Lipsus
Tambang Batubara Meredup, Keramba Menghidupkan Embalut
Deru alat berat yang dulu menjadi penanda kehidupan di Desa Embalut kini perlahan berganti dengan riak air dari ribuan kotak keramba ikan di Sungai Mahakam. Di desa yang pernah bergantung pada aktivitas tambang batu bara itu, masyarakat menemukan napas baru melalui budidaya ikan air tawar. Di balik perubahan tersebut, ada perjalanan panjang yang dimulai dari kegagalan, proses belajar, hingga keyakinan bahwa tambang akan habis, tetapi kebutuhan manusia terhadap ikan tidak akan pernah berhenti.
TEPAT matahari di atas kepala, cuaca terik, aku pertama kali menginjakkan kaki di desa Desa Embalut, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara. Jejak industri tambang batubara masih terasa. Tonggak pembatas antara jalan hauling dan jalan umum masih berdiri kokoh. Penanda kawasan perusahaan tambang batubara yang kini telah berhenti beroperasi pun masih tertancap di desa itu. Seolah menjadi pengingat bahwa Embalut pernah hidup dalam denyut aktivitas pertambangan.
Cukup unik. Sebuah desa yang konon diambil dari nama pohon kayu embalut yang banyak tumbuh di tepi sungai, kini membuka mata pencaharian baru bagi warga di sana. Desa yang melekat dengan aktivitas tambang batubara pada tahun 90-an, kini bertransformasi menjadi sentra perikanan.
Cerita dimulai dari pertemuan singkat dengan salah satu tokoh yang berperan mengubah wajah desa tambang, menjadi desa dengan hamparan kolam ikan air tawar. Basri namanya. Pria bertubuh sekitar 165 sentimeter itu, mengenakan kaos lengan panjang dan topi yang meneduhkan wajahnya.
Rambut serta jambang yang telah memutih menjadi penanda usia, berpadu dengan kulitnya yang cerah. Penampilannya jauh dari kesan berlebihan, mencerminkan keseharian seorang kepala desa yang akrab dengan warganya.
Tanpa basa-basi, Basri langsung mengajak saya ke kawasan keramba, melihat langsung jerih payah dan hamparan budidaya ikan air tawarnya. Lokasinya tak jauh dari rumah Basri. Hanya sekitar lima menit saja dari rumahnya.
Sesampainya di keramba, gemercik air pun terdengar. Sejumlah ikan hidup kegirangan, meski ada satu dua yang mati. Basri mulai menceritakan bagaimana perjalanannya waktu merintis sentra perikanan tersebut.
"Kalau mulai berkembang ya sekitar tahun 2015. Tapi sebenarnya saya pertama kali membuat keramba itu sekitar tahun 2007," kata Basri.
Di tahun itu, situasi tak berjalan mulus. Berbekal ilmu seadanya, usaha budidaya ikan air tawar di awal perjalanan, tak cukup berkembang.
Hadirnya PT Kitadin, Citra Desa Tambang Melekat
Potret kawasan area masuk PT Kitadin yang sudah tidak lagi beroperasi. (Defrico/Kaltimtoday.co)
PT Kitadin (KTD) site Embalut di Tenggarong Seberang memulai kegiatan penambangan batu bara sekira 1982, setelah mulai berdiri dan mengurus perizinan serta Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) pada awal dekade 1980-an. Lokasinya tak jauh dari Desa Embalut. Kegiatan pertambangan mereka terus dilakukan selama puluhan tahun.
Sampai suatu ketika, mengingat umurnya tidak lagi panjang, perusahaan memberikan kesempatan pelatihan mandiri bagi warga sekitar Desa Embalut melalui CSR-nya. Basri termasuk puluhan warga lain yang ikut dalam pelatihan tersebut.
"Dulu saya belajar ke Jawa melalui program CSR PT Kitadin. Saya belajar sekitar dua tahun, dari 2011 sampai 2013. Belajar dari pengalaman kegagalan sebelumnya," ujarnya.
