Internasional
Banjir Kritik, Trump Buka Peluang Kirim Pasukan Darat Amerika Serikat ke Iran
Kaltimtoday.co - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menepis kritik yang kian meningkat terkait keputusannya melancarkan operasi militer terhadap Iran. Meski sebelumnya berjanji menghindari "perang abadi", Trump kini justru membuka kemungkinan pengiriman pasukan darat ke wilayah konflik tersebut.
Dalam wawancara dengan New York Post, Senin (2/3/2026), Trump menyatakan tidak mengesampingkan opsi pengerahan kekuatan militer yang lebih luas. Ia menegaskan tidak akan memberikan jaminan bahwa AS tidak akan mengirimkan pasukan darat jika situasi di lapangan membutuhkannya.
"Saya tidak merasa cemas soal pengerahan pasukan darat. Saya tidak mengatakan 'tidak akan ada pasukan darat', saya hanya mengatakan mungkin tidak membutuhkannya, atau jika memang diperlukan," ujar Trump.
Sikap ini didukung oleh Menteri Pertahanan Pete Hegseth yang menyatakan pemerintah tidak akan mengungkapkan strategi militer secara terbuka kepada publik. Hegseth menegaskan bahwa pemerintah akan menjaga kerahasiaan langkah operasional demi kepentingan strategis.
Kebijakan ini memicu frustrasi tidak hanya di kalangan oposisi, tetapi juga merambah ke basis pendukung setianya, "Make America Great Again" (MAGA). Para pendukung mempertanyakan visi akhir dari eskalasi konflik yang telah menyebabkan lonjakan harga energi dan jatuhnya korban jiwa.
Sejumlah tokoh kunci di lingkaran Trump, seperti Erik Prince, menyatakan kekecewaannya atas keputusan menyerang Iran. Prince menilai serangan ini tidak sejalan dengan komitmen Trump untuk meninggalkan kebijakan pembangunan bangsa dan perubahan rezim di luar negeri.
"Saya tidak melihat bagaimana ini sesuai dengan komitmen MAGA presiden. Ini akan membuka kotak pandora berisi kekacauan dan kehancuran yang signifikan di Iran," ujar Erik Prince dalam sebuah siniar.
Selain Prince, sejumlah komentator konservatif seperti Tucker Carlson dan Benny Johnson juga mulai mempertanyakan keputusan tersebut. Namun, Trump menepis anggapan adanya perpecahan dan mengeklaim bahwa gerakan MAGA mendukung setiap aspek kebijakannya demi keamanan negara.
Hingga saat ini, militer AS melaporkan enam personelnya tewas dalam pertempuran dan sejumlah lainnya luka-luka akibat serangan balasan Iran. Ketua Kepala Staf Gabungan, Dan Caine, memperingatkan potensi adanya tambahan korban seiring berlanjutnya operasi militer.
Trump memprediksi operasi gabungan AS dan Israel ini akan mencapai tujuannya dalam waktu empat hingga lima minggu ke depan. Meski demikian, ia menegaskan militer AS memiliki kemampuan untuk bertahan dalam durasi yang lebih lama jika konflik terus meluas.
[TOS]
Related Posts
- Tekan Iran, Donald Trump Desak Arab Saudi hingga Pakistan Normalisasi Hubungan dengan Israel
- Russia uses hypersonic Oreshnik missile in mass attack on Kyiv
- Gempur Lebanon Selatan, Serangan Udara Israel Rusak Rumah Sakit Hiram dan Rumah Warga
- Alami Pemukulan hingga Disetrum, 9 Relawan WNI Global Sumud Flotilla Berhasil Keluar dari Israel
- 9 WNI Relawan Kemanusiaan Gaza Diculik Israel, Menko Yusril Siapkan Langkah Hukum









