banner

DISKOMINFO KUKAR

Erau Adat Kutai 2026 Berakhir, Ziarah Makam Raja Warnai HUT ke-224 Tenggarong

Supri Yadha — Kaltim Today 28 September 2026 19:04
Erau Adat Kutai 2026 Berakhir, Ziarah Makam Raja Warnai HUT ke-224 Tenggarong
Bupati Kukar dan Wabup Kukar saat ziarah ke Makam Raja/Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura di Museum Mulawarman Tenggarong. (Supri/Kaltimtoday.co)

Kaltimtoday.co, Tenggarong - Setelah sepekan rangkaian adat dan budaya berlangsung, Festival Erau Adat Kutai 2026 resmi berakhir. Penutupan ditandai dengan prosesi sakral menurunkan Pinang Ayu di Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura atau Museum Mulawarman Tenggarong, Senin (28/9/2026).

Berakhirnya Erau kemudian dilanjutkan dengan ziarah ke makam para raja dan sultan di kawasan Keraton. Ziarah tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT Kota Tenggarong sekaligus momentum untuk mengenang perjalanan panjang berdirinya ibu kota Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Ziarah dihadiri Bupati Kukar Aulia Rahman Basri, Wakil Bupati Kukar Rendi Solihin, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar sekaligus Juru Bicara Kesultanan, Heriansyah, serta jajaran Forkopimda Kukar.

Makam pendiri Kota Tenggarong, Sultan Muslihuddin atau Aji Imbut, menjadi tujuan pertama. Rombongan kemudian berziarah ke makam Sultan Sulaiman, Sultan Shalehuddin, Sultan Parikesit, dan Sultan Shalehuddin II.Bagi Aulia, perjalanan menuju makam para raja dan sultan tersebut bukan sekadar agenda seremonial. Ziarah menjadi kesempatan untuk kembali melihat sejarah Tenggarong sekaligus mengambil pelajaran dari perjalanan para pendahulu dalam membangun daerah.

Menurutnya, salah satu hal yang dapat dipetik dari ziarah tersebut adalah memahami perjuangan di balik berdirinya Kota Tenggarong. 

Sultan Aji Imbut, kata dia, merupakan sosok yang memindahkan pusat pemerintahan dari Pemarangan menuju Tepian Pandan. Wilayah tersebut kemudian disebut Tangga Arung, yang berarti rumah raja. Nama tersebut selanjutnya berkembang hingga dikenal sebagai Tenggarong.

“Ziarah ini mengingatkan kita bahwa Kota Tenggarong ini tidak serta-merta ada seperti yang kita lihat pada hari ini. Ada perjuangan panjang yang dilakukan oleh Sultan Aji Imbut,” kata Aulia.

Keputusan tersebut, lanjut Aulia, tidak terlepas dari kondisi Pemarangan yang saat itu dinilai sudah tidak kondusif. Terlebih, terjadi pemberontakan yang membuat situasi pemerintahan berubah.

Sultan Aji Imbut sendiri, sebelumnya dibesarkan oleh kakeknya, La Madukelleng, di tanah Wajo. Setelah terjadi pemberontakan, Aji Imbut pulang untuk mengambil kembali takhta yang telah diambil alih pihak lain.

Dari perjalanan tersebut, Aulia melihat ada pelajaran mengenai perpindahan atau hijrah sebagai bagian dari upaya menuju kondisi yang lebih baik.

“Pelajaran yang bisa kita ambil adalah hijrah atau perpindahan itu menjadi suatu keniscayaan untuk sesuatu yang lebih baik,” terangnya.

Karena itu, Aulia memandang ziarah ke makam para raja bukan sekadar kegiatan mengenang masa lalu. Sejarah tersebut menjadi bahan refleksi bagi generasi penerus, termasuk dalam menjalankan pembangunan di Kukar.

“Kami memandang ziarah ini bukan hanya sebagai sebuah perjalanan sejarah, tetapi juga merupakan suatu refleksi. Ini merupakan suatu bekal bagi kami dalam membangun Kabupaten Kutai Kartanegara,” tuturnya.

Aulia juga berharap Tenggarong tetap mempertahankan identitasnya sebagai kota para raja. Nilai tersebut, menurutnya, dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat dengan menempatkan seluruh warga sebagai bagian penting dari pembangunan daerah.

