah arus dan gelombang laut.
Jika arus dominan bergerak ke arah utara, medium akan ditempatkan di sisi utara koloni karang yang rusak. Tujuannya agar arus membawa telur karang menuju media yang telah dipasang sehingga mempercepat proses kolonisasi alami.
Kemudian media tanam berbentuk meja dan dome untuk karang transplantasi, ia juga ditempatkan dekat karang rusak.
Khusus untuk medium berbentuk meja, ia diletakkan berjajar membentuk formasi tangga. Ini dilakukan untuk melihat dari berbagai jenis ketinggian media tanam dipasang, mana paling efektif terhadap pertumbuhan karang. Sebab, pertumbuhan karang dipengaruhi banyak faktor, termasuk pasir, arus, hingga suhu laut.
Sebelumnya, nelayan telah mengambil cangkok atau fragmen karang hidup untuk ditransplantasi. Pada setiap batang penyangga yang dipasang di media tanam, kemudian diikat fragmen karang hidup menggunakan cable ties. Fragmen yang digunakan memiliki panjang sekitar 10 sentimeter dan diambil dari koloni karang sehat.
Adapun, jumlah fragmen karang yang diambil dibatasi. Dari satu koloni induk, hanya sekitar 10 persen yang boleh dipotong agar tidak mengganggu pertumbuhan induk karang.
Setiap tahun Kamasea menurunkan sekitar 500 media tanam di perairan Bontang.
Namun pekerjaan rehabilitasi terumbu karang tidak selesai dalam waktu singkat. Kawasan yang harus dipulihkan mencapai sekitar 10 hektare.
Ketika masa pendampingan perusahaan terhadap Kimasea berakhir pada 2022, masih banyak area yang membutuhkan penanganan. Karena itulah estafet konservasi kemudian dilanjutkan kelompok lain.
Pada Mei 2022, Kelompok Karaka didirikan untuk meneruskan pekerjaan yang telah dirintis Kimasea.
Kelompok yang dipimpin Yusta itu beranggotakan 10 orang nelayan. Yang menarik dari Karaka, sebagian besar anggota awalnya merupakan mantan pelaku illegal fishing.
Termasuk Yusta sendiri.
"Kami ambil datanya dari Polairud. Siapa saja yang pernah melakukan illegal fishing, kami ajak bergabung. Supaya mereka paham soal laut dan tersadarkan," ujar Yusta.
Awal mengajak nelayan gabung Karaka tidaklah mudah, kata Yusta. Banyak nelayan menganggap remeh inisiatif ini. Banyak juga menunjukkan resistensi.
Namun dia tak gentar. Ketika berbicara depan nelayan, yang sebetulnya orang-orang lama dikenalnya, Yusta menegaskan bila tak ada manfaat dirasakan anggota Karaka dalam dua tahun, dia siap mundur. Bahkan siap membubarkan kelompok ini.
"Saya enggak mau banyak omong. Saya bilang ‘Kalau dua tahun tidak ada manfaat, saya mundur. Bubarkan juga tidak apa-apa,"" kenangnya,
Yusta bilang, mengajak mantan pelaku illegal fishing dalam aktivitas konservasi merupakan bagian dari strategi. Menurutnya, bila konservasi dilakukan namun aktivitas illegal fishing seperti bom ikan masih terjadi, gerakan ini bisa berjalan lambat.
Perlahan tapi pasti, orang-orang yang dulunya mantan pelaku illegal fishing, mereka yang skeptis, bergabung ke Karaka.
Yusta saat mempresentasikan kegiatan Karaka. (Istimewa)
Dan rupanya, strategi Yusta ini terbilang berhasil. Selain konservasi berjalan, dengan pelibatan nelayan setempat, aktivitas bom ikan ikut turun. Nelayan pelan-pelan ikut teredukasi soal pentingnya menjaga laut, pentingnya menerapkan pola tangkap yang aman untuk lingkungan. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.
"Dulu hampir tiap hari orang bom ikan. Sekarang memang masih ada, tapi sangat jarang. Kalau pun ada, jelas itu bukan anggota kami," bebernya.
