Kaltim

Rektor Unmul Terpilih Profesor Rudianto Amirta Sesalkan Intervensi Ormas dalam Pilrek, Berharap Transisi Kepemimpinan Diselesaikan Secara Dewasa

Defrico Alfan Saputra — Kaltim Today 03 Oktober 2026 14:28
Rektor Unmul Terpilih Profesor Rudianto Amirta Sesalkan Intervensi Ormas dalam Pilrek, Berharap Transisi Kepemimpinan Diselesaikan Secara Dewasa
Rektor Unmul Terpilih, Profesor Rudianto Amirta.

SAMARINDA, Kaltimtoday.co - Rektor Universitas Mulawarman (Unmul) terpilih, Prof. Rudianto Amirta, menyesalkan keterlibatan pihak luar kampus, termasuk organisasi kemasyarakatan (ormas), dalam polemik Pemilihan Rektor (Pilrek) Unmul periode 2026-2030. Ia menilai hal itu tidak wajar dan mencoreng nama kampus.

"Ini jujur saja, ini jadi viral nasional, dan kita malu sebenarnya dengan kondisi ini. Tidak patut sebenarnya proses kompetisi empat tahunan ini kemudian bermuara kepada intervensi pihak-pihak luar, dalam hal ini ormas dan lain-lain," kata Rudianto, Jumat (2/10/2026).

Menurut Rudianto, persoalan itu makin sensitif karena isu yang dibawa adalah isu kedaerahan. Ia menegaskan kampus semestinya terbuka bagi semua orang.

"Kampus itu kan harus terbuka buat semua orang," ujarnya. Ia menyebut mereka yang berkiprah di Unmul berasal dari berbagai kampus yang tidak menerapkan eksklusivisme. Namun, ia enggan mengomentari persoalan itu secara lebih spesifik.

Satu Regulasi Nasional

Rudianto menegaskan Unmul, seperti perguruan tinggi negeri lainnya, berada dalam kerangka regulasi yang sama. Menurutnya, tidak ada kekhususan yang diberlakukan di Unmul.

Ia memandang porsi 35 persen suara menteri dalam pemilihan rektor sebagai bentuk kepatuhan, kontrol, dan penerusan kebijakan kementerian kepada perguruan tinggi negeri yang mendapat arahan, pembiayaan, dan kebijakan nasional.

Karena itu, ia menilai tidak wajar bila proses pemilihan di kampus sebesar Unmul diwarnai intervensi. Unmul, kata Rudianto, diharapkan menjadi penopang Ibu Kota Nusantara (IKN), pusat pengembangan di Kalimantan, sekaligus perguruan tinggi berstandar internasional.

Target 100 Hari Diubah

Situasi ini memaksa Rudianto mengubah prioritas programnya. Ia mengaku harus menyesuaikan target 100 hari pertama dan lebih dulu menekankan harmonisasi.

"Ini mengubah peta dari yang ideal ke tidak ideal, karena saya tidak pernah membayangkan bahwa di 100 hari saya, saya masih menghadapi hal seperti ini di awal," ujarnya.

Ia membandingkan situasi di Unmul dengan kampus lain di Kalimantan. Di Universitas Lambung Mangkurat (ULM), kata dia, ucapan selamat kepada rektor baru langsung dirilis. "Di kita kan tidak. Malah kampus kita diblok," katanya.

Rudianto mengakui ada fragmentasi di lingkungan Unmul. Ia berharap persoalan itu selesai dalam satu bulan ke depan, sebelum pelantikannya pada akhir Oktober.

Untuk itu, ia mengaku tengah berkomunikasi secara informal dengan sejumlah pihak, termasuk rektor petahana. Ia ingin tahapan transisi kepemimpinan bisa diselesaikan secara dewasa.

[TOS]



Berita Lainnya