banner

DISKOMINFO KUKAR

Beseprah, Tradisi Makan Bersama yang Satukan Sultan dan Rakyat Kukar

Supri Yadha — Kaltim Today 24 September 2026 13:39
Beseprah, Tradisi Makan Bersama yang Satukan Sultan dan Rakyat Kukar
Suasana Beseprah Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura bersama Bupati dan masyarakat. (Supri/Kaltimtoday.co)

Kaltimtoday.co, Tenggarong - Tradisi Beseprah kembali digelar dalam rangkaian Erau Adat Kutai 2026. Tradisi makan bersama ini menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan sekaligus mempertemukan berbagai lapisan masyarakat dalam satu hidangan dan satu tempat, Kamis (24/9/2026).

Beseprah berlangsung di depan Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura atau Museum Mulawarman, tepatnya di sepanjang Jalan Pangeran Diponegoro, Kecamatan Tenggarong.

Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, mengatakan Beseprah merupakan bagian dari rangkaian Erau Adat Kutai 2026 yang mengusung tema "Raja Menjamu Rakyatnya".

"Dalam tradisi Beseprah ini kita melakukan makan bersama dengan seluruh warga masyarakat, duduk bersama dengan menu yang sama dan merasakan kenikmatan yang sama dengan seluruh warga masyarakat yang ada," kata Aulia.

Menurutnya, dalam tradisi tersebut pihak Kesultanan bersama Pemkab Kukar menyajikan makanan untuk dinikmati secara bersama-sama.

Pelaksanaan Beseprah tahun ini juga menghadirkan konsep berbeda. Sebelumnya ada jarak, kini duduk langsung bersama Sultan dan jajaran pejabat daerah.

Perubahan tersebut dilakukan agar Beseprah benar-benar menjadi ruang perjumpaan antara pemimpin dan masyarakat, bukan duduk bersama pejabat.

"Iya, karena memang kita berusaha merubah tradisi yang ada. Kalau seandainya sesama pejabat itu tidak Beseprah namanya, tidak duduk bersama dengan rakyat. Oleh karena konsepnya kita ubah, yang berhadapan dengan kami beserta Ayahanda Sultan itu langsung warga masyarakat," kata Aulia.

Para organisasi perangkat daerah juga disebar di sejumlah titik sehingga dapat membaur langsung bersama masyarakat yang hadir.

Konsep tersebut akan diupayakan untuk dipertahankan pada pelaksanaan Beseprah berikutnya.

"Dan tentunya tradisi yang baik ini akan coba kita pertahankan terus dan mudah-mudahan warga masyarakat suka. Bahkan bukan malah sungkan ketika diperlakukan seperti itu," tuturnya.

Aulia berharap nilai kebersamaan yang terdapat dalam Beseprah dapat menjadi semangat dalam pembangunan Kukar. Tradisi makan bersama tersebut dinilai mencerminkan semangat saling mendukung, membantu, dan duduk setara.

"Kukar ini adalah milik kita bersama, Kesultanan adalah milik kita bersama. Tentunya dengan semangat, spirit yang kita dapatkan hari ini, ini menjadi modal dasar, modal kuat kita untuk membangun Kutai Kartanegara menjadi lebih baik lagi," imbuhnya.

Sementara itu, Juru Bicara Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Pangeran Heriansyah atau Hario Noto Negoro menjelaskan, Beseprah merupakan tradisi ketika Sultan menjamu masyarakatnya.

Dalam tradisi tersebut, seluruh peserta duduk bersama tanpa membedakan jabatan maupun status sosial.

"Duduk bersama tanpa membedakan, ada yang berpangkat atau tidak ada yang berpangkat. Semuanya duduk bersama bersila, yang itu tujuannya adalah silaturahmi dan berkomunikasi dengan seluruh lapisan masyarakat," ujarnya.

Makanan yang disuguhkan dalam Beseprah juga didominasi kuliner khas Kutai, mulai dari kue hingga makanan berat dengan beragam jenis.

"Makanan yang disuguhkan ini pertama makanan-makanan yang ciri khas Kutai. Tadi kita melihat ada kue, kemudian ada makanan berat, bermacam-macam," sebutnya.

Hidangan tersebut disediakan untuk seluruh masyarakat yang hadir tanpa membedakan pejabat maupun warga.

Ia menyebut kebersamaan dalam Beseprah memiliki makna "berdiri sama tinggi, duduk sama rendah".

Menurutnya, antusiasme masyarakat menunjukkan Beseprah telah menjadi tradisi tahunan yang mengakar di Kukar.

"Alhamdulillah, ini merupakan agenda tahunan dan ini sebuah tradisi turun-temurun yang telah mengakar di masyarakat Kukar yang harapannya ini mampu menciptakan sebuah ekosistem kebudayaan," ungkapnya.

Dengan menjadi ekosistem kebudayaan, Heriansyah berharap Erau tidak hanya menjadi milik Kesultanan maupun pejabat, tetapi turut menjadi bagian dari masyarakat Kukar.

"Jadi kalau sudah ini menjadi sebuah ekosistem kebudayaan, maka Erau ini tidak hanya milik Kesultanan, tidak hanya milik para pejabat, tetapi seluruh masyarakat Kabupaten Kutai Kartanegara merasa memiliki," pungkasnya.

[RWT | ADV DISKOMINFO KUKAR] 



Berita Lainnya