Yusta mengatakan dalam konservasi ini, sebagian besar tugas mereka ialah melanjutkan yang sudah dikerjakan Kimasea. Namun untuk membuat kedua kelompok ini berdaya, perusahaan pendamping mereka membagi kerja jadi dua: Kimasea memproduksi media tanam, Karaka menanam di laut.
Ada bermacam terumbu karang hidup di Bontang. Tapi untuk transplantasi, mereka lebih banyak mencangkok dari terumbu karang genus Acropora sp, atau lebih sering mereka sebut sebagai "Karang Jahe". Terumbu karang itu dipilih karena pertumbuhannya cepat dan dianggap cocok dengan perairan Bontang.
Terumbu karang genus Acropora sp atau lebih sering nelayan sebut sebagai "Karang Jahe". (Istimewa)
Selain itu, mereka juga melakukan pemantauan. Secara umum ini dilakukan untuk memantau pertumbuhan terumbu karang. Baik yang alami, maupun transplantasi. Pemantauan dilakukan saban 2-3 kali dalam sebulan.
Untuk terumbu karang transplantasi, ia dimonitor setidaknya tiga bulan setelahnya. Monitoring ini mencakup pengukuran karang, panjang dan lebarnya. Kemudian menganalisis karang dan lingkungan sekitarnya, apakah ia dihinggapi alga, bagaimana kondisi dan suhu di dasar laut.
Tiga bulan setelah ditransplantasi, bila terumbu karang berkembang, biasanya ia lebih tinggi 1-2 sentimeter dari ukuran awal dicangkok.
Setiap terumbu karang yang ditranplantasi diberi nomor agar memudakan saat dilakukan monitoring. (Istimewa)
Sementara untuk menandai terumbu karang gagal tumbuh, ia bisa ditandai dari warnanya yang memutih (bleaching) dan dihinggapi banyak lumut.
"Kami amati setiap pertumbuhan terumbu karang itu, kami catat dan dibantu tim riset perusahaan. Kami juga rutin pemantauan bersama," beber Yusta.
Dari aktivitas konservasi ini, banyak manfaat dirasakan nelayan. Baik secara materil atau dari sisi keberlangsungan lingkungan.
Dari sisi materil, khususnya nelayan yang terlibat konservasi, sumber penghasilan mereka kini tidak tunggal. Pertama, tentu dari laut. Mereka tetap melaut sembari menjalankan aktivitas konservasi.
Kedua, mereka mendapat upah dari aktivitas konservasi itu. Besaran upah tak dibeberkan Yusta. Tapi menurutnya, nilainya layak. Pendanaan sepenuhnya bersumber dari CSR perusahaan.
Kemudian, nelayan juga sudah tak terlalu jauh melaut. Sejak Karaka mulai terlibat pada 2022, setidaknya aktivitas konservasi ini sudah berjalan 13 tahun, perusahaan memulainya pada 2009. Hasil dari konservasi karang itu mulai terlihat. Luasan terumbu karang meluas. Ikan-ikan lebih mudah didapat.
"Sekarang sudah lebih bagus, mereka tidak jauh-jauh lagi melaut. Bahkan itu sudah terbukti dari kelompok kami sendiri. Kelompok kami sendiri yang melaksanakan kegiatan konservasi, mereka sudah merasakan sendiri," beber Yusta.
"Yang dulu mereka tidak terlalu baik dapat ikan, sekarang dengan ekosistem yang kami bangun dengan perbaikan rehabilitasi, ikan sudah makin banyak."
Ketika melaut dari pagi sampai sore, anggota Karaka bisa mendapat ikan dan cumi kisaran 30-40 kilogram. Itu didapat di perairan Bontang. Dahulu, mereka melaut jauh tapi dapatnya hanya 10-20 kilogram.
Cerita baik ini sebenarnya juga dilontarkan Jusman. Dia bilang dahulu nelayan di Selambai mesti melaut sampai ke perairan Kukar dan Kutim. Tinggakan rumah sampai 15 hari. Dari perjalanan berhari-hari itu, mereka memperoleh tangkapan sekitar 75-100 kilogram. Bila dirupiahkan, ia setara dengan Rp3 Juta hingga Rp5 juta.
