Ekonomi dan Bisnis

Emas Dunia Cetak Sejarah Baru Tembus US$ 5.100, Kebijakan Trump Jadi Pemicu Utama

Kaltim Today
27 Januari 2026 11:57
Emas Dunia Cetak Sejarah Baru Tembus US$ 5.100, Kebijakan Trump Jadi Pemicu Utama
Batangan emas dipajang di pameran "Emas" di Museum Sejarah Alam Amerika di New York, AS.

JAKARTA- Harga emas dunia kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa setelah berhasil menembus level psikologis US$ 5.100 per ons troi pada Senin (26/1/2026). Lonjakan fantastis ini dipicu oleh masifnya permintaan aset lindung nilai (safe haven) di tengah memanasnya ketidakpastian geopolitik global dan kebijakan perdagangan Amerika Serikat yang dinilai disruptif.

Pada perdagangan Selasa (27/1/2026), harga emas spot terpantau bergerak stabil di kisaran US$ 5.065 per ons troi, setelah sehari sebelumnya sempat menyentuh puncak baru di level US$ 5.110. Meski kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Februari sempat terkoreksi tipis 0,4% ke area US$ 5.059, sentimen bullish terhadap logam mulia ini diprediksi masih akan berlanjut.

Kepala analis pasar KCM Trade, Tim Waterer, menilai bahwa gaya kepemimpinan Donald Trump yang cenderung agresif dalam kebijakan dagang tahun ini menjadi berkah bagi emas sebagai aset defensif. Ancaman Trump untuk menaikkan tarif impor terhadap mitra dagang utama menjadi motor penggerak utama.

“Ancaman kenaikan tarif terhadap Kanada dan Korea Selatan sudah cukup kuat untuk mempertahankan emas sebagai pilihan aset aman utama bagi para investor saat ini,” ungkap Waterer.

Sentimen pasar kian memanas setelah Trump mengumumkan rencana kenaikan tarif hingga 25% untuk produk mobil, kayu, hingga farmasi dari Korea Selatan. Tak hanya itu, kritik keras Washington terhadap Seoul dan ancaman serupa kepada Kanada—pasca-kunjungan Perdana Menteri Kanada ke China—telah menciptakan kekhawatiran akan pecahnya perang dagang baru.

Selain faktor geopolitik, pelemahan indeks Dolar AS turut menopang reli harga kuning mulia ini. Intervensi pejabat AS dan Jepang untuk menstabilkan mata uang Yen secara tidak langsung menekan greenback, sehingga membuat harga emas lebih terjangkau bagi pemegang mata uang asing lainnya.

Faktor pendorong terakhir datang dari kebijakan moneter. Pelaku pasar kini tengah menantikan hasil rapat The Federal Reserve (The Fed) yang diperkirakan akan menahan suku bunga. Ekspektasi suku bunga yang stabil atau cenderung menurun akan memangkas biaya peluang (opportunity cost) memegang emas, sehingga semakin memperkuat daya tarik instrumen yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset) ini.

[TOS]



Berita Lainnya