Internasional

Konflik Pakistan-Afganistan Memanas, Pengeboman RS di Kabul Tewaskan 400 Orang

Network — Kaltim Today 17 Maret 2026 10:43
Konflik Pakistan-Afganistan Memanas, Pengeboman RS di Kabul Tewaskan 400 Orang
Petugas penyelamat mengevakuasi korban di reruntuhan rumah sakit rehabilitasi narkoba di Kabul, Afganistan, yang hancur akibat serangan udara, Senin (16/3/2026) malam. (Beritasatu.com)

Kaltimtoday.co - Pemerintah Afganistan menuduh Pakistan melakukan serangan udara yang menargetkan sebuah rumah sakit rehabilitasi narkoba di ibu kota Kabul, Senin (16/3/2026) malam. Insiden berdarah ini dilaporkan menewaskan sedikitnya 400 orang dan melukai 250 lainnya.

Serangan ini menandai eskalasi dramatis dalam konflik bersenjata antara kedua negara yang pecah sejak akhir bulan lalu. Meskipun komunitas internasional terus menyerukan gencatan senjata, bentrokan lintas perbatasan dan serangan udara justru kian intensif.

Wakil Juru Bicara Pemerintah Afganistan, Hamdullah Fitrat, melalui unggahan di media sosial X menyatakan bahwa serangan terjadi sekitar pukul 21.00 waktu setempat. Bom dilaporkan menghantam fasilitas berkapasitas 2.000 tempat tidur tersebut hingga sebagian besar bangunan hancur.

Rekaman video lokal memperlihatkan suasana mencekam saat petugas penyelamat berupaya mengevakuasi korban dari reruntuhan bangunan yang terbakar di tengah kegelapan. Juru bicara pemerintah Afganistan, Zabihullah Mujahid, mengutuk keras aksi tersebut.

"Kami mengutuk keras kejahatan ini dan menganggap tindakan tersebut bertentangan dengan semua prinsip yang diterima," tulis Mujahid melalui akun X miliknya.

Di sisi lain, pemerintah Pakistan membantah keras tuduhan bahwa pihaknya telah sengaja menargetkan situs sipil. Juru Bicara Perdana Menteri Pakistan, Mosharraf Zaidi, menyebut klaim yang dilontarkan pihak Afganistan tidak berdasar.

Kementerian Informasi Pakistan menyatakan bahwa operasi militer tersebut secara tepat menargetkan instalasi militer dan infrastruktur pendukung teroris milik Taliban Afganistan serta militan Pakistan di Kabul dan Nangarhar. Pakistan menegaskan operasi dilakukan dengan hati-hati guna menghindari kerusakan tambahan (collateral damage).

Tragedi ini terjadi hanya beberapa jam setelah Dewan Keamanan PBB mengadopsi resolusi yang mendesak penguasa Taliban meningkatkan upaya pemberantasan terorisme. Pakistan menuduh Kabul melindungi kelompok Taliban Pakistan (TTP) dan separatis Baloch, namun tuduhan itu konsisten dibantah Afganistan.

Konflik terbaru ini dimulai pada akhir Februari 2026, yang sekaligus menghentikan gencatan senjata hasil mediasi Qatar. Pakistan kini secara terbuka menyatakan tengah berada dalam situasi "perang terbuka" dengan Afganistan.

Wakil Perdana Menteri Afganistan, Abdul Salam Hanafi, menyatakan penyesalannya atas jatuhnya korban sipil dalam insiden ini. Ia menegaskan bahwa perang tersebut merupakan situasi yang dipaksakan kepada rakyatnya.

"Mempertahankan kedaulatan adalah tugas semua warga negara," tegas Hanafi dalam pertemuan bersama tokoh media setempat di Kabul.

[RWT] 



Berita Lainnya