Nasional

Dekati Batas Ekologis 18,15 Juta Hektare, Tambahan Lahan Sawit Berisiko Pacu Deforestasi dan Konflik

Network — Kaltim Today 29 September 2026 19:11
Dekati Batas Ekologis 18,15 Juta Hektare, Tambahan Lahan Sawit Berisiko Pacu Deforestasi dan Konflik
Ilustrasi. (Dok. Kaltim today)

Kaltimtoday.co - Luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia dilaporkan telah mendekati ambang batas atas berdasarkan kalkulasi pemodelan daya dukung lingkungan. Kondisi krusial ini memerlukan evaluasi mendalam, khususnya di tengah ambisi pemerintah mengeskalasi penggunaan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) sebagai bahan baku utama program biodiesel.

Lead Program Transisi Energi Berbasis Komunitas Yayasan Madani Berkelanjutan, Riza Egi Arizona, mengungkapkan bahwa luas tutupan perkebunan sawit nasional saat ini telah menyentuh angka 17,8 juta hektare. Sementara itu, batas maksimal toleransi ekologis berdasarkan pemodelan lingkungan berada di kisaran 18,15 juta hektare.

"Luas sawit existing sekarang itu sudah mencapai 17,8 juta hektare. Artinya, luas perkebunan sawit existing itu sudah mendekati batas atas," tegas Riza saat memaparkan hasil kajian bertajuk “Menakar Ambisi dan Realitas: Masa Depan Biofuel Indonesia dalam Kerangka Transisi Energi yang Berkeadilan” di Jakarta, Selasa (29/9/2026).

Riza menjelaskan, pemodelan daya dukung lingkungan diukur untuk memetakan sejauh mana daya tampung ekosistem mampu menoleransi aktivitas antropogenik secara berkelanjutan. Ekspansi lahan baru yang memaksakan diri melampaui batas ekologis berisiko tinggi memicu deforestasi lanjutan, konflik agraria, hingga ancaman kepunahan keanekaragaman hayati.

Dilema Pasokan Biodiesel dan Pasar Ekspor

Direktur Eksekutif Yayasan Madani Berkelanjutan, Nadia Hadad, turut menyoroti tingginya ketergantungan program biofuel nasional terhadap komoditas sawit tunggal. Menurutnya, pemenuhan pasokan bahan baku (feedstock) hendaknya diimbangi perbaikan tata kelola hilirisasi, bukan melalui pembukaan lahan baru (land clearing). 

"Peningkatan produksi sawit tidak selalu harus dilakukan melalui ekspansi lahan. Produktivitas perkebunan rakyat yang sudah ada justru perlu diperkuat melalui intensifikasi dan rejuvenasi," ujar Nadia.

Selain isu ekologis, Nadia menyoroti dinamika tata kelola pembiayaan yang dikelola Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) serta adanya potensi benturan antara kebutuhan domestik (domestic market obligation) dan komitmen ekspor. Produsen sawit cenderung terdorong melepas komoditas ke pasar global ketika inflasi harga CPO dunia menawarkan nilai marjin yang lebih menguntungkan.

Atas temuan tersebut, Madani Berkelanjutan merekomendasikan agar peta jalan (roadmap) transisi energi nasional berbasis biofuel tetap mematuhi batas daya dukung lingkungan, menghentikan laju deforestasi, serta mempercepat diversifikasi bahan baku terbarukan non-sawit.

[RWT] 



Berita Lainnya