Internasional
Deretan Pemimpin Negara yang Tewas Usai Menentang Kebijakan Amerika Serikat
Kaltimtoday.co - Amerika Serikat telah lama menjadi aktor utama dalam menentukan arah politik global. Namun, sejarah mencatat bahwa ketika seorang pemimpin negara mengambil sikap yang bertentangan dengan kepentingan Washington, tekanan yang muncul sering kali berujung pada tragedi atau perubahan rezim.
Dihimpun dari berbagai sumber, berikut adalah tujuh pemimpin negara yang tewas di tengah pusaran konflik geopolitik yang melibatkan kepentingan Amerika Serikat:
1. Patrice Lumumba (Kongo)
Perdana Menteri pertama Republik Demokratik Kongo ini digulingkan melalui kudeta militer pada September 1960. Dokumen deklasifikasi Komite Gereja tahun 1975 mengungkap bahwa CIA sempat merancang rencana pembunuhan terhadap Lumumba karena kekhawatiran pengaruh Uni Soviet di Afrika. Lumumba akhirnya dieksekusi oleh musuh politiknya di bawah pengawasan perwira Belgia pada Januari 1961.
2. Muammar Khadafi (Libya)
Khadafi memimpin Libya selama empat dekade dengan sikap vokal menentang hegemoni Barat. Ketegangan memuncak saat ia menggagas mata uang emas Afrika (gold dinar) yang mengancam dominasi dolar. Pada 2011, intervensi militer NATO yang didukung AS menyokong pemberontakan lokal. Khadafi akhirnya ditemukan dan dibunuh secara brutal oleh kelompok pemberontak pada 20 Oktober 2011.
3. Salvador Allende (Chile)
Presiden Marxis yang terpilih secara demokratis ini memicu kemarahan AS setelah menasionalisasi industri tambang milik perusahaan Amerika. Presiden Richard Nixon memerintahkan CIA untuk "membuat ekonomi Chile menjerit". Pada 11 September 1973, Jenderal Augusto Pinochet melancarkan kudeta berdarah yang menyebabkan Allende tewas di dalam istana kepresidenan yang dibombardir.
4. Saddam Hussein (Irak)
Kehancuran Saddam Hussein bermula dari invasi AS ke Irak pada 2003 dengan tuduhan kepemilikan senjata pemusnah massal yang tidak terbukti. Setelah ditangkap dalam operasi militer AS, Saddam diserahkan kepada otoritas Irak untuk diadili. Ia akhirnya dieksekusi gantung pada 30 Desember 2006, sebuah peristiwa yang memicu ketegangan sektarian mendalam di kawasan tersebut.
5. Ngo Dinh Diem (Vietnam Selatan)
Meski awalnya merupakan sekutu penting AS, kebijakan represif Diem membuat Washington mulai meragukan stabilitas kepemimpinannya. Melalui Telegram 243, AS memberi sinyal dukungan terhadap kudeta militer. Pada 2 November 1963, Diem dan saudaranya dibunuh oleh tentara dalam kendaraan lapis baja setelah menyerah dalam sebuah kudeta yang didanai CIA.
6. Maurice Bishop (Grenada)
Pemimpin revolusioner Grenada ini memicu kekhawatiran AS karena kedekatannya dengan Kuba. Setelah ditahan dalam kudeta internal faksi garis keras, Bishop dieksekusi oleh regu tembak pada 19 Oktober 1983. Enam hari berselang, Amerika Serikat langsung melancarkan invasi militer besar-besaran ke Grenada melalui Operasi Urgent Fury.
7. Ayatollah Ali Khamenei (Iran)
Pemimpin Tertinggi Iran ini menjadi tokoh sentral perlawanan terhadap AS di Timur Tengah selama tiga dekade. Khamenei dilaporkan tewas pada 28 Februari 2026 akibat serangan udara presisi yang menargetkan kompleks kediamannya di Teheran. Operasi canggih ini memicu ketegangan global yang luar biasa mengenai kedaulatan negara dan masa depan stabilitas di kawasan Teluk.
[RWT]
Related Posts
- Catat! Ini Jadwal Lengkap 104 Pertandingan Piala Dunia 2026 Zona WITA dari Fase Grup hingga Final
- FIFA's Infantino defends World Cup ticket prices, says fans 'should chill' about ref denied US entry
- Somali soccer referee denied entry to US for World Cup is welcomed home as a hero
- Israel says Iran launched missiles at it in first such bombardment since fragile ceasefire
- Sempat Perang dengan AS, Timnas Iran Akhirnya Kantongi Visa Piala Dunia 2026









