Nasional

Gencatan Senjata Iran-AS: Selat Hormuz Dibuka Terbatas, Hanya 12 Kapal per Hari

Network — Kaltim Today 09 April 2026 14:42
Gencatan Senjata Iran-AS: Selat Hormuz Dibuka Terbatas, Hanya 12 Kapal per Hari
Ilustrasi Selat Hormuz. (Beritasatu.com)

Kaltimtoday.co - Pemerintah Iran resmi mengeluarkan rute pelayaran alternatif bagi kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz, Kamis (9/4/2026). Kebijakan strategis ini diambil guna memitigasi risiko keamanan dari ancaman ranjau laut yang tersebar di jalur navigasi utama pascakonflik di Timur Tengah.

Pengumuman rute baru ini bertepatan dengan dimulainya kesepakatan gencatan senjata selama 14 hari antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang dimediasi oleh Pakistan. Jeda konflik ini diharapkan mampu meredam lonjakan harga energi dunia yang sempat melambung.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menegaskan bahwa seluruh kapal yang melintas wajib mematuhi protokol navigasi baru. Jalur pelayaran kini digeser dari rute internasional konvensional ke jalur alternatif yang berada di bawah pengawasan ketat radar dan patroli militer Iran.

“Semua kapal yang bermaksud melintasi Selat Hormuz diberitahu untuk mematuhi prinsip keselamatan maritim agar terlindungi dari kemungkinan tabrakan dengan ranjau laut. Mereka harus mengambil rute alternatif,” bunyi pernyataan IRGC yang dilaporkan AFP.

Skema Rute Melalui Pulau Larak

Dalam aturan baru ini, Iran menetapkan titik masuk dan keluar khusus guna menghindari penumpukan kapal di zona rawan. Kapal yang datang dari arah Laut Oman diarahkan menuju sisi utara Pulau Larak sebelum memasuki Teluk. Sebaliknya, kapal yang keluar dari Teluk menuju Laut Oman harus melewati jalur selatan pulau tersebut.

Pengaturan ini membuat posisi kapal menjadi lebih dekat dengan wilayah pesisir Iran. Dampaknya, militer Iran dapat memantau identitas serta muatan kapal secara lebih individual dan ketat.

Kapasitas Terbatas dan Wacana Biaya Transit

Meski jalur telah dibuka, volume pelayaran di Selat Hormuz masih jauh dari angka normal. Iran membatasi lalu lintas hanya sekitar 12 kapal per hari selama masa gencatan senjata. Angka ini turun drastis dibandingkan kondisi sebelum konflik yang rata-rata mencapai 100 kapal per hari.

Berdasarkan data S&P Global Market Intelligence, pada Rabu (8/4/2026), hanya terpantau empat kapal yang melintas akibat ketatnya prosedur keamanan.

Selain rute dan kuota, muncul wacana penerapan biaya transit bagi kapal yang melewati Selat Hormuz, serupa dengan sistem di Terusan Suez. Meskipun Uni Emirat Arab dan Qatar menyatakan keberatan, isu pemungutan biaya ini tetap masuk dalam poin pembahasan negosiasi lanjutan di Islamabad.

Pembukaan jalur alternatif ini menjadi angin segar bagi negara importir minyak besar seperti China, India, dan Jepang. Kelancaran arus tanker di jalur yang memasok seperlima kebutuhan minyak dunia ini sangat krusial untuk menekan harga minyak Brent yang sempat menyentuh level US$ 120 per barel. 

[RWT] 



Berita Lainnya