Opini

Perang yang Disebut Damai

Kaltim Today
10 April 2026 13:31
Perang yang Disebut Damai
Syamsul Rijal.

Syamsul Rijal (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman)

Ketika perang disebut damai, apa yang sebenarnya sedang kita saksikan? Pertanyaan ini terasa mendesak di tengah konflik Iran melawan Israel dan Amerika Serikat. Tembakan mungkin mereda, serangan mungkin berhenti sementara, dan istilah “gencatan senjata” mulai digunakan. Namun, di balik semua itu, ketegangan tetap hidup, ancaman belum hilang, dan rasa aman belum benar-benar hadir. Kita lalu menyebut situasi itu dengan satu kata yang terdengar menenangkan: damai. 

Sebagai penutur bahasa, kita terbiasa mengandalkan pasangan makna yang tampak sederhana: perang adalah lawan dari damai. Seolah-olah dunia hanya menyediakan dua pilihan, yakni antara kekerasan atau ketenangan. Namun, pengalaman nyata justru memperlihatkan sesuatu yang lebih rumit. Di antara perang dan damai, terbentang wilayah luas yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan oleh keduanya. Di titik inilah bahasa mulai menunjukkan keterbatasannya, dan seperti pernah diingatkan oleh Ferdinand de Saussure, makna tidak berdiri sendiri, melainkan lahir dari relasi yang tidak selalu stabil.

Wilayah itu adalah ruang abu-abu: tidak ada bom yang jatuh, tetapi juga tidak ada rasa aman. Dalam kerangka linguistik, oposisi seperti perang dan damai bukanlah oposisi mutlak. Ia bukan seperti hidup dan mati. Ada kondisi di antaranya: gencatan senjata, konflik laten, ketegangan politik, bahkan “perang dingin”. Dengan kata lain, tidak adanya perang tidak otomatis menghadirkan damai.

Di sinilah bahasa mulai goyah. Pemikir linguistik Ferdinand de Saussure pernah mengingatkan bahwa makna kata muncul dari relasi antar-kata. Kita memahami damai karena ada perang. Namun, ketika realitas tidak lagi sesuai dengan oposisi itu, makna pun ikut terguncang.

Kita mulai menyebut sesuatu sebagai damai, bukan karena ia benar-benar damai, tetapi karena kita tidak memiliki kata lain. Lebih rumit lagi, ketika kita membedakan antara damai dan perdamaian. Yang pertama adalah pengalaman, yang spektrum maknanya terkait rasa tenang, aman, dan tanpa ancaman. Yang kedua adalah konstruksi, yang spektrumnya maknanya terkait hasil negosiasi, dokumen politik, dan kesepakatan diplomatik.

Dalam konflik Iran–Israel–Amerika, yang hadir adalah perdamaian, bukan damai. Ada perundingan, ada kesepakatan, dan ada jeda. Tetapi di tingkat kehidupan sehari-hari, ketegangan tetap terasa. Perdamaian menjadi istilah administratif, bukan pengalaman manusiawi.

Di titik ini, kita dihadapkan pada paradoks yang lebih dalam. Kita sering mendengar ungkapan: perang demi perdamaian. Serangan dilakukan untuk menjaga stabilitas. Kekerasan dibenarkan atas nama keamanan. Logika ini bukan sekadar retorika, melainkan cara berpikir yang sudah mengakar.

Pendekatan linguistik kognitif dari George Lakoff menjelaskan bahwa manusia memahami dunia melalui metafora. Salah satu metafora paling kuat dalam politik global adalah bahwa perang adalah jalan menuju damai. Akibatnya, perang tidak lagi diposisikan sebagai kebalikan dari perdamaian, melainkan sebagai alat untuk mencapainya.

Di sinilah bahasa tidak lagi netral. Kata perdamaian bisa digunakan untuk melegitimasi kekuasaan. Kata damai bisa diumumkan meskipun belum dirasakan. Bahkan kata perang sendiri bisa dihindari, diganti dengan istilah seperti “operasi militer” atau “tindakan strategis”.

Dalam hal ini, bahasa bukan hanya cermin realitas. Bahasa lebih menjadi instrumen yang membentuk cara kita melihat realitas itu sendiri. Maka, ketika kita membaca berita tentang “gencatan senjata” atau “perdamaian sementara”, mungkin yang perlu kita tanyakan bukan hanya apa yang terjadi, tetapi juga, makna apa yang sedang dibangun?

Apakah kita benar-benar hidup dalam damai? Ataukah kita hanya hidup dalam dunia yang sedang berhenti sejenak dari perang? Pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Tetapi justru di situlah pentingnya kesadaran berbahasa. Kita perlu waspada terhadap kata-kata yang tampak sederhana, tetapi menyimpan kompleksitas yang dalam.

Sebab, dalam dunia yang terus bergejolak, mungkin yang paling berbahaya bukan hanya perang itu sendiri, melainkan keyakinan bahwa kita sudah hidup dalam damai, padahal belum.(*)


*) Opini penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kaltimtoday.co



Berita Lainnya