Internasional

Konflik Iran Memanas, Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Anjlok hingga 70 Persen

Network — Kaltim Today 02 Maret 2026 07:18
Konflik Iran Memanas, Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Anjlok hingga 70 Persen
Citra satelit menunjukkan penurunan drastis kepadatan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz pascaserangan udara ke Iran. (Beritasatu.com)

Kaltimtoday.co - Lalu lintas kapal komersial di Selat Hormuz dilaporkan anjlok tajam menyusul serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada Sabtu (28/2/2026). Jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman ini merupakan salah satu arteri maritim paling vital bagi stabilitas perdagangan energi dunia.

Data pelacakan dari platform MarineTraffic menunjukkan penurunan pergerakan kapal hingga 70 persen yang melintasi wilayah tersebut hingga Minggu (1/3/2026) malam waktu Iran. Sebagian besar kapal komersial memilih untuk berputar arah, mengalihkan rute perjalanan, atau berhenti sementara di perairan Teluk Oman demi keamanan.

Berdasarkan laporan perusahaan pemantau pengiriman minyak TankerTrackers.com, saat ini terdapat sekitar 55 kapal tanker yang masih tertahan di perairan Iran. Dari jumlah tersebut, 18 kapal diketahui bermuatan minyak mentah, sementara 37 lainnya dalam kondisi kosong.  

Kondisi kemacetan di Selat Hormuz ini diprediksi akan mengancam pasokan energi global sekaligus menghambat ekspor minyak dari Iran sendiri. Analis maritim Dimitris Ampatzidis menyebutkan bahwa negara-negara eksportir besar seperti Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, dan Qatar akan menjadi pihak yang paling terdampak. 

Meski situasi mencekam, sejumlah kapal dilaporkan masih berupaya melintasi perairan tersebut. Mantan pejabat kepatuhan sanksi Departemen Keuangan AS, David Tannenbaum, menilai pergerakan kapal-kapal itu kemungkinan merupakan upaya untuk segera keluar dari zona konflik sebelum situasi keamanan semakin memburuk.

Pihak militer Iran sebelumnya telah mengeluarkan peringatan keras agar seluruh kapal menghindari Selat Hormuz karena dinilai tidak aman untuk dilalui. Namun, hingga saat ini pejabat Amerika Serikat menyatakan belum menemukan bukti otentik bahwa Iran tengah melakukan blokade militer secara penuh atas jalur internasional tersebut.

Para analis menilai langkah menutup total Selat Hormuz akan menjadi tantangan berat bagi Teheran karena membutuhkan kehadiran militer berkelanjutan yang berisiko menguras kapasitas operasi di sektor lain. Di sisi lain, Presiden Donald Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat siap menghancurkan kemampuan angkatan laut Iran jika diperlukan.

[RWT] 



Berita Lainnya