Nasional
China Gandeng Asia Tengah Bangun Konstelasi Satelit AI Pantau Bencana Alam
Kaltimtoday.co - China bersama sejumlah negara di Asia Tengah mulai mengembangkan jaringan satelit mutakhir untuk meningkatkan kemampuan pemantauan dan prediksi bencana alam. Proyek ambisius yang diberi nama Tianwu Constellation ini dirancang khusus untuk mendeteksi berbagai ancaman geologi di kawasan regional.
Konstelasi satelit tersebut akan bekerja mengumpulkan data penginderaan jauh dari luar angkasa guna memetakan potensi gempa bumi, tanah longsor, banjir akibat pencairan gletser, hingga serangan hama pertanian. Langkah mitigasi ini nantinya akan diintegrasikan dengan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Pemanfaatan model AI ditujukan untuk mengolah seluruh data satelit secara real time atau langsung. Dengan demikian, pemerintah dari masing-masing negara peserta dapat mengambil keputusan taktis serta langkah evakuasi secara lebih cepat ketika mendeteksi adanya potensi bencana di lapangan.
Kesepakatan teknologi ini resmi ditandatangani oleh pihak China, Kazakhstan, Uzbekistan, dan Tajikistan pada Kamis (27/6/2026). Prosesi penandatanganan kerja sama berlangsung dalam ajang China-Eurasia Expo ke-9 di Urumqi, ibu kota Daerah Otonomi Xinjiang Uygur, China barat laut.
Jaringan pemantauan berbasis ruang angkasa ini akan terdiri dari lima satelit pada tahap awal peluncuran. Kendati demikian, para peneliti menyebut konstelasi tersebut memiliki proyeksi jangka panjang untuk dikembangkan secara bertahap hingga mencapai sebanyak 1.024 satelit di masa mendatang.
Seluruh data mentah penginderaan jauh yang dikumpulkan oleh satelit nantinya akan diproses di pusat komputasi canggih yang berlokasi di Xinjiang. Di fasilitas tersebut, China bertugas mengembangkan model AI khusus yang dilatih menggunakan data geologi untuk menganalisis berbagai indikator lingkungan secara komparatif.
Pakar penginderaan jauh dari Akademi Ilmu Pengetahuan China, Tong Qingxi, menjelaskan bahwa Xinjiang dipilih sebagai pusat data karena memiliki karakteristik geografis yang serupa dengan Asia Tengah. Wilayah-wilayah ini sama-sama menghadapi ancaman laten gempa bumi, tanah longsor, dan banjir glasial.
Menurut Tong, proyek Tianwu Constellation merupakan bentuk implementasi nyata dari program kerja sama Belt and Road Initiative. Agenda internasional ini sekaligus menjadi upaya bersama antarnegara untuk membangun masa depan kawasan yang lebih aman dari ancaman kerusakan alam.
Wakil Presiden National Academy of Sciences Tajikistan, Akobir Mirzorakhimzoda, menambahkan bahwa penguasaan teknologi satelit dan AI ini memberikan keuntungan besar bagi negaranya. Sistem ini memungkinkan pemantauan indikator lingkungan secara langsung sebagai dasar pengambilan keputusan yang akurat.
Salah satu fokus utama dari proyek ruang angkasa ini adalah pemantauan kondisi gletser di dataran tinggi Tibet yang terus menyusut. Data peneliti menunjukkan gletser di kawasan sumber air penting Asia tersebut telah menyusut sekitar 20 persen hingga 40 persen dalam beberapa dekade terakhir akibat perubahan iklim.
Di balik tujuan ilmiah dan mitigasi bencana tersebut, proyek Tianwu Constellation rupanya memicu kekhawatiran internasional mengenai potensi penyalahgunaan teknologi untuk spionase. Hingga kini, detail mengenai jenis data, citra, serta mekanisme pemrosesan sistem AI belum dipublikasikan secara terbuka ke publik.
Kondisi tersebut memunculkan asumsi dari sejumlah pengamat bahwa konstelasi satelit baru ini berpotensi memiliki fungsi ganda sebagai alat pengawasan militer. Kekhawatiran ini diperkuat oleh rekam jejak peluncuran satelit geostasioner Yaogan-41 oleh China pada tahun 2023 lalu.
Satelit Yaogan-41 dinilai memiliki kemampuan memantau wilayah Samudra Pasifik dan Samudra Hindia secara intensif. Sejumlah analis meyakini perangkat tersebut sengaja digunakan Beijing untuk mengawasi kawasan Indo-Pasifik serta memetakan aset militer milik Amerika Serikat (AS).
Angkatan Luar Angkasa AS sebelumnya juga pernah menyoroti perluasan armada satelit pengintai China, termasuk seri Yaogan-39. Washington menilai modernisasi teknologi optik pertahanan udara Beijing tersebut berpotensi meningkatkan kemampuan pengawasan yang mengancam privasi global dan keamanan internasional.
Sebagai respons terhadap peluncuran satelit-satelit tersebut, militer AS menyatakan akan terus mengembangkan kemampuan taktis guna menghadapi ancaman perang berbasis ruang angkasa. Kendati dinilai memiliki potensi risiko keamanan, integrasi teknologi satelit modern dan AI ini tetap dikembangkan karena manfaatnya yang besar bagi kemanusiaan.
[RWT]
Related Posts
- Putin and Xi hail their friendship and growing energy trade at their meeting in Beijing
- Trump says he's called off Iran strike planned for Tuesday at request of Gulf allies
- Trump insists US-China relations are in a good place despite differences as he wraps up Beijing trip
- Pertemuan Xi Jinping dan Donald Trump: China Ajak AS Pererat Kemitraan Global
- Trump's meeting with Xi comes with much fanfare in China, but major breakthroughs may be elusive