Sekarang, mereka cukup melaut di dekat perairan Tobok Batang, menggunakan alat sederhana, tangkapannya sudah lumayan. Jusman membuktikan sendiri. Semalaman melaut menggunakan umpan-umpan kayu mengapung yang bentuknya serupa cumi (squid jig), dan menangkapnya menggunakan metode reel popping, ia bisa memperoleh 10-20 kilogram cumi.
"Sekarang kami bukan nelayan ikan lagi, tapi cumi. Nangkapnya mudah, pakai alat sederhana dan ramah lingkungan. Semalaman dapat banyak. Dan harga cumi, kan, juga lebih mahal dari ikan," kata Jusman.
Hal baik yang juga hadir dari aktivitas konservasi ini ialah angka pelaku bom ikan atau bentuk illegal fishing lainnya berkurang. Ini tak lain karena nelayan di pesisir mulai teredukasi.
"Dulu tiap hari ada orang bom ikan. Sekarang memang masih ada, tapi sangat jarang. Dan kalaupun itu ada, itu bukan anggota kami (Karaka)," ungkap Yusta.
Minimnya angka bom ikan kemudian berbanding lurus dengan upaya pemeliharaan ekosistem laut Bontang. Terumbu karang yang ditransplantasi di Tobok Batang bertumbuh dengan baik. Terumbu karang di luar kawasan itu kondisinya pun baik karena gangguannya tak sebanyak dulu. Misalnya di sekitar Pulau Beras Basah atau Pulau Segajah.
Terumbu karang yang ditanam di dasar laut memberi dampak beruntun lainnya. Jumlah wisatawan Bontang naik dua tahun terakhir. Sebagian besar pertumbuhan ini disumbang dari wisata maritim.
Bontang yang dulunya disambangi karena orang-orang ingin bekerja di pabrik, kini jadi alternatif bagi warga Kaltim untuk berwisata. Wisatawan dari sejumlah daerah di Kaltim, jumlahnya ribuan, datang ke kota ini karena ingin melihat keindahan maritimnya.
Destinasi andalan wisatawan biasanya Pulau Beras Basah, Pulau Segajah, Pondok Pasilan. Kemudian perkampungan atas laut Bontang Kuala, Melahing dan Tihi-Tihi.
"Kami jadi bisa antar wisatawan juga kalau mereka mau wisata lihat pulau atau mau snorkeling. Dulu berapa banyak sih orang mau berwisata di pesisir kita," ungkapnya. Ada antusiasme hadir dalam nada bicara Yusta.
Dari konservasi ini juga hadir spesies ikan baru. Setidaknya ada 6 spesies baru, baik ikan hias atau konsumsi kini ditemukan di Tobok Batang. Ini berdasarkan analisis dilakukan lembaga yang digandeng Pupuk Kaltim yang bernama Reef Check Indonesia.
Reef Check Indonesia adalah organisasi konservasi berbasis di Denpasar, Bali. Dalam laman resminya, disebutkan mereka bekerja bersama masyarakat pesisir melalui pengelolaan ekosistem pesisir dan laut. Berdiri sejak 2005 sebagai bagian dari jaringan Reef Check International, organisasi ini menjalankan program konservasi, pemberdayaan masyarakat, serta riset dan pendidikan lingkungan.
Masih berdasarkan analisis Reef Check Indonesia, setidaknya 60 jenis terumbu karang hidup di perairan Bontang. Ini terbilang bervariasi ketimbang daerah lainnya.
"Kalau malam disenter, seperti kota itu di bawah laut. Terumbu karang, kan, kelihatan menyala kalau malam-malam disenter."
Selain indah, laut Bontang juga kaya. Konservasi hingga meningkatnya kesadaran warga soal menjaga laut membuat ikan-ikan konsumsi seperti baronang, kerapu, bawis dan cumi lebih mudah diperoleh di perairan Bontang.
Yusta mengatakan, lautan Bontang sejatinya memiliki pesonanya sendiri namun selama ini kurang dilirik. Keindahan itu baru disadari usai sekelompok anak muda mulai menggerakan sektor pariwisata kota ini. Kepiawaian mereka memanfaatkan sosial media membuat gerakan ini viral. Agen perjalanan wisata tumbuh. Pemerintah pun mulai serius mempromosikan dan memperbaiki destinasi wisata Bontang.
