Daerah
Irigasi Belum Tuntas, 140 Hektare Sawah di Semurut Berau Terancam Kekurangan Air
Kaltimtoday.co, Berau - Pembangunan jaringan irigasi di Kampung Semurut, Kecamatan Tabalar, Kabupaten Berau, hingga kini belum sepenuhnya rampung.
Padahal, keberadaan infrastruktur tersebut sangat dibutuhkan untuk menunjang aktivitas pertanian di kampung yang menjadi salah satu sentra pertanian di Berau itu.
Kepala Kampung Semurut, Zainudin Maru, mengatakan jaringan irigasi yang tersedia saat ini belum mampu menjangkau seluruh areal persawahan.
Kondisi tersebut semakin mendesak untuk ditangani seiring adanya program pembukaan lahan sawah baru yang tengah dikerjakan di kampung tersebut.
“Untuk jaringan irigasinya, separuh saja dari sawah yang ada, yang sudah dikerjakan. Separuhnya belum semenisasi irigasinya,” ungkapnya, Rabu (30/9/2026).
Zainudin menyebutkan, saat ini Kampung Semurut memiliki sekitar 140 hektare lahan sawah.
Selain itu, terdapat pembukaan lahan sawah baru seluas 137,8 hektare yang pengerjaannya masih berlangsung.
Dengan demikian, kebutuhan jaringan irigasi semakin besar karena infrastruktur yang tersedia belum mampu mengairi seluruh lahan, termasuk areal persawahan baru tersebut.
“Sehingga Semurut membutuhkan jaringan irigasi. Karena yang ada belum menjangkau sawah yang ada termasuk yang pembukaan sawah baru 137,8 hektare itu,” jelasnya.
Ia menambahkan, kebutuhan pembangunan dan peningkatan jaringan irigasi juga dirasakan Kampung Buyung-Buyung.
Sebab, bendungan yang menjadi sumber pengairan bagi persawahan di kedua kampung tersebut berada di Semurut.
“Tapi sebenarnya yang butuh juga Buyung-Buyung. Karena irigasi yang mengairi sawah di Semurut dan Buyung-Buyung itu bendungannya di Semurut,” sambungnya.
Persoalan ketersediaan air semakin terasa saat puncak musim kemarau yang berlangsung sekitar dua bulan pada tahun ini.
Zainudin mengungkapkan, selama periode tersebut, aliran air di jaringan irigasi yang ada mengering total. Dampaknya, petani di Semurut mengalami gagal panen pada musim panen kali ini.
Sebagai langkah penanganan sementara, pemerintah melalui Dinas Pangan telah menyalurkan bantuan beras kepada petani yang terdampak.
Namun, bantuan tersebut dinilai belum menyelesaikan persoalan utama, yakni keterbatasan infrastruktur pengairan untuk menunjang kebutuhan pertanian.
Terkait kondisi bendungan, Zainudin menjelaskan bahwa pemerintah telah melakukan perbaikan, perluasan, dan peninggian pada 2025.
Meski pasokan air turut terdampak kemarau, hasil pengerjaan tersebut dinilai masih cukup membantu memenuhi kebutuhan air di Semurut dan Buyung-Buyung.
“Kalau tidak dikerjakan tahun kemarin kemungkinan kemarau panjang ini air PDAM-nya tidak ngalir,” bebernya.
Zainudin berharap persoalan infrastruktur pertanian di wilayahnya dapat segera ditangani. Menurutnya, selain penyelesaian pembangunan jaringan irigasi, petani juga membutuhkan dukungan infrastruktur lain untuk menunjang kegiatan pertanian.
Salah satu kebutuhan mendesak lainnya adalah pembangunan jalan usaha tani yang hingga kini dinilai masih belum memadai.
“Termasuk yang kita butuhkan itu jalan usaha tani, karena masih kurang,” tandasnya.
[MGN | RWT]
Related Posts
- BMKG Rilis 17 Provinsi Alami Kekeringan Ekstrem Panjang, Dominasi Kemarau Tembus 80,7 Persen ZOM
- Intrusi Air Laut Meningkat, Lima IPA di Samarinda Kurangi Jam Operasional
- Metode Tebar Benih Padi Langsung di Kala Air Danau Semayang Menyusut
- Ikhtiar Hadapi Kemarau Panjang, Bupati Berau Ajak Masyarakat Kembali Gelar Salat Istisqa
- Sungai Mahakam Terintrusi Air Laut, Pasokan Air 7.500 Pelanggan PDAM Kukar Terganggu