Ia menilai semangat tersebut sejalan dengan tema Erau Adat Kutai 2026.

“Kami berharap Tenggarong ini tetap menjadi kotanya para raja-raja. Kami memperlakukan seluruh warga masyarakat yang ada di Kukar ini layaknya raja. Sangat tepat Erau Adat Kutai 2026 mengusung tema ‘Raja Menjamu Rakyatnya’,” katanya.

Ia berharap, pelaksanaan Erau dapat terus dipertahankan pada tahun-tahun berikutnya. Pelaksanaan pada 2027 diharapkan bisa lebih semarak dan meriah, namun tetap menjaga nilai sakral yang menjadi bagian dari Erau Adat Kutai.

Sementara itu, Kepala Disdikbud Kukar sekaligus Juru Bicara Kesultanan, Heriansyah mengatakan, ziarah makam menjadi rangkaian setelah prosesi merebahkan Pinang Ayu. Setelah prosesi sakral tersebut dilaksanakan, Erau secara adat dinyatakan telah selesai.

“Hari ini kami, setelah merebahkan Pinang Ayu secara sakral, sah sudah Erau. Kemudian dilanjutkan dengan ziarah makam pendiri Kota Tenggarong, yaitu Sultan Muslihuddin,” jelas Heriansyah.

Ia mengatakan, usia Kota Tenggarong telah mencapai 244 tahun. Perjalanan panjang tersebut tidak terlepas dari peran para dato dan keturunan Kesultanan yang telah meletakkan fondasi berdirinya kota tersebut, bahkan jauh sebelum Indonesia berdiri.

Karena itu, menurut Heriansyah, generasi saat ini memiliki tanggung jawab untuk menjaga sekaligus membangun Tenggarong agar semakin baik tanpa menghilangkan adat dan budaya yang telah diwariskan.

“Sudah selayak dan sepantasnya lah kita sebagai generasi muda itu untuk menjaga, membangun kota ini agar lebih baik lagi dari sisi tata kotanya, tanpa harus menghilangkan adat dan budayanya,” pintanya.

Pembangunan kota, lanjut dia, juga tidak dapat dipisahkan dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Bagaimana seiring dengan membangun kota, juga membangun kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.

Heriansyah kemudian menjelaskan alasan makam-makam tersebut menjadi bagian dari rangkaian ziarah. Setelah makam Sultan Muslihuddin atau Aji Imbut, rombongan menuju makam Sultan Sulaiman.

Menurutnya, Sultan Sulaiman memiliki jasa dalam perkembangan Kota Tenggarong. Salah satunya berkaitan dengan pembangunan sejumlah istana yang pada masa tersebut masih menggunakan arsitektur kayu.

“Memang Sultan Sulaiman ini banyak berjasa juga terkait dengan bagaimana membangun Kota Tenggarong ini bisa lebih baik lagi dan mendirikan beberapa istana yang waktu itu masih arsitekturnya kayu,” katanya.

Rombongan selanjutnya berziarah ke makam Sultan Salehuddin, kemudian Sultan Parikesit. Heriansyah menyebut Sultan Parikesit sebagai sultan terakhir yang memegang tanggung kekuasaan sebagai daerah istimewa.

Ziarah terakhir dilakukan di makam Sultan Salehuddin II yang merupakan ayahanda Sultan Adji Muhammad Arifin

Pangeran Hario Noto Negoro menyebut, Sultan Salehuddin II memiliki jasa dalam membangkitkan kembali Kesultanan Kutai Kartanegara setelah sempat mengalami kevakuman selama beberapa tahun.

“Dia juga telah berjasa, bagaimana di era beliau kemudian kesultanan ini juga dibangkitkan kembali setelah beberapa tahun, beberapa puluh tahun vakum,” ungkapnya.

Pada era tersebut, keberadaan kesultanan kembali ditampilkan sehingga adat dan budaya Kutai tetap eksis dan berjalan hingga saat ini.

“Di era beliau itu ditampilkan kembali sehingga budaya kita eksis, tetap berjalan sampai dengan hari ini,” pungkas Heriansyah.

[RWT | ADV DISKOMINFO KUKAR] 



Berita Lainnya