Kutim

Distanak Kutim Kembangkan Komoditas Petani Lokal

Kaltim Today
01 Desember 2021 13:18
Distanak Kutim Kembangkan Komoditas Petani Lokal
Kepala Distannak Kutim, Dyah Ratnaningrum. (Ella/Kaltimtoday.co).

Kaltimtoday.co, Sangatta - Pengembangan sektor pertanian yang digaungkan Pemkab Kutim siap diterapkan oleh instansi terkait. Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kutim telah mengambil langkah strategis menggenjot hasil pertanian lokal.

Kepala Distanak Kutim, Dyah Ratnaningrum mengatakan, ketersediaan pangan adalah bagian dari tugas instansi yang dia pimpin. Program yang disiapkan pun telah tersusun rapi. Penguatan sektor pertanian dipastikan bakal berjalan sesuai koridor visi kepala daerah.

“Kami akan mendorong hasil pertanian yang memiliki potensi besar. Seperti pisang yang sudah jadi komoditas ekspor,” ucap Dyah.

Lagi-lagi Kecamatan Kaliorang dan Kaubun jadi penghasil utama, disusul Sangkulirang yang juga penghasil pisang. Kajian terhadap potensi pisang akan dilakukan sebagai bentuk pengembangan. Diharapkan hasilnya dapat lebih maksimal.

“Sejauh ini pangsa pasarnya adalah Malaysia dan Brunei Darussalam. Di sana pisang diubah menjadi bubur bayi,” tuturnya.

Harga pisang pun semakin naik saat ini. Berkisar Rp 3.000 – 5.000 per sisirnya. Biaya perawatan yang mudah dan murah tentu jadi keunggulan lain dari komoditas ini. Diharapkan produktivitas pisang ini dapat terus dikembangkan.

“Kami juga akan siapkan langkah pengembangan. Terutama dengan menciptakan produk turunan. Harapannya juga bisa diterima di pasar lokal,” katanya.

Selain pisang, Distannak juga tidak lupa dengan pengembangan padi sawah. Kecamatan Kaubun disebut menjadi lumbung padi Kutim. Lantaran saban tahun komoditas beras dari padi sawah selalu surplus. Walaupun masih belum dapat memenuhi kebutuhan beras se-Kutim.

“Untuk beras di Kaubun kami akan menganalisa lagi. Apa bisa surplus beras di sana dapat dimanfaatkan seluruh Kutim,” sebut Dyah.

Validasi jumlah lahan sawah dan pertanian akan dilakukan ulang. Sebagai bentuk pembaharuan data dan lebih valid untuk digunakan. Sehingga dapat terlihat berapa jumlah sawah dan lahan pertanian lain pada tiap kecamatan.

“Dengan data itu tentu akan memudahkan kami untuk menyiapkan rencana program yang dijalankan,” pungkasnya.

[EL | NON | ADV DISKOMINFO KUTIM]



Berita Lainnya