Internasional

Iran Serang Infrastruktur Minyak dan Gas di Teluk, Harga Komoditas Global Melonjak

Network — Kaltim Today 04 Maret 2026 07:32
Iran Serang Infrastruktur Minyak dan Gas di Teluk, Harga Komoditas Global Melonjak
Citra satelit terbaru mengungkap dampak serangan drone Iran yang menargetkan salah satu kilang minyak terbesar di dunia. (Beritasatu.com)

Kaltimtoday.co - Ketegangan di kawasan Teluk meningkat tajam setelah Iran melancarkan serangan terhadap berbagai infrastruktur energi di sejumlah negara pada Selasa (3/3/2026). Serangan ini mengakibatkan gangguan produksi massal dan memicu kenaikan harga komoditas di pasar global.

Wilayah yang menjadi sasaran mencakup negara-negara sekutu Amerika Serikat (AS), seperti Qatar, Oman, dan Uni Emirat Arab (UEA). Iran dilaporkan memperluas jangkauan targetnya dengan menyasar fasilitas energi vital di kawasan tersebut, tidak lagi terbatas pada aset milik AS.

Perusahaan energi milik negara Qatar, QatarEnergy, terpaksa menghentikan sebagian produksi hilir setelah dua fasilitas pengolahan gas mereka diserang. Dampak penghentian ini mencakup produksi urea, polimer, metanol, hingga aluminium.

Langkah darurat QatarEnergy tersebut langsung berdampak pada pasar internasional dengan kenaikan harga aluminium sekitar 2 persen di London Metal Exchange. Sebelumnya, QatarEnergy juga sempat menghentikan produksi LNG akibat serangan drone yang memicu lonjakan harga gas di Eropa.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, mengungkapkan bahwa rudal Iran juga diarahkan untuk menargetkan bandara di Doha. Namun, proyektil tersebut berhasil dicegat oleh kekuatan militer sebelum mencapai sasaran.

Sementara itu di Oman, sejumlah drone menyerang Pelabuhan Duqm yang terletak di pantai timur negara tersebut. Sumber keamanan yang dikutip Oman News Agency menyatakan kerusakan akibat serangan tersebut dapat dikendalikan dan tidak memakan korban jiwa.

Peristiwa ini merupakan serangan kedua dalam tiga hari terakhir yang menyasar Pelabuhan Duqm. Sebelumnya pada Minggu (1/3/), dua drone menghantam lokasi yang sama hingga menyebabkan seorang pekerja terluka akibat ledakan di area akomodasi.

Serangan ini menjadi yang pertama kalinya menyasar Oman sejak konflik pecah di kawasan. Selama ini, Oman dikenal memiliki posisi netral dan kerap berperan sebagai mediator antara pihak Iran dan Amerika Serikat.

Otoritas Oman melaporkan telah menembak jatuh dua drone lainnya, sementara satu unit drone dilaporkan jatuh di dekat Pelabuhan Salalah. Di saat yang bersamaan, serangan juga dilaporkan terjadi di wilayah Uni Emirat Arab.

Puing drone yang berhasil dicegat di UEA memicu kebakaran di zona penyimpanan dan perdagangan minyak di Emirat Fujairah. Pihak berwenang setempat mengonfirmasi tidak ada korban luka dan aktivitas pelabuhan telah kembali normal setelah api dipadamkan.

Pemerintah Uni Emirat Arab mencatat negaranya telah menjadi sasaran lebih dari 800 drone dan hampir 200 rudal sejak konflik bermula. Skala serangan yang masif ini terus mengancam stabilitas pasokan energi dunia dari kawasan Teluk.

Analis dari ING Group menilai gangguan pada produksi aluminium akan menambah tekanan berat pada pasar global. Mereka memperingatkan bahwa ketegangan di Timur Tengah meningkatkan risiko signifikan terhadap ketersediaan pasokan logam tersebut.

Data menunjukkan sekitar 8 persen produksi aluminium global berada di kawasan Teluk. Seluruh distribusi komoditas ini sangat bergantung pada jalur pelayaran melalui Selat Hormuz yang kini berada dalam zona bahaya.

Kekhawatiran pasar semakin diperkuat oleh pernyataan seorang jenderal dari Korps Garda Revolusi Islam Iran. Pihak Iran sebelumnya mengancam akan membakar kapal apa pun yang mencoba melintasi Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital pengiriman minyak dan gas dunia.

[RWT] 



Berita Lainnya