DISKOMINFO KUKAR
Angka Stunting Turun Jadi 12,6 Persen, Dinkes Kukar Perkuat Pencegahan Sejak Remaja
Kaltimtoday.co, Tenggarong - Angka stunting di Kutai Kartanegara (Kukar) kembali menunjukkan penurunan. Berdasarkan pengukuran sementara hingga September 2026, prevalensi stunting berada di angka 12,6 persen.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar, Ismi Mufiddah mengungkapkan, angka tersebut masih bersifat sementara karena pengukuran terus dilakukan setiap bulan. Rekapitulasi akhir baru akan terlihat setelah pengukuran hingga Desember 2026.
“Saat ini 12,6 persen, lebih turun lagi dibanding di bulan Agustus 14 persen, tapi memang ini turun naik,” kata Ismi, Kamis (1/10/2027).
Menurutnya, pemantauan bulanan dilakukan untuk melihat pergerakan angka stunting sekaligus mengidentifikasi wilayah atau kelompok yang masih memiliki angka tinggi. Kondisi tersebut kemudian menjadi dasar untuk menentukan intervensi.
“Jadi memang ini kan belum final, tapi kami selalu melakukan pengukuran setiap bulan, selalu dicek setiap bulan, supaya pergerakannya kelihatan,” sambungnya.
Dari angka 12,6 persen tersebut, kasus baru yang ditemukan mencapai 0,8 persen. Sementara kasus yang sudah teridentifikasi sebelumnya masih masuk dalam penghitungan pada bulan berjalan.
Pengukuran dilakukan dengan melihat pertumbuhan dan perkembangan anak. Bayi dan balita diukur berat badan, tinggi badan, serta panjang badannya untuk mengetahui kesesuaiannya dengan usia.
Ismi menjelaskan, stunting berkaitan dengan kondisi tinggi badan anak yang tidak sesuai dengan standar usianya. Pengukuran tersebut paling banyak dilakukan melalui posyandu, meski juga dapat dilakukan di puskesmas ketika anak datang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
“Pengukurannya di posyandu. Bisa juga di puskesmas, kalau yang bersangkutan datang ke puskesmas. Tapi yang paling banyak memang di posyandu,” tuturnya.
Penanganan stunting, lanjut Ismi, tidak hanya dilakukan terhadap anak yang sudah mengalami kondisi tersebut. Dinkes juga menjalankan berbagai langkah pencegahan sejak sebelum kehamilan.
Salah satunya melalui pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri di tingkat SMP dan SMA. Selain itu, edukasi juga diberikan kepada calon pengantin agar memahami langkah pencegahan stunting sebelum memiliki anak.
“Dan tidak hanya pada kasus yang sudah stunting, tapi kami lebih pada upaya mencegah. Misalnya memberikan tablet tambah darah bagi remaja putri,” katanya.
Ismi menyebut, angka stunting di Kukar tahun lalu berada di kisaran 14 persen. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang pernah mencapai 27 persen.
“Angka tahun lalu 14 persen. Kami tuh sekitar itu. Kalau dulu kan pernah sampai 27 persen. Terus turun-turun, dan sempat di bawah 20 persen itu 17 persen,” sebutnya.
Dalam beberapa periode terakhir, angka stunting Kukar berada di kisaran 13-14 persen. Meski trennya relatif terkendali, Ismi mengakui penurunan angka stunting menjadi tantangan karena sasaran intervensinya cukup luas.
Berdasarkan angka sementara tersebut, sekitar 4.628 anak tercatat mengalami stunting dari total sasaran sekitar 45 ribu anak.
[RWT | ADV DISKOMINFO KUKAR]
Related Posts
- Tekan Stunting, Wawali Agus Akan Datangi Warga yang Tak Hadir Operasi Timbang Serentak
- Waspada Wabah Global: 7 Fakta Penting Hantavirus yang Perlu Anda Ketahui
- Dokter Jantung: Bahaya Vape Setara dengan Rokok Konvensional
- Waspada! 5 Penyakit Berbahaya yang Ditularkan Tikus Selain Hantavirus
- Dokter: Vaksin HPV Tetap Efektif dan Penting bagi Wanita yang Sudah Menikah









