Nasional

Punya Cadangan Rp 420 Triliun, Menkeu Purbaya Pastikan Harga BBM Subsidi Tidak Naik

Network — Kaltim Today 06 April 2026 19:24
Punya Cadangan Rp 420 Triliun, Menkeu Purbaya Pastikan Harga BBM Subsidi Tidak Naik
Menkeu Purbaya. (Instagram/Menkeuri)

Kaltimtoday.co - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memberikan kepastian bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga penghujung tahun 2026. Stabilitas harga energi ini dijamin tetap terjaga meskipun dinamika ekonomi global masih penuh ketidakpastian.

Menkeu menegaskan bahwa kondisi fiskal negara saat ini berada dalam posisi yang kuat untuk menopang beban subsidi. Pemerintah telah melakukan perhitungan anggaran secara matang, termasuk mengantisipasi skenario jika harga minyak mentah dunia melonjak hingga rata-rata US$ 100 per barel.

“Saya ingin menjelaskan bahwa subsidi terhadap BBM itu akan terus diadakan sampai dengan akhir tahun,” ujar Purbaya saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin (6/4/2026).

Guna menjaga keseimbangan neraca keuangan, Purbaya menjelaskan bahwa pemerintah telah melakukan berbagai langkah efisiensi. Penghematan dilakukan pada sejumlah pos anggaran strategis agar angka defisit tetap terkendali sesuai target.

Lebih lanjut, Purbaya meyakinkan masyarakat bahwa cadangan anggaran yang tersedia masih sangat mencukupi. Pemerintah bahkan telah menyiapkan "bantalan" finansial jika terjadi lonjakan harga minyak dunia yang di luar prediksi.

Salah satu instrumen yang disiapkan adalah pemanfaatan Sisa Anggaran Lebih (SAL) yang jumlahnya mencapai Rp 420 triliun. Dana segar ini siap digunakan sebagai dana darurat untuk menjaga daya beli masyarakat.

“Selama pasokannya ada, kita masih punya bantalan uang sebesar Rp 420 triliun dalam bentuk SAL. Kalau kondisi sangat mendesak, dana itu masih bisa kita gunakan,” imbuhnya.

Meski demikian, Purbaya optimistis skenario terburuk tersebut kecil kemungkinan terjadi. Berdasarkan analisis kementerian, peluang harga minyak dunia bertahan di atas level US$ 100 per barel dalam jangka waktu yang sangat lama relatif rendah.

[RWT] 



Berita Lainnya