Sejak mereka terlibat konservasi pada 2022 hingga pertengahan 2026, total areal yang sudah ditutupi terumbu karang baik alami dan transplantasi sekitar 6 hektar. Ini akumulasi kerja awal perusahaan, nelayan dan kolaborasi keduanya sejak 2009.
Media tanam berbagai bentuk yang sudah ditanam di laut lebih kurang 8 ribu unit. Termasuk penanaman 77 ribu bibit mangrove di Pulau Kedindingan.
Berbagai manfaat yang hadir dari konservasi ini, baik langsung maupun tidak terhadap masyarakat, membuat perusahaan mempertimbangkan perluasan areal konservasi. Dari target 10 hektar menjadi 20 hektar.
"Kabarnya dari perusahaan, kalau target awal selesai (10 hektar), rencana mau ditambah jadi 20 hektar," beber Yusta.
Selain fokus konservasi di laut, Kimasea dan Karaka juga terus melakukan sosialisasi terhadap nelayan dan masyarakat di kawasan pesisir.
Di kalangan nelayan, mereka menjelaskan dan mendorong penerapan metode tangkap yang aman dan ramah terhadap lingkungan.
Pada anak-anak, mereka sampai masuk ke sekolah. Misalnya di SD Negeri 001 Bontang Utara, yang lokasinya memang di kawasan pesisir, tepatnya Kelurahan Bontang Kuala. Edukasi pada generasi muda dilakukan agar kelak ketika dewasa, mereka tidak mengulangi kesalahan para terdahulu.
"Orang BK itu, setinggi-tingginya sekolahnya, hidupnya tidak akan jauh dari laut. Kalau nasibnya agak bagus, mungkin dia akan ke darat (bekerja di luar sektor perikanan-kelautan). Tapi kebanyakan larinya (bekerja) di laut," sebut Yusta.
Pada aparat penegak hukum, seperti Polairud, mereka meminta agar patroli laut gencar dilakukan. Agar ruang gerak pelaku illegal fishing dipersempit. Utamanya di kawasan konservasi Bontang: kawasan perairan Pulau Beras Basah, Kedindingan, Melahing, dan Pondok Pasilan.
Pada masyarakat, utamanya ketika mengantar wisatawan, mereka menjelaskan soal kondisi laut Bontang dulu dan sekarang. Serta bagaimana agar ekosistem laut terus terjaga, misalnya tidak membuang sampah sembarangan dan tidak menyentuh terumbu karang ketika snorkeling.
Namun di balik capaian baik ini, tetap ada tantangan dihadapi. Pertama, kendati angkanya sudah jauh menurun, tapi pelaku illegal fishing masih ada. Ia tak benar-benar hilang.
"Kami sih tidak main-main sama illegal fishing itu. Kalau kami tahu, pasti kami laporkan ke penegak hukum. Biar diproses," tegas Yusta.
Selain itu, konservasi ini sangat tergantung kebijakan dan dana CSR Pupuk Kaltim. Dengan durasi pendampingan tiap kelompok hanya 5 tahun dan kebijakan direksi perusahaan bisa saja berubah, program ini sejatinya rentan terhenti di tengah jalan.
Kerja-kerja konservasi ini pun butuh riset dan monitoring kontinyu, alat dan operasional tidak murah. Sementara selama ini, menurut penuturan nelayan, dukungan pemerintah nyaris nihil.
"Konservasi ini bukan biaya sedikit, mahal. Sebenarnya pemerintah punya anggaran untuk itu, tapi selama ini tidak sampai ke pesisir. Kenapa? Karena anggaran itu banyak habis untuk sosialisasi atau sesuatu yang sifatnya seremonial saja," tandas Yusta.
Pulau Kedindingan: Tiga Ekosistem, Satu Kehidupan
ADA BANYAK riset yang membuktikan hubungan erat dan ketergantungan mangrove, padang lamun, dan terumbu karang. Keterhubungan ketiganya inilah yang membuat masa depan konservasi yang dilakukan Jusman, Yusta, dan Malik ikut dipertaruhkan. Salah satu ekosistem rusak atau terganggu, bisa berdampak ke yang lainnya.
