Gaya Hidup
Mengupas Makna Filosofis dan Sejarah di Balik Wajib Haji Mabit di Muzdalifah
Kaltimtoday.co - Mabit di Muzdalifah merupakan salah satu rangkaian krusial dalam ibadah haji yang dilaksanakan tepat setelah jemaah menyelesaikan puncak wukuf di Arafah. Dalam pelaksanaannya, mabit bukan sekadar aktivitas bermalam atau singgah sementara waktu, melainkan sebuah instrumen spiritual yang mendalam bagi umat Islam untuk memperbanyak zikir, bermunajat, serta menyusun kesiapan batin menghadapi fase ibadah berikutnya.
Dalam struktur manasik, mabit di Muzdalifah dikategorikan sebagai wajib haji. Berbeda dengan rukun haji yang menentukan sah atau tidaknya ibadah secara mutlak (seperti wukuf), wajib haji adalah amalan yang mutlak harus dikerjakan, namun jika terpaksa ditinggalkan karena uzur tertentu, jemaah diwajibkan menggantinya dengan membayar dam (denda) sesuai ketentuan syariat.
Historiografi dan Landasan Teologis
Kawasan Muzdalifah, yang secara etimologi berasal dari kata al-izdilaf (bermakna berkumpul), menyimpan rekam jejak sejarah yang panjang. Tempat ini diyakini umat Muslim sebagai titik pertemuan bersejarah antara Nabi Adam As dan Siti Hawa setelah sekian lama terpisah sejak diturunkan dari surga ke bumi.
Dalam sirah nabawiyah, Rasulullah SAW memberikan legitimasi kuat pada kawasan ini saat melaksanakan Haji Wada. Kala itu, beliau singgah pascawukuf, meminta Bilal bin Rabah mengumandangkan azan, lalu mendirikan salat Magrib dan Isya secara jamak qashar.
Landasan mabit ini juga termaktub secara eksplisit dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 198:
فَإِذَآ أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَٰتٍ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ عِندَ ٱلْمَشْعَرِ ٱلْحَرَامِ
Artinya: “Maka apabila kamu telah bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam.”
Masy'arilharam yang dimaksud dalam ayat suci tersebut merujuk pada bukit qozah yang berada di dalam lingkup area geografis Muzdalifah.
Teknis Pelaksanaan dan Amalan Sunah
Waktu pelaksanaan mabit membentang sejak malam tanggal 10 Zulhijah hingga menjelang fajar Subuh. Selama durasi tersebut, jemaah haji sangat dianjurkan untuk menghidupkan malam dengan memperbanyak kalimat talbiyah, istighfar, membaca Al-Qur'an, dan berdoa.
Di samping berzikir, jemaah juga memanfaatkan momentum ini untuk mengumpulkan batu kerikil yang nantinya akan digunakan untuk ritual melontar jumrah di Mina. Adapun estimasi jumlah kerikil yang disiapkan adalah sebagai berikut:
- Nafar Awal: Jemaah mengumpulkan minimal 49 butir kerikil.
- Nafar Tsani: Jemaah mengumpulkan minimal 70 butir kerikil.
Meski saat ini mayoritas pihak maktab atau syarikah (pemasok layanan haji) telah menyediakan paket kerikil demi kemudahan logistik, mengambil beberapa butir batu secara mandiri langsung dari tanah Muzdalifah tetap disunahkan demi mengikuti jejak (ittiba) Rasulullah SAW.
Hikmah Spiritual dan Filosofis
Merujuk pada ulasan kontributor NU Online, Abdul Muiz Ali, transisi pergerakan masif dari Arafah menuju Muzdalifah mengajarkan urgensi jalinan ukhuwah—di mana jutaan manusia berkumpul, saling mengenal, dan melebur dalam frekuensi zikir yang sama.
Di tanah lapang ini, konsep kesetaraan manusia digambarkan secara paripurna; seluruh jemaah berbaring di atas tanah beratapkan langit tanpa memandang sekat status sosial, jabatan, suku, maupun kekayaan, segendang penarian dengan spirit Surah Al-Hujurat ayat 13.
Sementara itu, Buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah Kementerian Agama RI mengibaratkan fase mabit di Muzdalifah layaknya sebuah barisan pasukan yang tengah melakukan jeda strategis untuk memulihkan energi fisik, sekaligus memungut peluru (kerikil) guna melancarkan peperangan batin melawan musuh abadi manusia, yaitu setan yang terkutuk, di fase Mina keesokan harinya.
[RWT]
Related Posts
- Mulai 18 Mei 2026, Ini Deretan Keutamaan Puasa Sunah di Awal Bulan Zulhijah
- Diiringi Tangis Haru Keluarga, Ratusan Calon Jemaah Haji Bontang Bertolak ke Balikpapan
- Pelepasan 215 Jemaah Haji Berau Sempat Delay, Seluruh Jemaah Dipastikan Menuju Embarkasi Balikpapan
- Terbagi jadi 3 Kloter, 268 Calon Jamaah Haji Asal Kukar Siap Menuju ke Tanah Suci
- Meski Konflik Timur Tengah Memanas, 5.812 Jemaah Haji Kaltim Dipastikan Berangkat Mulai 27 April 2026







