Kaltim
PDIP Kaltim Soroti MBG, Kader Dilarang Terlibat Bisnis Program
BONTANG, Kaltimtoday.co - DPD PDI Perjuangan Kalimantan Timur menegaskan seluruh kader dilarang terlibat dalam bisnis program Makan Bergizi Gratis (MBG). Bila ada kader terbukti terlibat atau mengambil keuntungan dari bisnis program MBG, partai tidak segan menjatuhkan sanksi tegas.
Hal ini disampaikan Sekretaris DPD PDI Perjuangan Kaltim, Ananda Emira Moeis, kala ditemui usai memipin musyawarah anak cabang (Musancab) PDIP Bontang, Selasa (3/3/2026) petang.
Ananda menjelaskan, PDIP memandang MBG secara kritis bukan tanpa alasan. Pertama, program ini dinilai kurang maksimal bila ditinjau dari tujuan utamanya: meningkatkan gizi anak-anak Indonesia. Realitasnya di lapangan, kata Ananda, tak sedikit kasus menunjukkan makanan yang disalurkan ke anak-anak dipertanyakan kandungan gizinya. Terlebih di bulan Ramadan ini, makanan diberikan justru lebih banyak ultra-processed food (UPF), yang secara kandungan gizi sangat minim.
Kedua, keberadaan MBG ikut memangkas pos anggaran program penting lain, salah satunya pendidikan. Konstitusi mengamanahkan mandatory spending pendidikan sekurang-kurangnya 20 persen dari APBN. Namun yang terjadi sekarang, kata Ananda, ada komponen dalam anggaran pendidikan justru dialokasikan untuk pendidikan. Padahal, kata dia, anggaran pendidikan dan MBG mestinya dipisah.
"Anggarannya (untuk MBG) diambil dari pendidikan, tapi sarana dan prasarana pendidikan saja belum memadai. Dari sisi guru juga masih kurang kesejahteraanya. Itu yang menjadi fokus ketua umum kami (Megawati)," urainya.
Dia menambahkan "Di Kaltim tidak ada sih (terlibat MBG). Tapi kalau ada, namanya kami kirim ke DPP dan ketum, partai akan beri sanksi."
Sementara itu, Ketua DPC PDIP Bontang, Joni Alla Padang bilang, program MBG memang punya niatan bagus. Namun saat ini, pemerintah seolah fokus pada outcome (hasil langsung) saja, yakni MBG disalurkan. Semenrara outcome (dampak/hasil akhirnya) tak terukur.
MBG bertujuan meningkatkan gizi anak-anak Indonesia. Mestinya usai menerima MBG, kata Joni, level ilmu pengetahuan atau kemampuan anak-anak dalam berpikir mestinya meningkat. Tujuan besar itu sulit dicapai sebab di level teknis atau pelaksanaan saja MBG dipenuhi persoalan: mulai dari higienitas makanan, kandungan gizi, hingga penyalurannya ke sekolah.
"Kita lihat sekarang saja masih banyak kekurangan. Nilai gizi makanan kurang terkontrol, pelaksanaan teknia masih banyak kurang sana sini," tegasnya.
Related Posts
- Selain Coret Sekolah Elite, Menko Pangan Larang Dapur MBG Ambil Bahan Baku dari Luar Daerah
- Mensesneg Prasetyo Hadi Isyaratkan Tata Ulang Program Makan Bergizi Gratis Nasional
- Tagihan Rp3,5 Miliar Proyek Dapur MBG Mandek, Pengusaha Paser Mengadu ke Pemprov Kaltim
- Ratusan Dapur MBG Berhenti Beroperasi, KSP Ungkap Badan Gizi Nasional Sedang Tata Anggaran
- Anggaran MBG Dipangkas Rp 67 Triliun, Chatib Basri Ingatkan Risiko Kenaikan Harga Barang