Dilansir dari penelitian berjudul "High connectivity of Indo-Pacific seagrass fish assemblages with mangrove and coral reef habitats" yang fokus penelitiannya dilakukan di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, menyebut hutan mangrove memiliki peran penting dalam mendukung kehidupan ikan, terutama pada fase awal pertumbuhan.
Penelitian yang dilakukan Richard K. F. Unsworth dan koleganya itu menemukan bahwa mangrove tidak hanya berfungsi sebagai habitat bagi ikan-ikan muda, tetapi juga menjadi bagian dari jaringan ekosistem yang saling terhubung dengan habitat pesisir lainnya.
Padang lamun juga memegang fungsi penting dalam jaringan tersebut. Penelitian itu menunjukkan bahwa kelimpahan dan keragaman ikan di padang lamun meningkat ketika habitat ini berada dekat dengan kawasan mangrove. Kedekatan kedua ekosistem tersebut turut mempengaruhi struktur komunitas ikan yang hidup di dalamnya.
Sementara itu, terumbu karang melengkapi fungsi ekologis yang tidak dimiliki oleh mangrove maupun lamun. Para peneliti menemukan bahwa padang lamun yang berada berdekatan dengan mangrove dan terumbu karang menjadi habitat yang menampung lebih banyak ikan herbivora dibanding lokasi lainnya.
Temuan ini menunjukkan bahwa keberadaan terumbu karang ikut memperkaya komunitas ikan dalam bentang pesisir.
Pada bagian konklusi, penelitian tersebut bahwa mangrove, lamun, dan terumbu karang bekerja paling efektif ketika hadir sebagai satu kesatuan ekosistem.
Padang lamun dan mangrove merupakan habitat penting bagi ikan muda, sementara keberadaan terumbu karang di sekitarnya memperkuat fungsi kawasan tersebut sebagai tempat pembesaran ikan.
Karena itu, ketiga ekosistem tersebut tidak dapat dipandang secara terpisah, melainkan sebagai jaringan habitat yang saling mendukung kehidupan laut.
Keterkaitan ekosistem mangrove, lamun, dan terumbu karang menurut Richard K. F. Unsworth dan koleganya dalam penelitian berjudul "High connectivity of Indo-Pacific seagrass fish assemblages with mangrove and coral reef habitats".
Temuan para peneliti tersebut membantu menjelaskan mengapa warga seperti Jusman, Yusta, dan Malik begitu berhati-hati menjaga Pulau Kedindingan. Bagi mereka, yang dipertaruhkan bukan hanya terumbu karang yang selama ini mereka konservasi, melainkan keseluruhan jaringan ekosistem yang menopang kehidupan pesisir Bontang.
Berbagai penelitian yang dilakukan di Pulau Kedindingan pun menunjukkan bahwa kawasan ini memang menyimpan nilai ekologis yang tinggi.
Keberadaan mangrove, padang lamun, dan terumbu karang yang saling terhubung menjadikan pulau tersebut sebagai habitat penting bagi beragam biota laut.
Misalnya penelitian yang dilakukan Dhevy Widyawati bersama rekannya berjudul "Komunitas Ikan Padang Lamun di Perairan Pulau Kedindingan Kota Bontang Kalimantan Timur" dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman.
Dalam penelitian itu, mereka menyebut setidaknya ada enam jenis lamun yang teridentifikasi hidup di perairan Pulau Kedindingan. Yakni Thalassia hemprichi, Halopila ovalis, Halopila minor, Enhalus acoroides, Syringodium isoetifolium dan Cymodocea rotundata. Ini hampir separuh dari jumlah lamun yang diketahui hidup di Indonesia, yakni 13 jenis. Temuan ini menunjukkan tingginya keragaman vegetasi laut di pulau itu.
Lebih jauh, penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Tropical Aquatic Sciences pada 2023 itu menyebut setidaknya ada 28 spesies ikan yang hidup di padang lamun pulau itu. Di antaranya adalah ikan yang bernilai ekonomis dan cukup sering dikonsumsi warga. Seperti kakap, kerapu, baronang, dan ikan kakatua.
Yang juga menarik dari temuan ini, mereka menyebut keberadaan ikan-ikan tersebut menunjukkan bahwa padang lamun di Kedindingan berfungsi sebagai nursery ground atau daerah asuhan ikan. Dengan kata lain, banyak ikan memanfaatkan kawasan ini untuk tumbuh sebelum berpindah ke habitat lain.
