DISKOMINFO KUKAR

Aktivitas Influenza A Meningkat di Indonesia, Dinkes Kukar Pastikan Belum Ada Kasus

Supri Yadha — Kaltim Today 01 Oktober 2026 18:16
Aktivitas Influenza A Meningkat di Indonesia, Dinkes Kukar Pastikan Belum Ada Kasus
Kepala Dinas Kesehatan Kukar, Ismi Mufiddah. (Supri/Kaltimtoday.co)

Kaltimtoday.co, Tenggarong - Aktivitas influenza A yang tengah meningkat di Indonesia belum ditemukan di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). 

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kukar, Ismi Mufiddah, memastikan belum ada laporan kasus. Kondisi itu berdasarkan laporan dari fasilitas kesehatan (faskes) yang menjadi bagian dari pemantauan melalui surveilans.

“Saya sudah mengantisipasi juga kasus-kasus seperti itu, jadi belum ditemukan kasus influenza A di rumah sakit dan di puskesmas-puskesmas di Kukar,” kata Ismi, Kamis (1/10/2026).

Sementara itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat adanya peningkatan aktivitas influenza di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara dalam beberapa waktu terakhir. Meski demikian, kondisi tersebut masih berada dalam rentang kewaspadaan dan belum menunjukkan situasi yang tidak diketahui.

Berdasarkan data Kemenkes, peningkatan aktivitas influenza pada periode Agustus-September 2026 masih sesuai dengan pola musiman yang selama ini terlihat di Indonesia. 

Pada pekan ke-38 tahun 2026, sebanyak 265 spesimen diperiksa melalui surveilans sentinel. Hasilnya, 148 spesimen dinyatakan positif influenza dengan virus yang dominan yakni Influenza A (H1N1pdm09).

Di Kukar, langkah antisipasi tetap diperkuat meski belum ada kasus yang ditemukan. Dinkes meningkatkan pemantauan melalui kelompok surveilans sekaligus menjaga komunikasi antarfaskes.

“Langkah antisipasinya kita kuatkan di kelompok surveilans dan tetap berkomunikasi antarsemua faskes,” terangnya.

Ismi menjelaskan, apabila ditemukan kasus yang mengarah pada influenza A, faskes diminta segera melaporkannya. Pelaporan tersebut diperlukan agar langkah mitigasi risiko dan pencegahan dapat segera dilakukan.

“Kalau ditemukan kasus-kasus yang sudah mengarah ke situ, itu segera dilaporkan untuk kita lakukan mitigasi risiko dan langkah-langkah preventifnya,” pintanya.

Menurut Ismi, setiap faskes telah memiliki ketentuan untuk segera melaporkan kasus yang mengarah pada penyakit tersebut.

Terkait gejala, ia menyebut demam tinggi menjadi salah satu tanda yang perlu diperhatikan. Kondisi tersebut biasanya disertai rasa sakit pada tubuh dan pegal yang cukup berat.

“Gejala awal yang signifikan itu demamnya sangat tinggi. Jadi, pegal, badannya terasa sakit sekali dan demamnya tinggi. Beda dengan flu-flu biasa,” tuturnya.

Meski termasuk kategori flu yang paling berat, Ismi menyebut kondisi tersebut masih dapat diatasi. Masyarakat juga dianjurkan menjaga daya tahan tubuh.

Apabila mengalami gejala serupa dan tidak kunjung membaik setelah beberapa hari dengan pengobatan biasa, masyarakat diminta segera menghubungi fasilitas kesehatan.

“Kalau memang dirasakan flu ada gejala seperti itu dan dengan sekian hari tidak sembuh-sembuh dengan pengobatan biasa, harus segera kontak ke fasilitas kesehatan,” pesannya.

Selain menjaga daya tahan tubuh, pencegahan dapat dilakukan dengan menerapkan higiene dan sanitasi. Masyarakat diminta rajin mencuci tangan setelah menyentuh benda, menjaga kebersihan tangan, serta menerapkan etika batuk dan bersin.

Bagi masyarakat yang sedang sakit, penggunaan masker juga dianjurkan untuk mencegah penularan kepada orang lain. Jika kondisi sakit cukup parah, masyarakat disarankan beristirahat maupun tidak beraktivitas di luar rumah.

“Jadi, sebenarnya upaya pencegahannya itu mirip-mirip dengan penyakit Covid karena yang tertular secara airborne, udara. Karena itu partikel kecil, ketika ngomong itu juga bisa tertular,” jelasnya.

Ismi mengingatkan, masyarakat untuk menjaga higiene dan sanitasi atau kebersihan diri dan lingkungan, tetap melakukan aktivitas fisik, serta mengonsumsi makanan sehat.

Sementara itu, kelompok usia produktif 18-59 tahun disebut menjadi salah satu kelompok yang rentan tertular. Menurut Ismi, tingginya aktivitas dan mobilitas membuat kelompok tersebut lebih sering berinteraksi dengan banyak orang.

Selain usia produktif, anak-anak sekolah juga menjadi kelompok yang perlu diperhatikan. Risiko penularan juga dapat terjadi pada orang yang memiliki penyakit penyerta, seperti asma, karena penyakit tersebut dapat menular melalui udara.

“Orang-orang yang beraktivitas itu yang memang rentan untuk tertular, anak-anak sekolah, dan kelompok yang punya penyakit penyerta,” tandasnya.

[RWT | ADV DISKOMINFO KUKAR] 



Berita Lainnya