Opini

Meredam Teror Buzzer untuk Menjaga Iklim Medsos yang Sehat

Oleh: Suwanto (Peneliti pada Pascasarjana UNY)

Derasnya arus Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dewasa ini tidak hanya menimbulkan dampak baik, akan tetapi juga acap kali memicu dampak buruk. Laju kilat TIK ini membuat informasi sangat mudah diakses oleh masyarakat. Namun di sisi lain, malah justru menebar terror terhadap masyarakat digital. Konten media sosial (medsos) ataupun komentar-komentarnya seringkali disuguhi dengan teror yang dilakukan oleh para buzzer.

Di tengah wabah Covid-19 yang belum kunjung usai, teror siber yang dilayangkan oleh buzzer di jagad maya justru malah turut mewabah. Hal ini tentunya membuat keresahan di jagat maya. Apalagi, banyak manuver teror oleh buzzer banyak yang bernada fitnah yang tentunya mengekang kebebasan berpendapat. Kasus teror buzzer teranyar ialah serangan secara virtual dari buzzer terhadap komika Bintang Emon dan anggota keluarganya usai merespons proses peradilan kasus penyiraman air keras yang diterima Novel Baswedan.

Baca juga:  Nadiem Makarim Putuskan Hanya Sekolah di Zona Hijau yang Boleh Buka

Kejadian yang dialami oleh Bintang Emon adalah contoh betapa banalnya serangan siber yang dilakukan buzzer. Hal ini tentunya mengancam kebebasan berekspresi dalam berkarya. Dan kalau dibiarkan berlarut-larut, tentunya akan menciptakan iklim media sosial yang tak sehat.

Apalagi di tengah wabah pandemi Covid-19 ini, yang mana banyak orang menggunakan media sosial untuk berkomunikasi. Artinya, interaksi di dunia maya saat ini mendapatkan porsi yang lebih sering. Ini tentunya akan semakin berpotensi terjadinya gesekan-gesekan dan terjadinya teror secara virtual.

Oleh karenanya sudah saatnya berbagai bentuk teror di ruang medsos harus kita redam. Salah satu pendekatan yang selaras dengan perkembangan TIK untuk memberangus berbagai kejahatan teror dari buzzer ialah dengan teknik digital forensik.

Teknik digital forensik digunakan untuk tujuan hukum, bersifat tidak memihak yang merupakan bukti ilmiah untuk digunakan dalam kepentingan peradilan serta penyelidikan. Meiyanti dan Ismaniah (2015) menjelaskan bahwa,  digital forensik merupakan salah satu cabang ilmu forensik yang berkaitan dengan bukti legal yang masih terdapat pada sebuah atau lebih komputer pada media penyimpanan digital lainnya sebagai bukti-bukti digital yang digunakan sebagai kejahatan di dunia maya.


Dalam menerapkan digital forensik tentu membutuhkan pakar digital forensik. Seorang pakar digital forensik harus benar-benar melatih dan berpengalaman dalam menggunakan cara untuk mengumpulkan semua data-data yang diperlukan sehingga bisa dijadikan bukti legal, sebagaimana telah diatur dalam UU-ITE. Selain itu, diperlukan juga peralatan investigasi dan aplikasi-aplikasi yang dapat digunakan di dunia sekuriti maya serta dapat digunakan untuk digital forensik pada saat ini dan mendatang.

Ada beberapa peralatan investigasi yang digunakan dalam digital forensik dewasa ini (Dezfoli 2013) yaitu; pertama, Digital Media Exploitation Kit (MEK) yaitu mengambil data dari hard drive PC sehingga dapat diketahui siapa yang telah menggunakan komputer yang tidak sesuai dengan otoritasnya.

Kedua, pencarian kata kunci. Hal ini sering terjadi dan dapat menimbulkan bahaya dalam kesalahan menganalisa kata kunci yang dilakukan dalam berbagai bahasa yang dapat digunakan dalam komputer yang menggunakan Unicode sebagai standard encoding yang meliputi 16 bahasa dunia yang terdiri dari 12 bahasa Eropa, beberapa bahasa Timur Tengah dan Asia yang dipelopori oleh Rosette Core Library for Unicode.

Baca juga:  Terawan: Aktivitas Sekolah Dihentikan Jika Ada Kasus Positif Covid-19

Ketiga, perluasan format penyimpanan data atau sering disebut dengan Advanced Forensic Format (AFF), dimana dapat dilakukan tindak kejahatan dengan menyembunyikan atau menghapus data yang terdapat di dalam tempat penyimpanan data. Dalam Cloud Computing System, investigasi forensik menjadi lebih kompleks lagi karena menyangkut otoritas dengan pemeriksaan enkripsi data sebelum dan sesudah data dihantarkan ke jaringan publik.

Dengan adanya ahli digital forensik serta ditunjang peralatan investigasi serta didukung masyarakat digital yang melek literasi, digital mampu meredam konten bernada teror yang dilakukan buzzer di masa pandemi ini. Dan harapannya akan tercipta iklim medsos yang sehat.(*)

*) Opini penulis ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kaltimtoday.co

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close