Daerah
Usai NSP Dicabut, Yayasan Ibadurrahman Hanya Terima Siswa MTs dan MA, Tak Lagi Buka Santri Baru
Kaltimtoday.co, Tenggarong - Tak lagi dapat menerima santri baru setelah Nomor Statistik Pesantren (NSP) dicabut Kementerian Agama. Yayasan Pondok Modern Ibadurrahman Kampung Damai (YPMIKD) kini hanya membuka penerimaan siswa untuk jenjang Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA).
Seluruh aktivitas kepesantrenan pun dihentikan sembari menghormati keputusan pemerintah, meski yayasan tetap menempuh upaya hukum atas pencabutan tersebut.
Sejak terbitnya surat rekomendasi Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI pada awal Juni hingga pencabutan NSP pada 25 Juni 2026, yayasan tidak lagi membuka pendaftaran santri.
Pelaksana Tugas (Plt) Pimpinan Ibadurrahman, Ainul Khuri mengatakan, jumlah siswa-siswi MTs dan MA dengan jumlah total 73 orang.
Untuk menunjang kegiatan belajar, yayasan juga menyiapkan rumah hunian yang diberi nama Ibadurrahman Islamic Residence, mengingat sebagian siswa berasal dari luar Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).
"Maka yang ada sekarang adalah siswa-siswi MTs dan MA. Jadi, 73 siswa itu tinggal di rumah hunian, atau kalau dalam istilah yayasan kami disebut Ibadurrahman Islamic Residence. Jadi yang tinggal di sana adalah siswa-siswi, bukan santri," kata Ainul.
Ia menegaskan pihak yayasan tidak lagi menerima santri baru sebagai bentuk penghormatan terhadap keputusan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam yang mencabut NSP Pondok Modern Ibadurrahman.
Meski demikian, upaya hukum terhadap keputusan tersebut tetap berjalan melalui mekanisme yang telah ditempuh kuasa hukum yayasan.
"Tetapi langkah hukum tetap kami tempuh. Sementara terkait penerimaan santri, kami tidak menerima. Yang kami terima hanya siswa-siswi madrasah," tambahnya.
Ainul menjelaskan, mayoritas siswa MTs dan MA yang saat ini belajar di Madrasah Ibadurrahman berasal dari luar Kukar, di antaranya dari Samarinda, Bontang, dan Kutai Timur. Karena itu, mereka tinggal di Ibadurrahman Islamic Residencedengan pengawasan guru secara bergiliran.
Ia memastikan tidak ada lagi aktivitas kepesantrenan, termasuk kegiatan malam yang selama ini menjadi ciri khas pondok. Aktivitas yang masih berlangsung hanya pembinaan bacaan Al-Qur'an di masjid dalam kelompok-kelompok kecil.
"Karena kalau ada aktivitas malam, itu lebih mencerminkan kegiatan pesantren. Sementara sekarang statusnya madrasah, sehingga aktivitas malam kami hilangkan," tandasnya.
[RWT]
Related Posts
- Cek Tarif Listrik Terbaru Hari Ini: Berlaku untuk 13 Golongan Non-Subsidi dan Bersubsidi
- Rencana Zelensky Ganti Perdana Menteri Picu Pengunduran Diri Massal Kabinet Ukraina
- Pengasuh Anak di Samarinda Ditangkap usai Curi Perhiasan Majikan Senilai Rp300 Juta
- Evakuasi Korban Pakai Mobil Pikap, BPBD PPU Dorong Pengadaan Ambulans Darurat
- Vietnam Wajibkan Maskapai Bayar Kompensasi Delay hingga Rp 2,6 Juta Mulai Juli 2026