Warga Desa Embalut diajarkan ilmu perikanan, pertanian, hingga peternakan di Pulau Jawa. Bukan tanpa alasan. Ketika perusahaan nantinya berhenti beroperasi, masyarakat bisa jauh lebih mandiri.
Di tengah perjalanan pada 2014, wabah virus KHV (Koi Herpes Virus) melanda budidaya ikan tawar di Desa Embalut. Wabah itu menyebabkan hampir semua pembudidaya putus asa. Tinggal beberapa orang saja yang bertahan. Penyakit ini memang menjadi momok menakutkan bagi pembudidaya ikan air tawar, khususnya ikan mas dan koi.
Kejadian itu memukul para pembudidaya secara mendadak, di tengah mencari nafas baru untuk desa setempat. Ada yang menyerah, ada juga yang berpikir dan belajar. Basri termasuk orang yang memulainya kembali di saat wabah mengintai.
Usai pelatihan selama dua tahun, Basri mulai bangkit dari kegagalan. Ia mulai kembali pada 2015, dengan bekal pelatihan yang diberikan. Sedikit demi sedikit, progres mulai terlihat. Berawal hanya dengan 52 kotak keramba. Sekarang dirinya sudah memiliki 420 kotak keramba ikan air tawar.
Budidaya Ikan Jadi Tulang Punggung Ekonomi Desa
Lewat ratusan keramba ikan yang ia rawat seperti anak sendiri, Basri perlahan mengembangkan budidaya ikan air tawar bersama para pembudidaya lainnya. Jejaknya seakan menginspirasi warga desa, menjadi ekonomi baru di desa berpenduduk kurang lebih 2.500 orang.
Ikan nila, patin, dan mas menjadi pilihan utama di keramba jaring milik Basri. Selain kemampuan adaptasi terhadap arus air, pertumbuhan ketiga ikan tersebut sangat cepat. Apalagi, tingginya permintaan pasar terhadap konsumsi ikan air tawar.
"Paling banyak diminati memang ikan nila," sebutnya.
Di tengah obrolan tepat di atas keramba, Basri membuka bagaimana dirinya merawat ikan air tawarnya tetap hidup dan berkembang hingga sekarang. Pengelolaan kualitas air, pemberian pakan, dan pemeliharaan fisik keramba.
Pengalaman tak bisa bohong. Kegigihan Basri memelihara kerambanya, membuahkan hasil meski membutuhkan proses panjang. Dia bilang tidak terlalu sulit merawatnya karena terbiasa. Telaten, rajin memberi makan, mengamati kondisi ikan menjadi kunci utama.
"Pelet jadi makanan utama ikan di sini," ucap Basri.
Ikan air tawar miliknya anti mengandalkan obat-obatan kimia. Selain demi keamanan pangan, terlebih juga menjaga lingkungan dan menekan biaya. Semua dirawat secara alami oleh tangan-tangan pembudidaya.
Lalu bagaimana ketika ikan-ikan sakit? Jawabannya sederhana. Basri menganalogikan ikan seperti manusia. Kalau sakit, cukup dipuasakan. Panjangnya, ia menerapkan metode alami bernama puasa ikan (starvation), untuk menyembuhkan penyakit tanpa memicu efek samping obat kimia.
Metode puasa ini biasanya dilakukan selama dua sampai empat hari, tergantung pada tingkat keparahan penyakit dan jenis ikannya, lalu pakan diberikan kembali secara bertahap dalam porsi kecil.
"Jadi lebih mengandalkan manajemen pemeliharaan daripada bahan kimia," pungkasnya.
Produksi Puluhan Ton Perbulan, hingga Raup Omset Ratusan Juta
Lika-liku pengembangan keramba ikan air tawar milik Basri, membuahkan hasil. Produksinya membludak, duit mengikuti dari belakang. Tak terpikirkan dibenaknya, langkah kecil yang ia lakukan belasan tahun lalu, menghasilkan sesuatu yang besar untuk penghidupan.
