Nasional

Bahlil Ungkap Alasan Cadangan BBM RI Cuma 25 Hari: Storage Tidak Cukup

Network — Kaltim Today 05 Maret 2026 07:33
Bahlil Ungkap Alasan Cadangan BBM RI Cuma 25 Hari: Storage Tidak Cukup
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia. (Dok. Kemensetneg)

Kaltimtoday.co - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberikan klarifikasi terkait kapasitas penyimpanan Bahan Bakar Minyak (BBM) Indonesia yang saat ini hanya bertahan untuk sekitar 25 hari. Bahlil menegaskan bahwa angka tersebut merupakan kapasitas maksimal dari infrastruktur yang ada saat ini.

Menurut Bahlil, kemampuan penyimpanan atau storage BBM di dalam negeri memang sudah sejak lama berada di kisaran 21 hingga 25 hari. Standar nasional minimal yang ditetapkan pemerintah adalah sekitar 20 sampai 21 hari konsumsi.

"Jadi begini, jangan disalahpersepsikan. Memang sejak dahulu, sudah sejak lama, bahwa kemampuan storage kita, daya tampung BBM kita di Republik Indonesia ini tidak lebih dari 21 sampai 25 hari," kata Bahlil. 

Bahlil menjelaskan bahwa, keterbatasan ini murni disebabkan oleh faktor infrastruktur pendukung. Berdasarkan data terbaru dari PT Pertamina (Persero) dan Dewan Energi Nasional (DEN), rata-rata ketersediaan cadangan riil saat ini berada di angka 22 hingga 23 hari.

Terkait pertanyaan mengapa pemerintah tidak menyediakan cadangan lebih dari batas tersebut, Bahlil menyebut kendala utama ada pada ketersediaan tangki penyimpanan. Meskipun stok BBM tersedia untuk dibeli, pemerintah belum memiliki ruang simpan yang memadai untuk menampungnya.

"Kenapa enggak kita melakukan persediaan lebih dari 25 hari? Kalau kita ada kan kita mau simpan di mana? Storage-nya enggak cukup ya? Storage-nya enggak cukup," papar Bahlil.

Lebih lanjut, Bahlil mengungkapkan bahwa pemerintah saat ini tengah berfokus membangun fasilitas penyimpanan baru secara masif. Targetnya, cadangan energi nasional dapat ditingkatkan hingga mampu mencukupi kebutuhan selama tiga bulan ke depan.

Target cadangan tiga bulan tersebut merujuk pada standar minimum konsensus global dalam menjaga ketahanan energi sebuah negara. Pembangunan fasilitas ini menjadi prioritas agar Indonesia tidak lagi bergantung pada cadangan jangka pendek.

Bahlil meminta publik memahami bahwa kondisi saat ini bukan disebabkan oleh ketidakmampuan pemerintah dalam pengadaan BBM. Masalah utama terletak pada daya tampung nasional yang sedang diupayakan untuk diperluas.

"Jadi mohon diluruskan, bukan karena kita tidak bisa menyiapkan lebih dari 23 hari, tetapi karena daya tampungnya belum ada," pungkas Bahlil.

[RWT] 



Berita Lainnya