Daerah
Kaltim Bukan Cuma Batu Bara, Ada Masa Depan di Pesisir Kaltim!
Kaltimtoday.co, Samarinda - Selama puluhan tahun, ekonomi Kalimantan Timur (Kaltim) identik dengan pengerukan kekayaan alam dari industri ekstraktif. Namun dominasi komoditas fosil kini berada di persimpangan jalan seiring dengan program energi bersih global.
Data menunjukkan ketergantungan Kaltim pada sektor pertambangan mulai menunjukkan tren penurunan, yakni dari 43,19 persen pada 2023 menjadi 34,18 persen pada 2025. Kondisi ini menuntut Kaltim untuk segera melakukan diversifikasi ekonomi di sektor lain, mulai dari pertanian, pengolahan, ekowisata, hingga perairan.
Dalam diskusi terbaru Podcast green Zetizen bertajuk “Kaltim Bukan Cuma Batu Bara, Ada Masa Depan di Pesisir kita!”, terungkap bahwa sektor ekonomi biru bisa menjadi tumpuan harapan baru bagi keberlanjutan ekonomi kaltim di masa depan.
Prof. Esti Handayani Hardi, akademisi dari Universitas Mulawarman, membedah bagaimana proyek revitalisasi tambak dan pelestarian mangrove bukan sekadar isu lingkungan, melainkan instrumen kunci untuk menciptakan lapangan kerja baru atau Green Jobs bagi generasi muda.
Salah satu poin krusial yang dibahas dalam diskusi ini terkait miskonsepsi mengenai revitalisasi tambak yang menjadi salah satu proyek nasional strategis di Indonesia saat ini. Prof Esti menjelaskan bahwa fokus utama dari program ini bukanlah membuka lahan baru melainkan memulihkan tambak-tambak idle atau mangkrak yang jumlahnya meningkat sejak krisis moneter.
“Revitalisasi ini bukan kita membuka tambak baru, melainkan memulihkan ekosistem dari tambak-tambak yang mangkrak tadi,” jelas Prof Esti.
Ia menjelaskan bahwa tambak yang ditelantarkan tanpa pengelolaan justru menjadi ancaman serius karena tanahnya mengeras, tingkat keasaman meningkat, dan mulai melepas emisi karbon ke atmosfer.
Di tengah upaya diversifikasi ini, Kaltim memiliki modal besar berupa ekosistem mangrove yang luas. Faktanya, sekitar 80 persen spesies mangrove dunia terdapat di Indonesia, dan mayoritas spesies tersebut ditemukan di kawasan pesisir Kaltim, terutama di Delta Mahakam.
Keberadaan hutan mangrove ini memegang peran krusial sebagai benteng pertahanan alami sekaligus stabilisator iklim global. Secara ekologis, mangrove berfungsi sebagai penahan abrasi untuk melindungi pemukiman warga di garis pantai. Lebih jauh, akar-akar mangrove yang rapat bertindak sebagai penyaring alami (biofilter) yang menyerap polutan logam berat, memastikan kualitas air pesisir tetap terjaga untuk ekosistem di sekitarnya.
Di level global, mangrove berperan dalam mitigasi krisis iklim. Hutan payau ini mampu menyimpan cadangan karbon hingga lima kali lipat lebih banyak dibandingkan hutan tropis daratan. Dengan menjaga ekosistem mangrove tetap lestari, Kaltim tidak hanya melindungi biodiversitas lokal, tetapi juga berkontribusi langsung dalam mencegah pelepasan karbon masif ke atmosfer yang memicu pemanasan global.
Selain fungsi perlindungan, mangrove juga menjadi rumah bagi berbagai biota laut seperti udang, kepiting, dan berbagai jenis ikan. Pelestarian mangrove secara otomatis menjamin ketersediaan stok ikan bagi nelayan tradisional dan memberikan peluang menjanjikan bagi anak muda melalui potensi ekonomi mangrove di pasar karbon.
“Kemampuan menyerap karbon yang masif membuka peluang bagi masyarakat pesisir untuk mendapatkan insentif dari perdagangan karbon internasional,” ujar Prof Esti
Keberlanjutan ekosistem inilah yang kemudian membuka pintu bagi Green Jobs. Prof. Esti menekankan bahwa sektor perikanan budidaya modern kini mulai mengadopsi teknologi ramah lingkungan, seperti Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan sistem tandon untuk menjaga kualitas air.
“Green job ini sekarang sedang sangat gencar. Anak muda bisa masuk melalui asosiasi atau NGO lingkungan, karena pendanaan dari luar negeri untuk sektor ini sangat besar sekali,” tambahnya.
Transformasi ini terbukti mampu meningkatkan produktivitas sekotr perikanan dari yang semula hanya menghasilkan 25-50 kg per hektare, bisa melompat hingga 400 kg melalui pengelolaan yang tepat.
Di akhir diskusi, Prof. Esti mengajak generasi muda untuk mulai melirik potensi pesisir sebagai masa depan karir yang seksi dan berkelanjutan, bukan lagi hanya terpaku pada sektor formal konvensional.
“Menjaga pesisir bukan berarti menghambat ekonomi. Sebaliknya, dengan merawat mangrove dan revitalisasi tambak secara saintifik, kita sedang membangun mesin ekonomi berkelanjutan yang tidak akan habis dikeruk waktu,” pungkasnya.
[ADV]
Related Posts
- Another World Cup stunner: Cape Verde gets 1st goal of tournament and holds Uruguay to 2-2 draw
- Sentil Proyek Teras Samarinda hingga Pasar Pagi, PDIP Dorong Pemkot Gunakan Konsep Trisakti
- Inspektorat Kukar Selidiki Temuan BPK, Sejumlah Pihak Mulai Kembalikan Dana
- Kasus Korupsi Hibah DBON, Mantan Kadispora Kaltim Agus Hari Kesuma Divonis 2,5 Tahun Penjara
- Zairin Zain Divonis 4 Tahun Penjara Kasus DBON Kaltim, Kuasa Hukum Isyaratkan Banding









