Advertorial

Hetifah Dorong Dosen di Samarinda Kuasai AI demi Riset Berkualitas

Kaltim Today
19 Juli 2026 15:53
Hetifah Dorong Dosen di Samarinda Kuasai AI demi Riset Berkualitas
Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian bersama pembicara dan peserta usai membuka pelatihan pemanfaatan AI bagi dosen di Samarinda, Minggu (19/7/2026).

SAMARINDA, Kaltimtoday.co - Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian menginisiasi pelatihan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) bagi dosen dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di Samarinda. Langkah ini dilakukan sebagai upaya memperkuat kualitas penelitian dan meningkatkan publikasi ilmiah bereputasi.

Melalui kegiatan bertajuk "Optimalisasi Pemanfaatan Artificial Intelligence untuk Meningkatkan Kualitas Penelitian dan Publikasi Ilmiah bagi Dosen" di Hotel Aston Samarinda, Minggu (19/7/2026), para peserta mendapatkan pembekalan serta praktik langsung. Mereka dilatih menggunakan berbagai platform AI untuk mendukung proses penelitian, mulai dari pencarian referensi, penyusunan roadmap riset, identifikasi research gap, hingga penulisan artikel ilmiah.

Menurut Hetifah, perkembangan AI telah mengubah cara dunia akademik bekerja sehingga perguruan tinggi harus mampu beradaptasi. Institusi pendidikan tinggi perlu membekali dosen dan mahasiswa agar mampu memanfaatkan teknologi tersebut secara bijak dan bertanggung jawab.

“Kita tidak bisa melarang mahasiswa menggunakan AI. Justru dosen harus membimbing mereka agar mampu memanfaatkannya dengan baik. AI dapat membuat proses riset lebih efisien dan terarah, tetapi tidak boleh menggantikan integritas akademik,” ujar Hetifah.

Anggota DPR RI daerah pemilihan Kalimantan Timur ini mengungkapkan, sejumlah studi menunjukkan sekitar 73,3 persen sumber daya manusia di perguruan tinggi masih membutuhkan pelatihan lebih lanjut terkait pemanfaatan AI. Tantangan lain yang dihadapi adalah kesiapan infrastruktur dan biaya implementasi di lapangan.

Di sisi lain, mayoritas perguruan tinggi sebenarnya telah memiliki sistem teknologi informasi yang cukup baik. Kondisi itu dinilai memberi peluang besar bagi AI untuk menjadi bagian integral dalam proses pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Namun demikian, Hetifah mengingatkan bahwa kecanggihan AI tetap harus diimbangi dengan etika akademik. Menurutnya, AI dapat menghasilkan informasi yang tidak akurat, bahkan referensi yang tidak benar apabila digunakan tanpa adanya proses verifikasi.

“Sebagus apa pun AI, integritas dan etika harus tetap menjadi fondasi utama. Jangan sampai AI digunakan untuk memalsukan data, memanipulasi hasil penelitian, atau mengabaikan kejujuran ilmiah. Yang tidak akan pernah tergantikan oleh AI adalah rasa ingin tahu, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis manusia,” tegas Hetifah.

Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber kompeten, yakni Hanif Fakhrurroja dari Pusat Mekatronika Cerdas BRIN, Kepala BRIDA Kalimantan Timur Fitriansyah, dan Guru Besar Universitas Mulawarman Rudy Agung Nugroho.

Dalam sambutannya, Kepala BRIDA Kaltim Fitriansyah menjelaskan bahwa pihaknya bersama Organisasi Riset Informatika dan Elektronika BRIN tengah mengembangkan AURA AI. Platform kecerdasan buatan ini dirancang untuk mendukung riset berbasis data dalam menyelesaikan berbagai persoalan pembangunan di Kaltim.

Fitriansyah membeberkan bahwa pengembangan AURA AI telah berlangsung selama dua tahun. Meski demikian, proyek ini dihadapkan pada tantangan keterbatasan anggaran riset di daerah.

“Harapan kami, pengembangan AI ini tidak berhenti di tengah jalan. AI harus menjadi bagian dari penguatan sumber daya manusia IPTEK sekaligus menghasilkan solusi berbasis riset yang dapat dimanfaatkan masyarakat Kalimantan Timur,” kata Fitriansyah.

Pada sesi materi, Guru Besar Universitas Mulawarman Rudy Agung Nugroho menekankan pentingnya setiap dosen memiliki roadmap penelitian yang jelas sebagai dasar membangun kepakaran. Menurutnya, AI kini dapat dimanfaatkan untuk membantu menemukan research gap serta mengidentifikasi berbagai bentuk kebaruan (novelty) dalam penelitian.

“Novelty bukan hanya menemukan sesuatu yang benar-benar baru, tetapi juga mengembangkan sesuatu yang sudah ada menjadi lebih baik sehingga memberikan kontribusi ilmiah yang nyata,” jelas Rudy.

Sementara itu, Hanif Fakhrurroja dari Pusat Mekatronika Cerdas BRIN memperkenalkan berbagai platform AI yang dapat membantu dosen dalam seluruh tahapan penelitian. Platform tersebut mulai dari SocialX untuk pengumpulan data media sosial, Open Knowledge Maps untuk menyusun peta penelitian, hingga pemanfaatan Claude AI dan Scopus AI dalam menyusun Systematic Literature Review (SLR).

Menurut Hanif, perkembangan AI yang sangat cepat membuka peluang besar bagi peneliti untuk bekerja lebih produktif, selama teknologi tersebut dimanfaatkan secara tepat.

“AI sebaiknya dipositioningkan sebagai kolaborator intelektual yang membantu peneliti bekerja lebih cepat dan lebih efektif. Namun keputusan ilmiah tetap berada di tangan manusia,” tutur Hanif.

Usai penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik langsung penggunaan berbagai platform AI oleh para peserta. Para dosen mempelajari penerapan AI dalam setiap tahapan penelitian mulai dari pencarian literatur hingga penyusunan draf artikel ilmiah agar dapat segera diaplikasikan dengan tetap menjunjung tinggi etika akademik.

[TOS]



Berita Lainnya