Pendidikan

Jalan Panjang Muhammad Ridho: Dari Guru Honorer Bergaji Kecil Jadi Doktor ke-12 UINSI Samarinda

Kaltim Today
29 April 2026 10:05
Jalan Panjang Muhammad Ridho: Dari Guru Honorer Bergaji Kecil Jadi Doktor ke-12 UINSI Samarinda
Muhammad Ridho Muttaqin saat menjalani prosesi wisuda sebagai doktor ke-12 di UIN Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Rabu (29/4/2026).

SAMARINDA, Kaltimtoday.co - Muhammad Ridho Muttaqin membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk mencapai puncak akademik. Mantan guru honorer yang pernah mengajar dengan upah Rp 150 ribu per bulan ini resmi dikukuhkan sebagai Doktor Pendidikan Agama Islam (PAI) ke-12 di UIN Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Rabu (29/4/2026).

Ridho meraih predikat "Dengan Pujian" atau Summa Cum Laude dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4,00. Pencapaian ini merupakan puncak dari ujian promosi doktor yang diikutinya pada 2 Januari 2026 lalu di Auditorium Kampus 1 UINSI Samarinda.

Perjalanan putra pasangan Sachdianor Supatra dan Helyati ini tergolong unik karena konsistensinya menempuh pendidikan di satu institusi. Sejak jenjang S1, S2, hingga S3, Ridho setia menempuh studi di kampus yang bertransformasi dari STAIN, IAIN, hingga kini menjadi UINSI Samarinda.

“Dari S1 sampai S3, saya di sini,” ujar Ridho mengenang jejak akademiknya.

Latar belakang keluarga pendidik menjadi fondasi kuat bagi Ridho. Almarhum ayahnya dan sang ibu adalah guru PAI di sekolah dasar. Ridho pun sempat mengikuti jejak mereka sebagai guru honorer dengan penghasilan sangat terbatas sebelum memutuskan untuk terus melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.

Dalam disertasinya yang dibimbing oleh Prof. Dr. Muhammad Nasir dan Prof. Dr. H. Muhammad Abzar Duraesa, Ridho mengembangkan Learning Life Module. Inovasi ini berangkat dari kegelisahannya melihat pembelajaran PAI di sekolah yang cenderung bersifat tekstual dan hafalan.

Penelitiannya di SMA Negeri se-Kalimantan Timur menunjukkan bahwa pemahaman siswa seringkali hanya berhenti pada aspek kognitif dasar. Melalui modul berbasis konteks kehidupan nyata ini, Ridho menawarkan cara agar siswa mampu mengaitkan konsep agama dengan persoalan sosial, etika, dan keseharian secara lebih mendalam.

Direktur Pascasarjana UINSI Samarinda, Prof. Dr. H. Mukhamad Ilyasin, menilai sidang promosi Ridho bukan sekadar formalitas akademik, melainkan ruang uji kontribusi keilmuan terhadap kebutuhan masyarakat nyata di Kaltim.

Bagi Ridho, gelar tertinggi ini ia dedikasikan sepenuhnya untuk kedua orang tuanya. Ia mengingat pesan mendalam almarhum ayahnya yang selalu meyakinkannya untuk menekuni ilmu agama.

“Ayah saya selalu bilang, kalau kuliah di kampus agama, kamu tidak akan kelaparan dan hidupmu akan terus menjadi berkah. Saya melakukan ini semua untuk meneruskan semangat almarhum ayahanda dan membuat bangga ibunda,” pungkasnya.

[TOS]


Berita Lainnya