Sementara itu, penelitian yang dipublikasikan dalam Torani: Journal of Fisheries and Marine Science pada 2023 menemukan kondisi terumbu karang di Pulau Kedindingan masih relatif baik di sebagian besar lokasi pengamatan.
Namun, penelitian tersebut juga mencatat adanya penyusutan luasan karang hidup dalam beberapa tahun terakhir. Analisis citra satelit menunjukkan luas karang hidup berkurang dari 55,44 hektare pada 2015 menjadi 48,06 hektare pada 2022.
Andriyanto Samin, salah satu penulis penelitian tersebut, mengatakan keberadaan terumbu karang di Pulau Kedindingan tidak bisa dipisahkan dari ekosistem lain yang mengelilinginya.
Menurut dia, kawasan ini masih menjadi habitat penting bagi berbagai biota laut sehingga upaya perlindungan perlu terus dilakukan.
Dia menjelaskan, itulah mengapa sejumlah pulau di Bontang, termasuk Pulau Kedindingan dan perairan sekitarnya ditetapkan sebagai kawasan konservasi. Ia merupakan "tabungan masa depan". Mestinya ia dirawat dan dibiarkan tetap alami.
"Semangat dari kawasan konservasi sebenarnya adalah sebagai tabungan kita di masa depan. Bukan buat kita sekarang, tapi akan dinikmati oleh anak cucu kita ke depan," sebut Andriyanto Samin kala ditemui di kantornya, Jumat (3/7/2026) pagi.
"Jika tidak ada zona inti, ketiga ekosistem tersebut (terumbu karang, lamun, dan mangrove) pasti akan terdegradasi semuanya."
Dia menegaskan, ikan konsumsi sehari-hari, termasuk ikan bawis yang merupakan khas Bontang, hidup, bermain, mencari makan, bertelur, dan tidur di area yang memiliki ketiga ekosistem tersebut.
Bila kondisi terumbu karang semakin baik, ikan-ikan kecil akan banyak bermain di sana, yang kemudian mengundang rantai makanan sehingga ikan-ikan besar atau jenis-jenis baru bisa datang ke situ.
"Kalau nelayan bilang setelah 13 tahun konservasi ada jenis ikan baru hadir, itu sangat mungkin terjadi. Ketika kondisi terumbu karangnya makin baik otomatis ikan-ikan kecil di situ banyak main. Nanti akan mengundang rantai makanan," tegasnya.
Ketika Masa Depan Dipertaruhkan
Selama belasan tahun nelayan pesisir Bontang berupaya melakukan konservasi terumbu karang di Tobok Batang.
Meski belum pulih sepenuhnya, sudah banyak cerita baik hadir dari konservasi itu.
Ikan-ikan mulai muda ditemui. Nelayan tidak perlu melaut jauh, hingga berhari-hari meninggalkan keluarga. Keanekaragaman bawah laut Bontang makin merekah. Wisata maritim tumbuh.
Kemudian, sumber penghasilan nelayan di pesisir tak lagi tunggal. Kini dari melaut, konservasi, dan penyewaan kapal untuk wisatawan.
Namun berbagai capaian baik ini berpotensi menghadapi tantangan tidak mudah. Sebab, Pemkot Bontang mulai menggulirkan wacana ke publik untuk memanfaatkan Pulau Kedindingan.
Bukan cuma untuk wisata maritim. Tapi juga memindahkan tempat hiburan malam (THM) yang dianggap sebagai salah satu biang keladi persoalan sosial di kota.
Kepada Kaltim Today, Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris menegaskan bahwa wacana pemanfaatan Pulau Kedindingan sebagai kawasan wisata dan tempat hiburan malam (THM) ia hadirkan karena melihat kondisi di Bontang.
Ia menjelaskan, gagasan tersebut muncul sebagai upaya mencari alternatif lokasi aktivitas hiburan yang tidak berada di pusat kota. Sebagai kota industri, kata Agus Haris, banyak pekerja keluar-masuk kota ini. Khususnya mereka yang bekerja di perkapalan, baik pekerja Indonesia maupun internasional. Itulah sebabnya ia sempat melempar wacana ini ke publik.