Dari ratusan keramba yang ia miliki, bersama pembudidaya lainnya, Basri bisa memproduksi ikan air tawar sebanyak 20 ton per bulan. Itu berarti, 600-700 kilogram setidaknya ia kantongi per hari untuk dijual ke tempat pelelangan ikan.
Dulu, saat ekonomi masih cukup baik, Basri bisa mendapatkan omset sekitar Rp 200 juta sebulan. Namun sekarang, dilanda faktor ekonomi yang lesu, omset tetap ada tapi jauh berkurang. Belum lagi ditambah harga pakan ikan dan operasionalnya yang ikut naik setiap tahunnya.
"Kalau sekarang, karena harga ikan turun sementara harga pakan naik, sekitar Rp50 juta sampai Rp100 juta per bulan omsetnya," imbunya.
Ada puluhan pembudidaya di Desa Embalut, dengan perkiraan ribuan keramba ikan air tawar. Mereka bisa menghasilkan pundi rupiah, tergantung jumlah keramba yang mereka miliki. Setidaknya, sudah cukup untuk menghidupi keluarga kecil.
Setiap malam kata Basri, sedikitnya dua ton produksi ikan air tawar keluar dari desa ke tempat pelelangan ikan. Spot favoritnya di tempat pelelangan ikan, Selili, Samarinda. Tak jarang, produksi ikannya juga dijual ke Berau, Tarakan, hingga Paser.
Teknik Ajaib Penanganan Penyakit Ikan Ala Basri, Dinilai Ampuh Menekan Angka Kematian Ikan
Wabah virus KHV (Koi Herpes Virus) tahun 2014 di Desa Embalut, menjadikan pengalaman berharga bagi Basri. Belum ada obat yang benar-benar dapat menyembuhkan ikan yang sudah terinfeksi KHV. Banyak pembudidaya memiliki “resep” atau teknik sendiri yang mereka yakini mampu menekan angka kematian ikan.
Basri mengaku, dirinya punya teknik ajaib untuk menghadapi wabah virus tersebut. Teknik itu dibagikan kepada para pembudidaya ikan di Desa Embalut, demi keberlangsungan hidup dan kesuksesan pembudidaya di sana.
Bukan penelitian formal. Itu hasil pengalaman Basri bertahun-tahun. Ia sangat merugi, kotak keramba habis karena penyakit ikan yang tak diketahui penawarnya seperti apa. Formula yang Basri dapat, hasil dari belajar bertahun-tahun hingga menemukan cara penanganannya.
Banyak dosen atau pembudidaya lain bertanya gimana caranya mengatasi penyakit ikan tersebut, formulanya apa, namun Basri saja yang mengetahuinya dan sebagian kecil orang yang ia percayai.
Menurut Basri, teknik itu menjadi salah satu kunci keberhasilannya mempertahankan produksi saat banyak pembudidaya lain mengalami kerugian akibat KHV.
Dari Dinamit ke Penjaga Keramba Ikan Air Tawar
Perubahan yang diceritakan Basri bukan hanya tampak pada bentang alam Desa Embalut, tetapi juga pada perjalanan hidup warganya. Salah satunya Marlan, mantan pekerja PT Kitadin yang kini menghabiskan hari-harinya merawat keramba ikan milik Basri di tepian aliran Sungai Mahakam.
Pria yang telah berusia lebih dari 60 tahun itu mengawali kariernya di PT Kitadin pada 1983. Selama 23 tahun, hingga 2006, dunia tambang menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya. Ia pernah ditempatkan di bagian peledakan (dinamit), pekerjaan yang menuntut ketelitian sekaligus keberanian karena risiko selalu mengintai.
“Setiap saat nyawa bisa dicabut,” ujarnya singkat mengenang masa-masa ketika ia harus bekerja berdampingan dengan bahan peledak.
Kalimat itu menggambarkan bagaimana pekerjaan di tambang bukan hanya soal mencari nafkah, tetapi juga mempertaruhkan keselamatan setiap kali memulai giliran kerja.
