PEMKAB BERAU

Lestarikan Dialek Lokal, Pemkab Berau Luncurkan Mulok Bahasa Banua untuk SMP

Kaltim Today
02 Juli 2026 20:34
Lestarikan Dialek Lokal, Pemkab Berau Luncurkan Mulok Bahasa Banua untuk SMP
Seremoni launching mulok Bahasa Banua di Berau. (Miko/Kaltimtoday.co)

Kaltimtoday.co, Berau - Pemerintah Kabupaten Berau resmi meluncurkan mata pelajaran muatan lokal (mulok) beserta buku ajar Bahasa Banua untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Langkah ini diambil sebagai upaya nyata pemerintah daerah untuk menjaga dan melestarikan dialek lokal agar tetap tumbuh di tengah masyarakat.

Peluncuran tersebut dipimpin langsung oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Berau, Muhammad Said, di Unit Pelaksanaan Teknis (UPT) Satuan Pendidikan Nonformal Sanggar Kegiatan Belajar (SPNF SKB), Kamis (2/7/2026).

Agenda penting ini turut dihadiri dan disaksikan langsung oleh Kepala Balai Bahasa Kalimantan Timur Asep Juanda, serta sejumlah tenaga pendidik tingkat SMP dan sederajat di Kabupaten Berau.

Melalui bangku sekolah, mulok tersebut diharapkan menjadi sumber pengetahuan baru terkait bahasa daerah Banua selaku salah satu etnis asli yang mendiami Bumi Batiwakkal.

“Dengan mempertahankan bahasa Banua ini Insya Allah akan menjadikan bahasa khas dari daerah kita tetap dilestarikan dengan baik,” katanya.

Kepala Dinas Pendidikan Mardiatul Idalisah memastikan, jika mapel baru tersebut akan mulai diterapkan pada tahun ajaran 2026/2027.

Dalam proses penyusunan materi ajar, Dinas Pendidikan menggandeng sejumlah tokoh masyarakat Banua, di antaranya Ibnu Sina, Datu Kesuma, dan Rohaini. Pelibatan tokoh adat ini bertujuan agar seluruh kosakata yang tercantum dalam buku ajar sama persis dengan penuturan lisan sehari-hari. 

“Jadi kami mulai dari SMP, semoga tahun depan bisa kami laksanakan kebijakan ini di tingkat SD,” ujarnya.

Dalam penerapannya, sudah ditunjuk sejumlah koordinator serta tenaga pengajar yang ditugaskan agar mulok tersebut dapat berjalan dengan baik di sekolah.

Disdik pun telah menyusun skema agar mapel itu bisa linier (sejalur) dengan berbagai mapel yang telah menjadi bahan ajar wajib seperti bahasa Indonesia.

“Jadi bisa saja saja guru Bahasa Indonesia yang punya latar belakang dari suku Banua itu mengajarkan mulok itu juga, atau memang mereka yang minat untuk mengajarkan,” katanya.

Selain misi pelestarian budaya lokal di lingkungan sekolah. Melalui mulok baru ini juga Lisa-sapaan akrabnya, melihat ada peluang untuk menambah jam mengajar bagi setiap guru.

“Sehingga jam mereka cukup. Itu keuntungan lain juga bagi guru-guru,” pungkasnya.

[MGN | ADV PEMKAB BERAU] 



Berita Lainnya