Internasional

Demo Besar 'No Kings' Guncang AS, Jutaan Orang Protes Kebijakan Otoriter Donald Trump

Kaltim Today
29 Maret 2026 10:15
Demo Besar 'No Kings' Guncang AS, Jutaan Orang Protes Kebijakan Otoriter Donald Trump
Warga AS berkumpul di New York untuk aksi "No Kings" (AP Photo/Adam Gray)

Kaltimtoday.co - Gelombang demonstrasi besar-besaran kembali melanda berbagai penjuru Amerika Serikat dalam aksi bertajuk "No Kings" (Tanpa Raja) edisi ketiga, Minggu (29/3/2026). Jutaan orang dilaporkan memadati jalan-jalan utama di kota-kota besar untuk memprotes kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump yang dinilai otoriter dan mengancam demokrasi.

Aksi ini merupakan kelanjutan dari demonstrasi serupa yang sebelumnya berhasil menarik perhatian hingga tujuh juta orang di seluruh negeri. Para pengunjuk rasa menyuarakan penolakan keras terhadap keterlibatan Amerika Serikat dalam perang di Iran, penegakan hukum imigrasi federal yang agresif, serta lonjakan biaya hidup.

Di Washington DC, massa memadati Lincoln Memorial dan National Mall hingga meluap ke wilayah Arlington, Virginia. Para orator dalam aksi tersebut menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak dibangun untuk dipimpin oleh seorang tiran.

"Trump ingin memerintah kita seperti seorang diktator. Namun ini adalah Amerika, dan kekuasaan ada di tangan rakyat—bukan di tangan mereka yang haus kekuasaan atau kroni-kroni miliardernya," tegas salah satu penyelenggara aksi dalam orasinya di pusat ibu kota sebagaimana dilansir BBC.

Menanggapi hal tersebut, juru bicara Gedung Putih meremehkan aksi ini dengan menyebutnya sebagai "Sesi Terapi Gangguan Trump" (Trump Derangement Therapy Sessions). Pihak istana menuding bahwa aksi ini hanya dipedulikan oleh media yang dibayar untuk meliputnya.

Pusat perhatian aksi pada hari Sabtu ini tertuju pada Minnesota yang menjadi titik didih kemarahan publik. Hal ini dipicu oleh tewasnya dua warga negara Amerika Serikat, Renee Nicole Good dan Alex Pretti, di tangan agen imigrasi federal pada Januari lalu.

Tragedi tersebut memicu kemarahan nasional atas taktik penegakan imigrasi yang dijalankan pemerintahan Trump sejak kembali ke Gedung Putih pada 2025. Di hadapan ribuan orang yang memadati State Capitol di St. Paul, musisi legendaris Bruce Springsteen turut turun ke panggung sebagai bentuk solidaritas.

Springsteen membawakan lagu bertema anti-kekerasan imigrasi berjudul "Streets of Minneapolis" untuk mengenang para korban. Aksi protes ini pun dilaporkan meluas secara masif dari New York hingga ke kota-kota kecil lainnya.

Di New York City, polisi terpaksa menutup Times Square dan kawasan Midtown Manhattan setelah lebih dari 100.000 orang tumpah ruah ke jalanan. Pemandangan serupa terlihat di Los Angeles, Chicago, Houston, hingga Hartford.

Dalam aksinya, para demonstran membawa berbagai atribut kreatif untuk menyampaikan aspirasi, termasuk boneka burung raksasa setinggi 12 kaki. Hingga saat ini, gelombang protes dilaporkan masih terus berlangsung di sejumlah titik strategis di seluruh wilayah Amerika Serikat.

[TOS]



Berita Lainnya