Entertainment

Benarkah Memendam Emosi Memicu Penyakit Autoimun? Ini Penjelasan Medis dan Jalur Hormonalnya

Network — Kaltim Today 05 Oktober 2026 11:18
Benarkah Memendam Emosi Memicu Penyakit Autoimun? Ini Penjelasan Medis dan Jalur Hormonalnya
Ilustrasi. (Istimewa)

Kaltimtoday.co - Kebiasaan memendam emosi, terutama kemarahan dan kecemasan, sering kali dianggap sebatas persoalan kesehatan mental. Padahal, secara fisiologis, penekanan emosi (suppressed emotions) yang berlangsung lama terbukti memiliki keterkaitan erat dengan gangguan fungsi sistem kekebalan tubuh hingga memicu peradangan kronis.

Dokter Jolene Brighten menuturkan bahwa kondisi emosional yang tertekan secara terus-menerus berkontribusi signifikan terhadap fluktuasi respons imun yang berpotensi memperburuk atau memicu manifestasi penyakit autoimun.

“Menekan emosi, terutama kemarahan, dikaitkan dengan meningkatnya stres, terganggunya fungsi sistem imun, dan peradangan kronis. Kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap munculnya atau memburuknya penyakit autoimun,” jelas dr. Brighten melalui laporan Autoimmune Registry.

Mekanisme Saraf dan Jalur Hormon HPA Axis

Keterkaitan antara emosi dan sistem kekebalan tubuh dijelaskan melalui interaksi kompleks antara sistem saraf pusat, hormon, dan sel-sel imun. Jalur utama yang memediasi proses ini adalah hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA) axis.

Saat seseorang mengalami tekanan emosional, HPA axis merangsang pelepasan hormon glukokortikoid (seperti kortisol). Apabila paparan hormon stres ini terjadi secara berkepanjangan, regulasi respons imun akan terganggu.

Berdasarkan publikasi National Institutes of Health (NIH), emosi marah dalam situasi penuh tekanan terbukti meningkatkan konsentrasi interleukin-6 (IL-6) dan C-reactive protein (CRP) dalam darah—dua penanda biologis utama (biomarker) yang mengindikasikan proses peradangan dalam tubuh.

Dampak Stres Kronis terhadap Tubuh

Sejumlah riset klinis turut memperkuat temuan bahwa tekanan emosional jangka panjang memengaruhi kemampuan penyembuhan fisik:

1. Penyembuhan Luka Lambat

Individu yang kesulitan mengendalikan kemarahan atau berada dalam situasi ujian yang penuh tekanan membutuhkan waktu penyembuhan luka fisik rata-rata 3 hari lebih lambat dibanding kondisi rileks.

2. Penurunan Antibodi

Pengasuh (caregiver) yang mengalami stres kronis menunjukkan respons pembentukan antibodi yang lebih rendah pascavaksinasi flu, serta lebih rentan mengalami kekambuhan infeksi virus laten seperti herpes simplex.

Kendati demikian, para ahli menekankan bahwa memendam emosi bukanlah penyebab tunggal (direct cause) dari penyakit autoimun seperti Hashimoto atau fibromyalgia, melainkan salah satu faktor pemicu (co-factor) yang dapat memperberat perjalanan penyakit.

Manajemen emosi dan pengelolaan stres disarankan menjadi bagian dari gaya hidup sehat komplementer, tanpa mengesampingkan diagnosis serta penanganan medis dari dokter spesialis.

[RWT] 



Berita Lainnya