Daerah

Di Tengah Stunting Kaltim 22,2 Persen, Kukar Sukses Capai Angka 12 Persen

Supri Yadha — Kaltim Today 16 Juli 2026 15:38
Di Tengah Stunting Kaltim 22,2 Persen, Kukar Sukses Capai Angka 12 Persen
Ilustrasi penanganan stunting. (Gemini/AI)

Kaltimtoday.co, Tenggarong - Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) kembali mencatatkan capaian positif dalam upaya menekan angka stunting. Prevalensi stunting di daerah tersebut kini berada di kisaran 12 persen, melampaui target rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menetapkan ambang batas 14 persen. 

Hasil itu pun mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin, usai menghadiri peluncuran dan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) Program Gerakan Cegah Stunting demi Generasi Cemerlang (GEMILANG) di Pendopo Odah Etam, Tenggarong, Rabu (15/7/2026).

Jaya mengungkapkan, persoalan stunting di tingkat provinsi masih menjadi tantangan besar. Saat ini prevalensi stunting di Kaltim tercatat sebesar 22,2 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang berada di kisaran 18 persen.

“Memang salah satu permasalahan di Provinsi Kaltim, angka stunting masih di atas standar nasional. Nasional sekitar 18 persen, sedangkan kita masih 22,2 persen,” katanya.

Di tengah kondisi tersebut, Kukar dinilai berhasil menunjukkan kemajuan signifikan. Berdasarkan data yang dipaparkan dalam kegiatan itu, angka stunting di kabupaten tersebut telah turun hingga sekitar 12 persen, bahkan berada di bawah standar yang direkomendasikan WHO.

Menurut Jaya, capaian tersebut merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, mulai dari Pemkab Kukar hingga mitra pembangunan seperti DoctorSHARE dan Bayan Group yang kini memperkuat sinergi melalui Program GEMILANG.

“Alhamdulillah dukungan dari DoctorSHARE di Kukar ini luar biasa sehingga bisa turun sampai 12 persen, padahal standar WHO itu 14 persen. Ini luar biasa, dan tadi Pak Bupati juga menargetkan bisa turun lagi menjadi di bawah satu digit,” tuturnya.

Ia menilai Program GEMILANG menjadi langkah strategis karena tidak hanya berfokus pada layanan kesehatan, tetapi juga menyentuh berbagai faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya stunting. 

Dengan intervensi yang lebih terarah, program tersebut diyakini mampu mempercepat penurunan angka stunting secara berkelanjutan.

“Saya lihat intervensinya terkait stunting sudah sesuai dengan pola-pola yang efektif dan efisien, sehingga lebih fokus terhadap sasaran yang ingin dicapai,” tandasnya.

[RWT] 



Berita Lainnya