Kaltim

Tim Ahli Gubernur Kaltim Diminta Fokus Benahi Kebijakan Rudy - Seno, Bukan Urusi Hak Warga Gelar Demonstrasi

Kaltim Today
18 April 2026 17:10
Tim Ahli Gubernur Kaltim Diminta Fokus Benahi Kebijakan Rudy - Seno, Bukan Urusi Hak Warga Gelar  Demonstrasi
Akademisi dari Fakultas Hukum Universitas Mulawarman (Unmul), Herdiansyah Hamzah.

SAMARINDA, Kaltimtoday.co - Pernyataan para tim ahli di lingkaran Gubernur Kaltim (Kaltim) menuai kritik tajam menjelang rencana aksi demonstrasi besar pada 21 April mendatang. Akademisi dari Fakultas Hukum Universitas Mulawarman (Unmul), Herdiansyah Hamzah, menilai narasi yang dibangun oleh orang-orang di sekeliling Gubernur justru cenderung mengecilkan substansi kritik publik.

Terdapat tiga poin utama yang disoroti pria yang akrab disapa Castro tersebut. Pertama, ia menganggap wajar jika para tim ahli melakukan pembelaan karena mereka memang dibayar untuk menjadi perpanjangan tangan dan corong kepentingan Gubernur. Namun, ia menekankan pentingnya profesionalitas dalam menjalankan tugas tersebut.

"Standing mereka adalah standing-nya Gubernur, corongnya Gubernur, perpanjangan tangannya Gubernur. Ya jangan heranlah dengan pernyataan-pernyataan yang memang seolah-olah menjadi reaksi timbal balik dari Gubernur," ungkap Herdiansyah Hamzah.

Kedua, tim ahli dinilai tidak tepat karena lebih sibuk mengomentari metode aksi unjuk rasa dibandingkan menjawab substansi kritik yang dilemparkan masyarakat. Herdiansyah menegaskan bahwa sebagai ahli yang dibayar sesuai bidangnya, mereka seharusnya memberikan kontra narasi yang bersifat substansial untuk menanggapi poin-poin permasalahan yang ada di lapangan.

"Harusnya mengomentari isi kritik dari publik, substansinya yang paling penting, bukan soal metode dan aksi unjuk rasa di tanggal 21 itu," tegasnya.

Ketiga, narasi yang menarik-narik rencana aksi 21 April sebagai bagian dari kelompok yang "tidak bisa move on" dari Pilgub Kaltim dianggap sebagai langkah yang keliru. Menurutnya, terlepas dari siapa pun pelakunya, setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk berposisi sebagai oposisi terhadap pemerintahan terpilih.

Herdiansyah justru memandang bahwa keberadaan oposisi sangat krusial bagi kesehatan demokrasi di tingkat lokal. Ketidakpahaman lingkaran Gubernur terhadap pentingnya oposisi dinilai dapat menghambat kualitas pengawasan publik.

"Kalau kita sedikit paham dengan soal demokrasi itu, kita bahkan butuh oposisi. Jadi kalaupun mereka yang kalah di Pilgub kemarin kemudian memilih sebagai bagian dari oposisi terhadap pemerintahan, bukankah itu justru sebagai hal yang menyehatkan?" pungkasnya.

[TOS]



Berita Lainnya