Daerah

Diserang Penyakit Fusarium dan Layu Bakteri, Produksi Pisang di Kaltim Anjlok Hingga 60 Persen

Network — Kaltim Today 09 Oktober 2026 04:42
Diserang Penyakit Fusarium dan Layu Bakteri, Produksi Pisang di Kaltim Anjlok Hingga 60 Persen
Ilustrasi perkebunan pisang. (Pixabay)

Kaltimtoday.co - Komoditas pisang yang selama ini menjadi salah satu pilar utama penopang sektor hortikultura di Kalimantan Timur (Kaltim) tengah menghadapi tantangan serius. Produksi pisang di wilayah ini dilaporkan mengalami penurunan drastis hingga menyentuh angka 60 persen akibat maraknya serangan penyakit tanaman, khususnya Fusarium dan layu bakteri.

Kepala Bidang Produksi Hortikultura Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (PTPH) Kaltim, Kosasih, memaparkan bahwa pada 2025 lalu, volume produksi pisang di Kaltim masih tercatat berada di kisaran 129 ribu ton. Namun, angka tersebut kini merosot tajam seiring meluasnya serangan hama dan penyakit.

“Produksi kita signifikan, 2025 sebanyak 129 ribu ton. Sekarang turun sekitar 60 persen,” ungkap Kosasih saat menjadi narasumber dalam webinar Rabu Sehat Seri 5 bertema "Pisang Tahan Layu, Kebun Produktif" yang digelar secara virtual, Rabu (7/10/2026).

Menurutnya, faktor utama di balik anjloknya hasil panen tersebut adalah masifnya serangan patogen Fusarium yang banyak menyerang berbagai tanaman pisang, terutama pada varietas lokal seperti pisang gerecek.

Kosasih menegaskan bahwa, persoalan organisme pengganggu tanaman (OPT) ini harus segera ditangani secara komprehensif. Pasalnya, di satu sisi pemerintah daerah dituntut untuk terus menggenjot produktivitas sektor pertanian, namun di sisi lain terdapat jurang kesenjangan akibat ancaman penyakit tanaman yang belum sepenuhnya teratasi.

“Di sisi lain kami dituntut untuk meningkatkan produksi dan produktivitas. Tetapi ada kesenjangan yang menghantui kita selama ini, yaitu penyakit pisang, Fusarium dan bakteri layu,” ujarnya.

Ia menambahkan, kelalaian dalam menangani isu kesehatan tanaman ini dikhawatirkan dapat memicu kepunahan atau hilangnya sentra-sentra produksi pisang yang selama ini menjadi keunggulan daerah.

“Sayang kalau proyek atau program kita tiba-tiba hilang begitu saja karena kita abai terhadap penyakit pisang ini,” tegasnya.

Langkah Strategis dan Pembangunan Jalur Pengendalian

Sebagai langkah mitigasi, Dinas PTPH Kaltim telah merumuskan dan mengimplementasikan sejumlah strategi penanganan. Upaya tersebut mencakup peningkatan produktivitas, pengendalian OPT secara terpadu, penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) petani, hingga penyediaan sarana dan prasarana penunjang pertanian.

Salah satu aksi nyata yang telah direalisasikan adalah pembangunan infrastruktur double way atau jalur khusus pengendalian penyakit di kawasan sentra tanaman pisang wilayah Golo dengan bentang panjang mencapai 562 meter.

“Kami sudah banyak melakukan upaya, termasuk membangun double way di kawasan tanaman pisang. Panjangnya sekitar 562 meter,” jelas Kosasih.

Kendati berbagai ikhtiar telah ditempuh, ia tidak menampik bahwa optimalisasi komoditas pisang sebagai salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi kerakyatan di Kaltim masih dihadapkan pada dinamika yang kompleks.

Oleh karena itu, Kosasih berharap penanganan penyakit tanaman ini dapat dijalankan secara berkelanjutan dengan membangun kolaborasi erat bersama para pelaku usaha serta petani di lapangan. Mengingat pilar utama pembangunan sektor pertanian bertumpu pada peran aktif para petani hortikultura, pangan, peternakan, hingga perkebunan.

“Pelaku utama kita adalah petani, termasuk petani pisang, petani hortikultura, pangan, peternakan, dan perkebunan,” pungkasnya.

[RWT] 



Berita Lainnya