Daerah
Harga Cabai Sempat Tembus Rp200 Ribu Saat Lebaran, Pemprov Kaltim Pastikan Kini Berangsur Turun
Kaltimtoday.co, Samarinda - Harga cabai di Kalimantan Timur sempat melonjak drastis hingga menembus Rp200 ribu per kilogram pada periode Lebaran. Kenaikan tersebut dipicu oleh lonjakan permintaan masyarakat yang tidak diimbangi dengan pasokan dari daerah penghasil.
Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (DPPKUKM) Kaltim, Ali Wardana, mengatakan pemerintah terus melakukan pemantauan terhadap ketersediaan dan harga bahan pokok di pasaran.
Meski demikian, Ali mengakui harga cabai sempat mengalami lonjakan signifikan menjelang dan sesaat setelah Hari Raya Idulfitri. Kenaikan mulai terasa sekitar sepekan sebelum Lebaran, ketika harga cabai naik dari kisaran Rp70 ribu hingga menembus Rp100 ribu per kilogram.
Puncaknya terjadi pada H+1 Lebaran ketika harga cabai sempat mencapai Rp200 ribu per kilogram. Kondisi ini terjadi karena permintaan masyarakat meningkat tajam, sementara distribusi dari daerah penghasil terhenti sementara akibat libur Lebaran.
“Menjelang hari H Lebaran, distribusi dari daerah pemasok berhenti karena para pengirim juga libur. Akibatnya stok di pasar menipis sementara permintaan tetap ada,” katanya pada Sabtu (04/04/2026).
Ali menyebutkan, sebagian besar pasokan cabai untuk Kalimantan Timur berasal dari daerah produsen di Jawa Timur. Saat pengiriman dari daerah tersebut kembali berjalan setelah libur Lebaran, harga cabai pun perlahan mulai turun.
Berdasarkan data pemantauan harga per 31 Maret, harga cabai di Samarinda telah kembali mendekati harga normal. Cabai merah besar tercatat berada di kisaran Rp53 ribu per kilogram, cabai keriting sekitar Rp45 ribu per kilogram, sedangkan cabai rawit merah masih berada di kisaran Rp77 ribu per kilogram.
“Yang paling tinggi saat ini masih cabai rawit merah, tetapi secara umum semuanya sudah mengalami penurunan dibanding saat Lebaran,” ungkapnya.
Selain dari Jawa Timur, pasokan cabai dan sejumlah komoditas pangan lain juga datang dari Sulawesi Selatan. Pemerintah provinsi pun membuka peluang pasokan dari berbagai daerah produsen untuk menjaga stabilitas harga di Kalimantan Timur.
Pemerintah juga menyiapkan langkah antisipasi jika terjadi gejolak harga, seperti menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) oleh Dinas Pangan serta operasi pasar oleh DPPKUKM.
“Program-program itu disiapkan sebagai langkah intervensi jika terjadi kondisi darurat harga, agar masyarakat tetap bisa mendapatkan bahan pokok dengan harga terjangkau,” pungkasnya.
[RWT]
Related Posts
- Integrasikan Sistem Laporan Warga, Pemkab Kukar Luncurkan Aplikasi Aduan Masyarakat
- Usung Konsep Bursa Kerja Tiap Hari, Pemkab Kukar Luncurkan Aplikasi Kukar Siap Kerja
- Pagu Naik Jadi Rp150 Juta per RT, Bupati Kukar Luncurkan Program RT-Ku Terbaik
- Overkapasitas Pasien, Pemprov Kaltim Evaluasi RSUD AWS dan Siapkan Gedung Baru
- Demi Jamin Kepastian Harga Tandan Buah Segar, Dinas Perkebunan Kaltim Desak Petani Sawit Jalin Kemitraan









