Daerah
Terkendala Cuaca Ekstrem dan Kekeringan, Penanaman Bantuan Benih Pusat di Berau Terpaksa Ditunda
Kaltimtoday.co, Berau - Alih-alih langsung mendongkrak produktivitas petani, sejumlah bantuan pertanian dari pemerintah pusat di Berau masih menghadapi kendala di lapangan.
Cuaca menjadi salah satu persoalan utama. Kondisi tersebut membuat sebagian bantuan, mulai dari benih padi, jagung, hingga cabai, belum bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh petani.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Berau, Lita Handini, mengatakan pemerintah pusat telah menyalurkan berbagai bantuan untuk mendukung sektor pertanian di Berau.
Salah satunya berupa paket rumah hidroponik yang dilengkapi instalasi serta sarana produksi untuk budidaya sayuran di Kecamatan Sambaliung.
Namun, bantuan tersebut belum seluruhnya dapat dimanfaatkan secara optimal karena adanya perubahan kewenangan dalam penyediaan sejumlah kebutuhan produksi.
“Karena kewenangan penyediaan bibit dan pupuk sudah tidak ada di kita, jadi yang kita kasih rumahnya saja sama instalasinya, tempat pot-potnya itu saja sarana produksi yang sudah ada,” ujar Lita.
Selain rumah hidroponik, DTPHP Berau juga menerima bantuan benih cabai untuk lahan seluas 5 hektare yang dipusatkan di Kampung Purna Sari Jaya, Kecamatan Talisayan.
Bantuan serupa juga diberikan dalam bentuk benih padi dan jagung dengan luasan yang sama.
Persoalannya, benih yang telah diterima belum dapat langsung ditanam. Pemerintah daerah justru meminta petani menunda penanaman karena kondisi cuaca dinilai belum mendukung.
Lita mengatakan, petani diproyeksikan mulai menanam ketika musim hujan tiba. Hal ini berkaitan dengan karakteristik lahan sawah tadah hujan yang sangat bergantung pada ketersediaan air.
“Petani diimbau untuk menunggu datangnya musim hujan yang diprakirakan mulai Oktober, mengingat karakteristik sawah tadah hujan yang sangat bergantung pada suplai air,” bebernya.
Kondisi serupa juga terjadi pada sejumlah lahan yang telah mendapat bantuan pompa air. Pompa tersebut belum dapat dimanfaatkan secara maksimal lantaran sumber air di saluran irigasi mengalami kekeringan.
Situasi itu membuat proses pengolahan lahan menjadi lebih sulit dilakukan.
Di tengah ketidakpastian cuaca tersebut, cabai dinilai menjadi salah satu komoditas yang lebih fleksibel untuk dikembangkan. Tanaman ini memiliki waktu tanam yang relatif tidak kaku selama lahan tidak terdampak banjir.
“Di tengah tantangan cuaca ekstrem, komoditas cabai dinilai memiliki ketahanan dan fleksibilitas waktu tanam yang lebih baik dibandingkan padi,” imbuhnya.
Menurutnya, cabai dapat ditanam sepanjang tahun dengan menyesuaikan kondisi lahan. Keuntungan lainnya, varietas cabai berumur panjang memiliki periode panen yang cukup panjang.
Dalam satu kali penanaman, petani bahkan dapat melakukan panen berkali-kali hingga lebih dari 10 kali.
“Kalau cabai itu panjang, bisa setahun. Jadi dia bisa panen 10 kali setelah tanam 3 bulan. Kalau cabai-cabai umur panjang itu bahkan bisa panen sampai 13 kali,” pungkasnya.
[MGN | RWT]
Related Posts
- Status Tanggap Darurat Berakhir, DPRD Samarinda Minta Waspada Kekeringan Tetap Dijaga
- Pertengahan September, Lahan Terbakar akibat Karhutla Tembus 2.500 Hektare di Kaltim
- Musim Hujan 2026/2027 Datang Terlambat, BMKG Minta Antisipasi Kekeringan Ekstrem hingga Akhir Tahun
- DPRD Samarinda Dorong Probebaya Jadi Solusi Krisis Air di Tengah Musim Kemarau
- BMKG Catat 17 Provinsi Alami Hari Tanpa Hujan Ekstrem, Terpanjang di DIY









