Ekonomi dan Bisnis

Belajar dari Krisis 1998, Ini Strategi Baru Bank Indonesia Jaga Rupiah Tanpa Kuras Likuiditas

Network — Kaltim Today 19 Mei 2026 08:07
Belajar dari Krisis 1998, Ini Strategi Baru Bank Indonesia Jaga Rupiah Tanpa Kuras Likuiditas
Ilustrasi. (Pexels)

Kaltimtoday.co - Bank Indonesia (BI) menerapkan strategi yang lebih terukur dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan berkaca pada pengalaman pahit krisis moneter 1997-1998 dan krisis finansial global 2008. Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengungkapkan bahwa intervensi pasar yang terlalu masif di masa lalu terbukti menguras likuiditas secara drastis dan memicu tekanan baru di sektor keuangan.

Oleh karena itu, BI kini tidak lagi sekadar mengandalkan intervensi langsung di pasar spot. Bank sentral memperluas bauran kebijakan menggunakan instrumen alternatif, seperti pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder, guna memastikan cadangan devisa tetap kokoh tanpa membuat pasar keuangan domestik mengalami kekeringan likuiditas.

Dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR pada Senin (18/5/2026), Perry membeberkan bahwa BI telah merealisasikan pembelian SBN di pasar sekunder sebesar Rp 133 triliun secara year to date (ytd). Langkah taktis ini diambil untuk menstabilkan pasar keuangan sekaligus menahan lonjakan imbal hasil (yield) SBN agar tidak bergerak terlalu tinggi.

Saat ini, BI mengelola portofolio SBN senilai total Rp 1.700 triliun, di mana instrumen tersebut dimanfaatkan secara dinamis dengan menjual SBN jangka pendek demi memicu aliran modal masuk (inflow), dan secara simultan membeli yieldjangka panjang untuk mengamankan pasar obligasi dari risiko penarikan dana asing secara massal (outflow).

Di samping optimalisasi instrumen SBN, BI juga menerapkan langkah preventif di sektor riil dengan mendorong pertumbuhan uang primer hingga menyentuh angka dua digit demi menjaga ketersediaan dana di masyarakat.

Guna meredam aksi spekulasi valuta asing yang agresif di tengah ketidakpastian global, BI menetapkan kebijakan pembatasan pembelian dolar AS maksimal sebesar US$ 25.000 per orang per bulan.

[RWT] 



Berita Lainnya