Kaltim

Program B50 Dinilai Jadi Peluang Strategis Hilirisasi Sawit dan Ketahanan Energi

Kaltim Today
07 September 2026 09:46
Program B50 Dinilai Jadi Peluang Strategis Hilirisasi Sawit dan Ketahanan Energi
Program B50 dinilai dapat menjadi momentum bagi Kalimantan Timur untuk mengoptimalkan potensi perkebunan sawit.

SAMARINDA, Kaltimtoday.co - Program B50 dinilai menjadi salah satu langkah strategis dalam mendorong pemanfaatan energi berbasis sumber daya terbarukan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

B50 merupakan bahan bakar diesel dengan campuran biodiesel berbahan baku minyak sawit sebesar 50 persen. Kebijakan tersebut membuka peluang besar bagi komoditas kelapa sawit untuk menjadi bagian penting dalam rantai pasok energi terbarukan.

Pengembangan biodiesel berbasis sawit memiliki prospek besar karena berpotensi meningkatkan nilai tambah ekonomi melalui pengembangan hilirisasi komoditas kelapa sawit. Pemanfaatan ini dinilai menjadi peluang bagi daerah untuk mengoptimalkan produktivitas dan keberlanjutan sektor perkebunan.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perkebunan Kalimantan Timur, Arief Murdiyatno, mengatakan bahwa penerapan B50 menyangkut kebutuhan dasar masyarakat luas. Hal itu mengingat populasi kendaraan yang menggunakan bahan bakar jenis diesel berada dalam jumlah yang cukup besar.

“Kalau sudah berbicara energi, ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Kita melihat jumlah kendaraan yang menggunakan bahan bakar diesel juga cukup besar,” ujar Arief Murdiyatno di Samarinda.

Menurut Arief, penerapan B50 dapat menjadi salah satu solusi dalam menghadapi risiko penurunan produksi minyak bumi. Ketika pasokan minyak dunia maupun produksi minyak domestik mengalami penurunan, minyak sawit dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif.

“Kalau produksi minyak kita turun, bisa disubstitusi dengan minyak sawit. Sekarang ini, alhamdulillah, perkebunan sawit kita mulai tumbuh. Minyak sawit bisa menjadi bagian dari substitusi, sehingga energi kita bisa lebih didukung oleh sumber daya domestik,” katanya.

Penerapan B50 sekaligus membuka peluang pasar baru bagi industri kelapa sawit yang selama ini berfokus pada kebutuhan pangan seperti minyak goreng. Dengan berkembangnya kebutuhan biodiesel, permintaan terhadap produk sawit diproyeksikan semakin luas.

“Pasarnya sudah ada. Di samping untuk minyak goreng dan kebutuhan pangan, sekarang ada kebutuhan untuk bahan bakar. Ini tentu sangat prospektif ke depan,” ujarnya.

Meski demikian, penerapan B50 membutuhkan kesiapan menyeluruh dari berbagai sektor, mencakup ketersediaan bahan baku, kapasitas industri pengolahan, sistem distribusi, hingga kesiapan mesin pada sektor transportasi dan industri.

Transisi menuju penggunaan B50 diharapkan tidak hanya memperkuat pemanfaatan sumber energi domestik, tetapi juga meningkatkan nilai tambah komoditas kelapa sawit melalui pengembangan industri hilir.

Pengembangan energi berbasis sawit tersebut juga sejalan dengan upaya mendorong pembangunan rendah karbon dan transisi energi hijau. Namun, pengembangannya tetap harus diimbangi dengan tata kelola perkebunan yang baik, peningkatan produktivitas, perlindungan lingkungan, serta keberpihakan terhadap petani sawit.

Melalui perluasan pasar biodiesel, program B50 dinilai dapat menjadi momentum bagi Kalimantan Timur untuk mengoptimalkan potensi perkebunan sawit sekaligus memperkuat posisi komoditas tersebut dalam mendukung ketahanan energi nasional.

[TOS]



Berita Lainnya