Ekonomi dan Bisnis

IHSG Ambles ke Level 5.486 pada Awal Pekan, Analis Peringatkan Risiko Drop ke 4.000

Network — Kaltim Today 08 Juni 2026 18:28
IHSG Ambles ke Level 5.486 pada Awal Pekan, Analis Peringatkan Risiko Drop ke 4.000
Ilustrasi IHSG (Beritasatu.com)

Kaltimtoday.co - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan tren koreksi tajam pada pembukaan perdagangan Senin (8/6/2026). Sentimen negatif pasar ini memperpanjang rentetan tekanan yang melanda pasar modal domestik sejak beberapa waktu terakhir.

Berdasarkan data dari RTI Business, IHSG langsung ambruk dengan turun sebesar 108,45 poin atau merosot sekitar 1,94 persen, sehingga terlempar ke level 5.486,31 pada pembukaan perdagangan sesi I.

Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai bahwa gelombang koreksi di pasar saham ini masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek. Risiko tersebut tetap terbuka lebar apabila arus modal asing yang keluar (capital outflow) dan volatilitas pelemahan kurs rupiah belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Ibrahim mencatat, hantaman yang diterima IHSG pada awal pekan ini tergolong cukup dalam. Pasalnya, kejatuhan indeks saham terjadi secara simultan dengan terpuruknya nilai tukar rupiah dan meningkatnya tensi kekhawatiran para pelaku pasar terhadap stabilitas makro ekonomi dalam negeri.

“Hari ini rupiah dibuka melemah cukup tajam, yaitu Rp 18.129. Kemudian IHSG juga mengalami penurunan hampir 2,92% (pada puncaknya),” ujar Ibrahim saat memberikan analisis pasar kepada Beritasatu.com, Senin (8/6/2026).

Kelesuan pasar modal ini tercermin jelas dari data pergerakan emiten, di mana mayoritas saham kompak bergerak di zona merah. Hingga bergulirnya awal sesi perdagangan, sekitar 1,4 miliar volume saham telah berpindah tangan dengan akumulasi nilai transaksi menembus Rp 1 triliun melalui frekuensi perdagangan sebanyak 113.128 kali. 

Dari keseluruhan saham yang ditransaksikan di bursa, sebanyak 478 saham mencatatkan pelemahan harga. Sebaliknya, hanya ada 69 saham yang berhasil menguat, sementara 127 saham lainnya bergerak stagnan di posisi semula.

Menurut analisis Ibrahim, pemicu utama yang menguras tenaga IHSG adalah kepanikan investor yang memicu aksi jual massal. Pelemahan mata uang Garuda secara otomatis membuat para investor, terutama investor asing, mengambil langkah defensif demi mengamankan aset mereka.

“Kita harus tahu dalam perdagangan hari ini arus keluar modal sangat besar di pasar modal karena merosotnya mata uang rupiah,” jelas Ibrahim menambahkan.

Merujuk pada data Bloomberg di pasar spot, nilai tukar rupiah dibuka melosot 79,50 poin atau turun 0,44 persen ke posisi Rp 18.115 per dolar Amerika Serikat (AS). Sementara indeks dolar AS (DXY) terus merangkak naik ke level 100,091. Padahal pada perdagangan Jumat (5/6/2026), rupiah sempat memunculkan harapan setelah ditutup menguat terbatas di level Rp 18.036 per dolar AS.

Melihat kalkulasi teknikal saat ini, Ibrahim memproyeksikan IHSG berisiko terperosok ke zona yang jauh lebih dalam. Wilayah psikologis di level 4.000 disebut menjadi area kritis rawan yang wajib diwaspadai hingga penutupan Juni 2026 jika sentimen tidak kunjung membaik.

“Kemudian untuk IHSG, kemungkinan besar ini akan menuju level terkritis, yaitu 4.000 sampai akhir Juni 2026,” kata Ibrahim memperingatkan.

Lebih lanjut, ia membeberkan bahwa tekanan eksternal dan internal datang secara bersamaan (multi-shocks). Dari kancah global, pasar mencermati eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, keperkasaan indeks dolar, serta ketidakpastian arah suku bunga acuan bank sentral AS (The Fed).

Sementara dari dalam negeri, perhatian para pelaku pasar tertuju pada rapor kenaikan inflasi bulanan, penyempitan surplus neraca perdagangan, tingginya kebutuhan korporasi akan dolar untuk mengimpor minyak, hingga kekhawatiran pasar terhadap ruang beban fiskal (APBN) pemerintah.  

[RWT] 



Berita Lainnya