Internasional

Harga Avtur Tembus US$ 200 Imbas Perang Iran, Maskapai Dunia Mulai Naikkan Tarif Tiket

Network — Kaltim Today 11 Maret 2026 09:34
Harga Avtur Tembus US$ 200 Imbas Perang Iran, Maskapai Dunia Mulai Naikkan Tarif Tiket
Ilustrasi. (Pexels)

Kaltimtoday.co - Sejumlah maskapai penerbangan global mulai menaikkan harga tiket pesawat sebagai dampak langsung lonjakan harga bahan bakar avtur. Kenaikan tajam biaya operasional ini dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS).

Mengutip Reuters, maskapai besar seperti Qantas Airways, Scandinavian Airlines (SAS), dan Air New Zealand telah mengumumkan penyesuaian tarif pada Selasa (10/3/2026). Langkah ini diambil guna menjaga stabilitas operasi perusahaan di tengah ketidakpastian pasar energi.

Air New Zealand mencatat harga avtur meroket dari kisaran US$ 85–US$ 90 per barel menjadi US$ 150 hingga US$ 200 per barel pascaserangan terhadap Iran. Akibat lonjakan drastis ini, maskapai tersebut memutuskan menangguhkan proyeksi keuangan untuk tahun 2026.

Terganggunya jalur pengiriman minyak di rute ekspor energi paling penting dunia telah mendorong harga minyak global ke level tertinggi. Kondisi ini memicu kekhawatiran industri terhadap penurunan permintaan perjalanan udara di masa depan.

"Kenaikan sebesar ini membuat kami harus mengambil langkah agar operasi tetap stabil dan dapat diandalkan," ujar juru bicara SAS dalam keterangannya kepada Reuters. SAS mengonfirmasi telah menerapkan penyesuaian harga tiket sementara.

Menghadapi krisis ini, beberapa maskapai seperti Lufthansa dan Ryanair menerapkan strategi lindung nilai bahan bakar (oil hedging). Strategi ini dilakukan untuk mengamankan sebagian pasokan avtur dengan harga tetap di tengah fluktuasi pasar.

Maskapai Finnair yang telah mengamankan 80 persen kebutuhan bahan bakar untuk kuartal I-2026 turut memperingatkan risiko krisis berkepanjangan. Menurut mereka, krisis tidak hanya akan memengaruhi harga, tetapi juga ketersediaan pasokan.

“Apabila krisis berlangsung lama, hal itu tidak hanya akan memengaruhi harga bahan bakar, tetapi juga ketersediaannya, setidaknya untuk sementara,” ungkap juru bicara Finnair.

Di sisi lain, produksi bahan bakar jet dari eksportir utama seperti Kuwait dilaporkan mengalami penurunan. Hal ini menambah beban pasokan bagi wilayah Eropa Barat Laut yang sangat bergantung pada impor dari kawasan tersebut.

Selain persoalan bahan bakar, keamanan ruang udara menjadi kendala besar. Layanan Flightradar24 melaporkan sejumlah pesawat tujuan Dubai sempat tertahan di udara pada Selasa akibat potensi serangan rudal sebelum akhirnya diizinkan mendarat.

Menanggapi situasi ini, Qantas mempertimbangkan untuk mengalihkan kapasitas penerbangan internasional ke rute Eropa guna menghindari wilayah konflik. Langkah ini dilakukan demi menjamin keselamatan penumpang dan awak pesawat.

Penutupan ruang udara di Timur Tengah secara otomatis memicu lonjakan harga tiket rute Asia–Eropa karena keterbatasan kapasitas. Maskapai Cathay Pacific bahkan mulai menambah jadwal penerbangan ekstra ke London dan Zurich untuk mengantisipasi tingginya permintaan di tengah krisis.

[RWT]



Berita Lainnya