Bontang
Tak Ada Kemewahan, Waisak 2026 di Bontang Tetap Hangat dengan Semangat Cinta Kasih
PERCAKAPAN yang semula bersahutan perlahan mengecil. Satu per satu umat Buddha mengambil tempat di lantai vihara, duduk bersila menghadap altar ditemani meja lipat kecil dan Paritta Suci.
Di luar, beberapa orang buru-buru menata makanan yang mereka bawah sendiri dari rumah sebelum masuk vihara. Ada yang membawa buah-buahan seperti pisang dan semangka. Ada yang membawa sayur tumis hingga sate ayam yang aromanya langsung tercium ketika kantung dibuka.
Tak ada kemewahan. Hanya kesederhanaan. Hari itu, Minggu (31/5/2026) umat Buddha yang jumlanya hanya sekitar 30-an orang, berkumpul di Vihara Nanasamvara, Jalan Arif Rahman Hakim, Bontang. Dengan hanya mengenakan baju dan kemeja putih sederhana, mereka hadir untuk memperingati tiga peristiwa suci dalam kehidupan Buddha Gautama: Tri Suci Waisak 2026.
Perayaan Waisak tahun ini mengusung tema besar "Dharma Sebagai Sumber Moral dan Kebijaksanaan". Bhikkhu Adhikusalo Mahāthera dalam ceramahnya hari itu mengajak umat Buddha memanfaatkan momentum Waisak untuk memperbanyak kebajikan dan mengembangkan kualitas diri.
Menurutnya, perbuatan baik yang dilakukan secara konsisten akan membantu seseorang mengikis sifat dan kebiasaan yang tidak baik dalam dirinya.
''Praktik damai itulah yang nanti akan membantu kita mengikis keserakahan, mengikis kebencian,'' kata Bhikkhu yang dihadirkan langsung dari Samarinda ini.
Ia kemudian mengajak umat merenungkan tiga peristiwa suci yang diperingati dalam Waisak, yakni kelahiran Pangeran Siddhartha, pencapaian penerangan sempurna, dan Parinibbana Sang Buddha.
Ketiga peristiwa tersebut dinilai mengandung pelajaran yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Saat membahas perjalanan Siddhartha, ia menjelaskan bahwa berbagai pencapaian tidak diperoleh secara instan, melainkan melalui akumulasi kebajikan, tekad yang kuat, dan perjuangan panjang. Ia juga menyinggung pengalaman Siddhartha saat menyaksikan usia tua, sakit, dan kematian, yang mendorongnya mencari jalan keluar dari penderitaan manusia.
Menutup ceramahnya, Bhikkhu Adhikusalo Mahāthera mengajak umat meneladani kehidupan Sang Buddha setelah mencapai penerangan sempurna. Menurutnya, Sang Buddha tetap membimbing dan berbuat baik bagi banyak makhluk hingga akhir hayatnya. Karena itu, umat diajak terus mengembangkan kebajikan, mempraktikkan Dhamma, serta menebarkan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.
''Kalau kita mengembangkan cinta kasih dan kasih sayang, itu akan berguna bagi diri sendiri, keluarga dan masyarakat,'' tandasnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Nanasamvara Bontang, Sony Lesmana, mengaku bersyukur dengan perayaan Waisak ini. Selain ini jadi kali kedua Waisak bisa digelar langsung di vihara, juga karena perayaan kali ini dihadiri umat dari luar kota, seperti Samarinda dan Sangatta.
''Harapannya kemudian hari akan datang lagi dari luar kota,” ujarnya.
Sony mengatakan tema Waisak tahun ini relevan dengan situasi dunia yang masih diwarnai berbagai ketidakpastian. Ia menilai nilai cinta kasih perlu terus ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari, terlebih di tengah berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat dunia, seperti persaingan dagang hingga konflik.
“Kita itu selalu menanamkan cinta kasih di mana pun. Dengan satu doa supaya damai, supaya bisa betul-betul membikin sejahtera umat yang ada, terkhususnya masyarakat secara umum,” tandasnya.
Related Posts
- Targetkan Stunting Turun Jadi 12,5 Persen, Pemkot Bontang Optimalkan Peran Kader Posyandu
- Tekan Stunting, Wawali Agus Akan Datangi Warga yang Tak Hadir Operasi Timbang Serentak
- Cegah Banjir, Panbers Bersihkan Drainase dan Sungai di Sejumlah Titik Kota
- Lukman Apresiasi Program Smartani Goes to School, Dorong Sekolah Cetak Generasi Peduli Ketahanan Pangan
- Persetujuan Pemanfaatan Ruang Tiga Perusahaan Dibahas, DPUPR Bontang Tekankan Kesesuaian dengan Regulasi