Marlan masih mengingat bagaimana tubuhnya selalu dipenuhi debu dan kotoran sepulang bekerja. Kondisi itu bahkan menjadi bahan candaan orang-orang di sekitarnya. Namun di balik semua itu, tambang tetap menjadi tumpuan hidupnya selama puluhan tahun.
Setelah meninggalkan dunia tambang pada 2006, kehidupan tak langsung berpihak kepadanya. Kesempatan kerja tidak mudah didapat. Ia mengaku sempat mengalami masa-masa sulit karena lapangan pekerjaan semakin terbatas setelah tidak lagi bekerja di perusahaan tambang.
Harapan baru datang pada 2015 ketika Basri mengajaknya bergabung mengelola budidaya ikan air tawar. Sejak saat itu, Marlan beralih profesi menjadi perawat keramba. Rutinitasnya kini jauh berbeda. Jika dulu hari-harinya diwarnai dentuman peledakan dan aktivitas tambang, kini ia lebih akrab dengan riak air, pakan ikan, serta pemantauan kondisi ribuan ikan di keramba.
Menurut Marlan, bekerja sebagai pembudidaya ikan tetap membutuhkan ketekunan. Meski berbeda dengan dunia tambang, pekerjaan ini memberinya kesempatan untuk tetap produktif di usia yang tidak lagi muda. Ia pun bersyukur masih memiliki sumber penghasilan.
Ia mengenang, saat masih bekerja di tambang, gajinya sekitar Rp1,5 juta per bulan. Nominal itu, menurutnya, sudah cukup pada masa itu karena harga kebutuhan pokok masih relatif murah. Kini, pendapatannya memang tidak sebesar ketika industri tambang sedang berjaya, tetapi ia merasa apa yang diperoleh sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Alhamdulillah, cukup. Bos juga masih berbagi rezeki,” katanya.
Perjalanan Marlan menjadi potret perubahan yang dialami banyak warga Desa Embalut. Ketika aktivitas tambang perlahan meredup, mereka tidak lagi menggantungkan hidup pada batu bara. Sebaliknya, mereka mulai menemukan harapan baru dari budidaya ikan air tawar, membuktikan bahwa kehidupan setelah tambang tetap bisa terus berjalan selama ada kemauan untuk beradaptasi.
Meski begitu, tidak semua penduduk di Desa Embalut berkecimpung di dunia keramba. Ada juga yang masih bertani, nelayan, hingga bekerja di sektor jasa atau industri.
Kehidupan ikan air tawar milik Basri. (Defrico/Kaltimtoday.co)
Peralihan Desa Tambang ke Budidaya Perikanan
Desa Embalut rupanya masuk dalam radar Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kaltim. Bisa dibilang, desa tersebut menjadi salah satu percontohan positif, khususnya peralihan mata pencaharian masyarakat dari sektor tambang menuju budidaya perikanan.
Meski dinilai positif, tetap ada catatan khusus dari dinas terkait pengelolaan keramba ikan di sana. Dengan lokasi yang tidak jauh dari perusahaan eks tambang, bukan tidak mungkin terjadi pencemaran bekas aktivitas tambang beberapa tahun lalu.
Keramba di sungai bergantung penuh pada kualitas air sungai. Jika ada limpasan dari eks tambang, misalnya air asam tambang, sedimen, atau logam berat, maka ikan ikut terpapar. Meski tambang sudah ditutup, risiko masih ada apabila reklamasi dan pengelolaan air pascatambang belum optimal.
Sebagai alternatif, DKP lebih mendorong penggunaan kolam terpal, bioflok, maupun sistem resirkulasi air (RAS) yang lebih mudah dikendalikan.
Kepala Bidang Perikanan Budidaya dan Penguatan Daya Saing Produk Perikanan (PDSPP) Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kaltim, Irma Listiawati. (Defrico/Kaltimtoday.co)
"Jadi pembudidaya mengontrol kualitas air. Air bisa disaring, diendapkan, atau diganti sesuai kebutuhan," ucap Kepala Bidang Perikanan Budidaya dan Penguatan Daya Saing Produk Perikanan (PDSPP) Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kaltim, Irma Listiawati.