Namun, ia menegaskan bahwa aspek lingkungan tetap menjadi pertimbangan utama dalam setiap rencana pengembangan. Dirinya tidak akan memaksakan apapun, terlebih bila itu terkait keberlangsungan lingkungan.
"Kalau nanti hasil kajian menunjukkan ada potensi mengganggu biota laut, ekosistem laut, apalagi kalau memang kawasan itu merupakan kawasan konservasi, tentu itu harus menjadi pertimbangan serius," kata Agus Haris kepada Kaltim Today, Jumat (10/7/2026) malam.
Menurutnya, Pemprov Kaltim juga telah memberikan masukan agar rencana tersebut terlebih dahulu melalui proses kajian yang komprehensif, terutama terkait dampaknya terhadap lingkungan dan ekosistem laut.
Belakangan, wacana tersebut mendapat tanggapan dari sejumlah pegiat wisata dan pemerhati lingkungan di Bontang. Mereka berharap Pulau Kedindingan tetap dipertahankan sebagai kawasan konservasi karena memiliki peran penting sebagai habitat ikan, padang lamun, dan terumbu karang yang menopang kesehatan ekosistem pesisir di wilayah lain.
Menanggapi masukan tersebut, Agus Haris menyatakan dapat memahami kekhawatiran yang muncul. Bahkan, ia mengaku sepakat apabila kawasan yang memiliki nilai konservasi tinggi diprioritaskan untuk perlindungan lingkungan.
"Kalau memang di sana kawasan konservasi dan penting untuk menjaga habitat ikan serta ekosistem laut, saya sepakat itu dijaga. Tidak ada masalah," katanya.
Ia menegaskan, pemerintah tidak akan memaksakan sebuah lokasi apabila kemudian terbukti berpotensi merusak lingkungan atau mengganggu fungsi konservasi yang sudah berjalan.
Apabila Pulau Kedindingan dinilai tidak tepat untuk pengembangan wisata tertentu, pemerintah masih dapat mempertimbangkan alternatif lokasi lain yang lebih sesuai.
Salah satu kawasan yang pernah masuk dalam pembahasan adalah Pulau Segajah. Namun, pengembangan pulau tersebut juga membutuhkan perencanaan matang dan dukungan anggaran yang besar.
"Kalau nanti ternyata mengganggu habitat laut, tentu kita cari lokasi lain yang tidak mengganggu. Yang penting bagaimana kepentingan yang lebih besar bisa kita dahulukan," tegasnya.
Agus Haris mengatakan, wacana yang sempat disampaikannya sebelumnya juga merupakan bagian dari upaya menjaring respons publik sebelum pemerintah mengambil langkah lebih jauh. Karena itu, berbagai masukan dari masyarakat, pelaku wisata, maupun kelompok konservasi akan menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan arah kebijakan ke depan.
"Kalau ada respons dari masyarakat, tentu akan kami tinjau. Kita lihat titik mana yang paling tepat. Prinsipnya, kalau ada yang harus dijaga demi kepentingan yang lebih besar, ya itu yang kita dahulukan," tandansya.
Sementara itu, Kepala Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Dispopar) Bontang, Eko Mashudi tidak menampik keberadaan wacana itu. Wacana pemanfaatan Pulau Kedindingan sebagai kawasan wisata setidaknya mulai digulirkan ke publik medio 2025 lalu.
Namun, hingga pertengahan 2026 belum ada pembahasan lebih lanjut terkait wacana tersebut. Karena belum pernah dibahas serius, maka hingga kini memang belum ada kajian, dengar pendapat, atau penyusunan regulasi dilakukan.
"Wacana itu memang ada, dari tahun lalu (2025) kalau tidak salah. Tapi belum pernah kami bahas wacana itu lebih jauh," sebut Eko ketika ditemui di kantornya, Rabu (8/7/2026) siang.
"Mungkin, kan, tidak semua wacana perlu direalisasikan."
Eko bilang, tentu dibutuhkan pembahasan dan kajian mendalam bila wacana itu ingin direalisasikan. Ini bukan saja karena Pulau Kedindingan masuk kawasan konservasi areal satu, pun karena pulau ini memainkan peran strategis dalam menjaga pesisir Bontang.
