Daerah

Pengamat Soroti Pertemuan Presiden BEM KM Unmul dengan Jokowi: Harus Siap dengan Konsekuensi 

Defrico Alfan Saputra — Kaltim Today 04 Agustus 2026 19:32
Pengamat Soroti Pertemuan Presiden BEM KM Unmul dengan Jokowi: Harus Siap dengan Konsekuensi 
Pengamat Hukum Universitas Mulawarman, Herdiansyah Hamzah. (Istimewa)

Kaltimtoday.co, Samarinda - Pertemuan antara Presiden BEM KM Universitas Mulawarman Hiththan Hersya Putra dengan Mantan Presiden RI ke-7 Joko Widodo menuai kontroversi. Pro dan kontra hingga berdampak pada pengunduran jabatan, menambah catatan hitam di lingkungan BEM KM Universitas Mulawarman.

Meski sudah mundur dari jabatannya, banyak yang menyoroti pertemuan tersebut termasuk pengamat di lingkungan civitas akademika Universitas Mulawarman.

Pengamat Hukum Universitas Mulawarman, Herdiansyah Hamzah menilai tidak ada alasan yang dapat membenarkan keputusan Presiden BEM KM Universitas Mulawarman (Unmul) bertemu dan berfoto bersama Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi). Menurutnya, sebagai pemegang amanah dan simbol keluarga besar mahasiswa Unmul, setiap keputusan yang diambil seharusnya sudah dipertimbangkan beserta konsekuensinya.

Castro, sapaan akrabnya, juga menilai alasan yang disampaikan terkait dirinya yang disebut dijembatani atau dipaksa untuk berfoto tidak masuk akal. Menurutnya, apabila benar demikian, seharusnya seorang Presiden BEM memiliki sikap dan martabat untuk menentukan pilihan dalam situasi tersebut. 

“Kalau kemudian dia menggunakan alasan-alasan yang tidak masuk akal, sebenarnya dia ini sedang terdesak dan menggunakan segala macam alasan membela dirinya kepada teman-temannya, kepada publik, dan sebagainya,” kata Castro.

Lebih lanjut, Castro menduga pertemuan tersebut berkaitan dengan agenda Kongres BEM Kerakyatan di Jambi. Ia menduga ada kepentingan untuk meminta restu kepada Jokowi. Namun, menurutnya, langkah tersebut justru bertentangan dengan prinsip dan komitmen gerakan mahasiswa yang selama ini dibawa.

Karena itu, Castro menilai pengunduran diri Presiden BEM KM Unmul merupakan pilihan yang paling tepat sebagai bentuk pertanggungjawaban. 

“Pilihan ketika kemudian dia mengundurkan diri, saya kira adalah pilihan yang paling tepat untuk menjaga marwah dan martabat gerakan mahasiswa, sekaligus keluarga besar di kampus Unmul,” pungkasnya.

Langkah yang diambil oleh mantan presiden BEM KM Unmul tersebut, dinilai sama seperti melacurkan gerakannya sendiri, hingga melanggar prinsip-prinsip organisasi mahasiswa.

"Itu bertentangan dengan komitmen-komitmen yang seolah-olah tidak ada harganya di hadapan mahasiswa maupun teman-teman di luar," tegasnya.

Sebagai informasi, atas tindakan yang dilakukan Hiththan, membuat beberapa anggota BEM KM Unmul juga ikut mundur dari jabatan karena kekecewaannya. Sampai saat ini, belum ada informasi siapa pengganti untuk mengisi jabatan Presiden BEM KM Universitas Mulawarman selanjutnya.

[RWT] 



Berita Lainnya