Ekonomi dan Bisnis

BI Diminta Turunkan Bunga SRBI demi Sehatkan Pasar SBN dan Struktur Pasar Keuangan

Network — Kaltim Today 21 Mei 2026 05:02
BI Diminta Turunkan Bunga SRBI demi Sehatkan Pasar SBN dan Struktur Pasar Keuangan
Ilustrasi. (Istimewa)

Kaltimtoday.co - PT Trimegah Sekuritas Indonesia menilai Bank Indonesia (BI) perlu mulai menurunkan suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) secara bertahap. Langkah ini disarankan setelah bank sentral menaikkan BI rate menjadi sebesar 5,25 persen.

Analis Trimegah Sekuritas, Fakhrul Fulvian, menjelaskan bahwa penurunan suku bunga instrumen tersebut penting dilakukan agar likuiditas tidak terus terkonsentrasi pada instrumen jangka pendek. Menurutnya, kondisi likuiditas yang mandek di jangka pendek berpotensi mengganggu kesehatan pasar obligasi domestik.

"Setelah BI rate naik, SRBI tidak boleh terlalu lama menjadi magnet utama likuiditas. Kalau SRBI terlalu menarik, dana akan terus terkonsentrasi di instrumen pendek. Ini bisa mengganggu pasar SBN, menekan yield curve, dan membuat transmisi kebijakan tidak sehat," ujar Fakhrul pada Rabu (20/5/2026).

Fakhrul menambahkan bahwa normalisasi kurva imbal hasil atau yield curve menjadi faktor penting saat ini. Hal tersebut diperlukan untuk mendorong masuknya investor ke instrumen obligasi jangka panjang, sekaligus memperbaiki ekspektasi pasar terhadap mata uang rupiah.

Lebih lanjut, ia menilai stabilitas nilai tukar rupiah tidak cukup jika hanya ditopang oleh kebijakan suku bunga tinggi. Rupiah dinilai membutuhkan struktur pasar keuangan yang jauh lebih sehat, kuat, dan kredibel.

"BI sudah melakukan bagian pertamanya. Sekarang perlu fase kedua yaitu SRBI turun, yield curve diperbaiki, dan ekspektasi pasar dinormalkan. Rupiah tidak hanya butuh suku bunga tinggi, rupiah butuh struktur pasar yang kredibel," kata Fakhrul menjelaskan.

Selain kebijakan moneter dari bank sentral, sinergi antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) juga disebut sebagai faktor krusial. Koordinasi ini penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah secara berkelanjutan.

Fakhrul menekankan bahwa penyelarasan kebijakan moneter dan fiskal sangat diperlukan untuk menjaga kepercayaan pasar terhadap fundamental ekonomi Indonesia, terutama di tengah tingginya tekanan global saat ini.

"BI dan Kemenkeu harus kompak. BI menjaga jangkar stabilitas, Kemenkeu menjaga kredibilitas fiskal. Kalau keduanya berjalan bersama, rupiah bisa menguat, yield bisa lebih sehat, dan pasar akan kembali percaya pada cerita besar Indonesia," ucapnya memungkasi. 

[RWT] 



Berita Lainnya