"Tentunya tidak bisa sembarangan (dimanfaatkan), kami paham itu. Pulau Kedindingan penting untuk menjaga garis pesisir Bontang dari abrasi," kata pria yang juga pernah bertugas di BPBD Bontang ini.
Saat ini Dispopar hanya mengembangkan dan mengizinkan aktivitas pariwisata maritim di kawasan yang sudah mendapat izin. Baik dari Pemprov Kaltim maupun KKP RI. Kawasan tersebut meliputi Pulau Segajah, Pulau Beras Basah dan beberapa bagian kawasan perairannya dan Kampung Melahing.
Selain itu, tidak ada.
"Kami fokus di sana saja dulu, karena memang sudah mendapat izin pemanfaatan," tegasnya.
Sementara itu, Sub-Koordinator Konservasi Kelautan dan Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kaltim, Yuliana, menegaskan Pulau Kedindingan tidak dapat dijadikan destinasi wisata karena berada di zona inti kawasan konservasi perairan. Sesuai regulasi, zona tersebut hanya diperuntukkan bagi kegiatan penelitian dan perlindungan ekosistem.
Menurutnya, zona inti berfungsi menjaga terumbu karang serta menjadi tempat pemijahan berbagai biota laut. Karena itu, aktivitas wisata berpotensi mengganggu ekosistem yang dilindungi. Jika ingin mengembangkan wisata bahari, pemerintah dapat memanfaatkan kawasan yang berada di zona pemanfaatan terbatas seperti Segajah dan Malahing.
Dua warga pesisir yang melakukan konservasi di perairan Kedindingan juga memberi tanggapannya terkait wacana ini.
Yusta misalnya. Dia menegaskan bila pemerintah ingin mewujudkan wacana ini, mereka mesti benar-benar memastikan apakah ekosistem laut di sana bisa terjaga. Jangan sampai karena mengejar pertumbuhan PAD dan wisatawan, ekosistem laut Bontang yang jadi taruhannya.
"Kami sebagai nelayan sih yang penting jangan mengganggu ekosistem laut. Jangan sampai menimbulkan hal-hal yang tidak bagus," tegasnya.
Kemudian Jusman. Dia mempertanyakan apakah pemerintah bisa menjadi Pulau Kedindingan tidak rusak jika dibuka sebagai kawasan wisata. Menurutnya, pemerintah sebaiknya lebih dulu membenahi kondisi terumbu karang di Pulau Beras Basah yang telah rusak akibat aktivitas pariwisata sebelum mewacanakan pengembangan destinasi.
Terumbu karang di Kedindingan, kata Jusman, masih tergolong sangat alami dan menjadi salah satu ekosistem terbaik yang tersisa di Kota Bontang. Karena itu, kawasan tersebut seharusnya dijaga dan dilindungi, bukan justru dibuka untuk aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan. Ia mengingatkan bahwa pemulihan terumbu karang membutuhkan waktu sangat lama, bahkan bisa mencapai puluhan hingga ratusan tahun.
"Tinggal di Kedindingan yang paling bagus dan alami terumbu karangnya. Justru kawasan ini harusnya kita rawat dan jaga," sebut Jusman.
"Jadi kalau mau dijadikan THM, lokasi wisata, harus dipikir dua kali dulu dampak kerusakan terumbu karang di sekitar situ."
Artikel ini merupakan hasil workshop bersama International Media Support (IMS) dan Indonesian Data Journalism Network (IDJN) bertajuk "Countering Climate Disinformation: Prebunking, Data, and Constructive Journalism".
Related Posts
- Pupuk Kaltim Raih Penghargaan AREA 2026, Pertegas Komitmen Bangun Ekonomi Inklusif
- Komisi IV DPRD Samarinda Tindak Lanjuti Aduan Dugaan Kejanggalan SPMB
- Perwira TNI Aktif Diduga Terlibat Korupsi Proyek Motor Listrik BGN, Kejagung Limpahkan Berkas Jampidmil
- Mengenal KKP Eksisting dan Domestik: Instrumen Strategis Menuju Pembayaran Nontunai di Satuan Kerja
- Akademisi Soroti Pengisian Jabatan OPD di Kaltim, Loyalitas Tak Boleh Kalahkan Kompetensi