Irma mengatakan Kementerian Kelautan dan Perikanan sebenarnya telah menggagas pengembangan bioflok secara nasional pada 2026. Kalimantan Timur awalnya mendapat alokasi 18 titik, kemudian bertambah menjadi 23 titik setelah ada tambahan usulan dari Kutai Kartanegara. Namun, di tengah proses berjalan, petunjuk teknis berubah sehingga konsep bioflok dialihkan menjadi sistem RAS. Hingga kini, perubahan tersebut belum memiliki kelanjutan dari pemerintah pusat.
“Menurut kami, sistem RAS dengan bioflok itu masih mumpuni untuk pengelolaan budidaya," tambahnya.
Menurut Irma, tantangan budidaya tidak hanya berkaitan dengan penyakit, tetapi juga bagaimana pembudidaya menerapkan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB). Jika prosedur tersebut dijalankan dengan benar, hasil budidaya akan lebih baik sekaligus aman untuk dikonsumsi.
Irma menjelaskan DKP memiliki sistem pelaporan apabila terjadi kematian ikan maupun serangan penyakit. Laporan dikirim oleh kabupaten/kota melalui aplikasi disertai foto dan dokumentasi. Selanjutnya sampel ikan dikirim ke laboratorium untuk dilakukan pengujian. Karena adanya efisiensi anggaran, pengambilan sampel lebih banyak dibantu pemerintah kabupaten/kota.
“Kalau ada penyakit ikan atau kematian massal akibat cuaca ekstrem, teman-teman kabupaten kota mengirim laporan ke kami. Dan kami bisa menindaklanjutinya," kata Irma.
Perikanan Air Tawar, Transformasi Nafas Baru Desa Embalut di Kutai Kartanegara
Perubahan itu, bagaimanapun, bukan perkara sederhana. Ketika aktivitas tambang perlahan surut, masyarakat tidak hanya dituntut menemukan sumber penghasilan baru, tetapi juga harus beradaptasi dengan cara hidup yang berbeda.
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman (Unmul), Prof. Esti Handayani Hardi, melihat langkah masyarakat memanfaatkan potensi perairan sebagai sumber penghidupan baru sebagai sesuatu yang positif. Bagi dia, keputusan untuk beralih ke budidaya ikan menunjukkan upaya masyarakat untuk bertahan dengan mengoptimalkan sumber daya yang tersedia di sekitar mereka.
Namun, perubahan mata pencaharian dari pekerja tambang menjadi pembudidaya ikan membutuhkan proses panjang. Masyarakat yang sebelumnya terbiasa menerima penghasilan rutin setiap bulan, kini harus berhadapan dengan risiko usaha, ketidakpastian hasil panen, hingga tuntutan untuk menguasai keterampilan baru.
“Yang tadinya mereka karyawan biasa, menerima gaji setiap bulan, beraktivitas rutin di kantor bahkan lapangan, tiba-tiba harus menjadi wirausaha. Itu juga membutuhkan mental yang kuat,” ujar Prof Esti.
Menurutnya, masyarakat tidak bisa dibiarkan menghadapi proses transisi tersebut seorang diri. Kegagalan pada masa awal budidaya merupakan hal yang mungkin terjadi, terutama bagi mereka yang belum memiliki pengetahuan dan keterampilan memadai. Karena itu, pendampingan menjadi bagian penting agar masyarakat tidak mudah menyerah ketika hasil yang diharapkan belum langsung terlihat.
Pendampingan, kata Prof Esti, dapat melibatkan berbagai pihak. Mulai dari perusahaan yang sebelumnya beroperasi di wilayah tersebut, pemerintah daerah, hingga pemerintah pusat. Sebab, transformasi ekonomi di kawasan pascatambang bukan sekadar soal mengganti pekerjaan, tetapi juga membangun fondasi penghidupan baru yang mampu bertahan dalam jangka panjang.
