Internasional

Tekan Iran, Donald Trump Desak Arab Saudi hingga Pakistan Normalisasi Hubungan dengan Israel

Network — Kaltim Today 26 Mei 2026 06:58
Tekan Iran, Donald Trump Desak Arab Saudi hingga Pakistan Normalisasi Hubungan dengan Israel
Donald Trump. (Beritasatu.com)

Kaltimtoday.co - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melayangkan pernyataan kontroversial dengan menegaskan bahwa setiap kesepakatan politik untuk mengakhiri konflik dengan Iran harus mencakup perluasan partisipasi negara-negara Islam dalam Abraham Accords. Perjanjian tersebut merupakan pakta normalisasi hubungan diplomatik dengan Israel yang diinisiasi AS sejak periode pertama kepemimpinannya.

Trump mengklaim bahwa proses negosiasi bilateral terkait pembatasan Iran saat ini tengah berjalan ke arah yang positif. Kendati demikian, ia menuntut sejumlah negara strategis seperti Arab Saudi, Pakistan, Qatar, Turki, Mesir, dan Yordania untuk mengambil langkah konkret dengan segera bergabung dalam kesepakatan tersebut.

“Setelah seluruh upaya yang dilakukan Amerika Serikat untuk menyatukan teka-teki yang sangat kompleks ini, sudah seharusnya semua negara tersebut, setidaknya secara bersamaan, menandatangani Abraham Accords,” tulis Trump lewat unggahan di akun media sosial pribadinya, Senin (25/5/2026).

Sebagai informasi, Abraham Accords pertama kali diperkenalkan pada tahun 2020 sebagai pilar strategi geopolitik luar negeri AS di Timur Tengah. Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain menjadi dua negara pelopor yang menandatangani kesepakatan ini, yang kemudian diikuti oleh Sudan, Maroko, dan Kazakstan.

Hingga saat ini, Trump secara terbuka mengincar Arab Saudi untuk masuk ke dalam lingkaran pakta tersebut. Namun, pihak Riyadh berulang kali menegaskan sikap diplomasi setara, di mana normalisasi hubungan dengan Israel hanya akan terwujud jika ada komitmen mutlak dan kejelasan mengenai pembentukan negara Palestina yang merdeka.

Sikap tegas serupa juga ditunjukkan oleh Pakistan yang hingga kini tidak memiliki hubungan diplomatik resmi apa pun dengan Tel Aviv. Analis politik asal Islamabad, Syed Mohammad Ali, menyatakan bahwa dorongan masif dari Gedung Putih tidak akan mengubah posisi dasar Pakistan dalam membela hak-hak kedaulatan di Timur Tengah.

Di sisi lain, mantan Duta Besar Pakistan untuk AS, Masood Khan, menilai manuver terbaru Trump ini membawa dimensi baru yang rumit dalam arsitektur diplomasi regional.

“Isu Abraham Accords sebelumnya tidak masuk dalam agenda pembicaraan (terkait Iran),” kata Khan.

Ia menambahkan, desakan ini kemungkinan dipicu oleh tekanan politik domestik yang menuntut Trump segera menelurkan kesepakatan global yang menguntungkan posisi AS.

Menariknya, proses negosiasi ini masih berjalan dinamis. Trump bahkan melontarkan spekulasi bahwa Iran sendiri memiliki probabilitas untuk ikut bergabung ke dalam Abraham Accords di masa depan, apabila seluruh poin perundingan komprehensif berhasil dirampungkan dan disepakati kedua belah pihak.

[RWT] 



Berita Lainnya