“Kalau pengetahuan dan keterampilannya masih kurang dalam kegiatan akuakultur, bisa jadi pada dua atau tiga periode awal belum langsung bisa panen. Mereka harus menyesuaikan. Itu yang perlu terus didampingi supaya mereka tidak sendirian,” katanya.
Di titik inilah, transfer pengetahuan dan teknologi menjadi penting. Pengalaman budidaya dari daerah lain tidak selalu bisa diterapkan begitu saja. Kondisi perairan, karakter wilayah, hingga kebiasaan masyarakat bisa berbeda. Semua membutuhkan penyesuaian.
Prof Esti mencontohkan pengalaman pembudidaya yang belajar dari daerah lain sebelum mengembangkan teknik budidaya di wilayahnya sendiri. Proses tersebut, menurutnya, tidak selalu berhasil dalam sekali percobaan. Ada fase belajar, mencoba, gagal, lalu memperbaiki cara.
Teknologi budidaya pun memiliki tantangan masing-masing. Sistem seperti Recirculating Aquaculture System (RAS), misalnya, mampu meminimalkan penggunaan air dan mengurangi risiko kontaminasi dari luar. Namun, teknologi tersebut membutuhkan energi listrik yang besar, keterampilan pengoperasian, biaya investasi tinggi, serta pemeliharaan yang tidak sederhana.
Begitu pula dengan sistem bioflok. Metode ini dapat membantu menekan limbah dan meningkatkan efisiensi penggunaan pakan melalui pemanfaatan mikroorganisme yang mengolah limbah organik dan senyawa nitrogen di dalam kolam.
Namun, penerapannya membutuhkan perhitungan dan pengelolaan yang tepat serta sangat bergantung pada ketersediaan aerasi. Gangguan listrik yang menyebabkan aerator berhenti dalam waktu cukup lama dapat menurunkan kadar oksigen terlarut dan mengancam keberlangsungan ikan yang dibudidayakan.
"Jangan sampai teknologi yang seharusnya menjadi solusi justru menjadi beban baru karena biaya investasi dan operasionalnya terlalu tinggi," tutur Prof Esti.
Pada akhirnya, keberlanjutan budidaya ikan di kawasan yang sedang bertransformasi dari tambang tidak hanya ditentukan oleh ada atau tidaknya ikan di dalam keramba. Lebih dari itu, keberlanjutan bergantung pada kemampuan masyarakat menguasai pengetahuan, teknologi, mengelola risiko, serta mendapatkan pendampingan ketika menghadapi kegagalan.
Bagi Prof Esti, apa yang dilakukan masyarakat merupakan modal awal yang penting. Mereka telah melihat potensi sumber daya di sekitarnya dan mencoba mengubahnya menjadi sumber penghidupan. Tantangan berikutnya adalah memastikan agar upaya tersebut tidak berhenti sebagai cerita sukses segelintir orang, tetapi berkembang menjadi ekosistem ekonomi baru yang mampu diwariskan kepada generasi berikutnya. (*)
*) Artikel ini merupakan hasil workshop bersama International Media Support (IMS) dan Indonesian Data Journalism Network (IDJN) bertajuk "Countering Climate Disinformation: Prebunking, Data, and Constructive Journalism".
Related Posts
- Mitra MBG Paser Tuntut Kejelasan Pembayaran Dapur Rp 3,5 Miliar, Sambangi BGN di Jakarta
- Survei SMRC: Kepuasan Publik Terhadap Kinerja Presiden Prabowo Anjlok ke 51,1 Persen
- Sempat Tertunda akibat Kuorum, Usulan Hak Angket Gubernur Kaltim Masuk Agenda Banmus
- Pendapatan Daerah Menurun, APBD Kaltim 2027 Diperkirakan Hanya Rp12,1 Triliun
- Kaltim di Persimpangan Fiskal: Saat Janji Politik Harus Tunduk pada Disiplin Anggaran









