Nasional

WMO Peringatkan El Nino Kuat Melanda Dunia, Indonesia Harus Siap Hadapi Kemarau Panjang 2026

Network — Kaltim Today 03 Juni 2026 05:19
WMO Peringatkan El Nino Kuat Melanda Dunia, Indonesia Harus Siap Hadapi Kemarau Panjang 2026
Ilustrasi. (Pixabay)

Kaltimtoday.co - Badan cuaca Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), mengeluarkan peringatan penting mengenai kembalinya fenomena alam El Nino dalam beberapa bulan ke depan. El Nino tahun ini diperkirakan masuk dalam kategori sedang hingga kuat, yang bisa memicu kenaikan suhu bumi dan cuaca ekstrem di berbagai negara.

Secara sederhana, El Nino adalah kondisi di mana suhu permukaan air laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur menjadi lebih panas dari biasanya. Menurut catatan WMO, fenomena ini umumnya berlangsung selama 9 hingga 12 bulan. Untuk tahun ini, suhu panas di atas rata-rata diperkirakan terjadi mulai Juni hingga Agustus, dan dampak El Nino bisa bertahan sampai November 2026.

Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo, mengingatkan pemerintah di berbagai negara untuk segera bersiap.

“Kita perlu bersiap menghadapi fenomena El Nino yang kuat. Kondisi ini bisa memperparah kekeringan, memicu hujan banyat di tempat lain, serta meningkatkan risiko gelombang panas baik di darat maupun di laut,” ujar Celeste Saulo dalam keterangan resminya, Selasa (2/6/2026).

Celeste menambahkan, fenomena El Nino yang terjadi pada tahun 2023–2024 lalu sempat menjadi penyebab utama mengapa tahun 2024 menjadi tahun paling panas yang pernah dicatat sejarah.

Berdasarkan pantauan terbaru, tanda-tanda El Nino sudah mulai terlihat sejak akhir April hingga pertengahan Mei lalu, di mana suhu air laut di Pasifik terus menghangat. Bahkan, suhu di bawah permukaan laut dilaporkan melonjak sampai 6 derajat Celcius di atas normal. Cadangan panas yang besar di bawah laut inilah yang membuat suhu permukaan laut diperkirakan akan semakin panas.

Dampaknya Bagi Dunia dan Indonesia

Fenomena El Nino ini akan mengacaukan pola cuaca dunia secara berbeda-beda. Di satu sisi, ada wilayah yang akan mengalami kenaikan curah hujan atau banjir, seperti di Amerika Serikat bagian selatan, Amerika Selatan bagian selatan, Tanduk Afrika, dan sebagian Asia Tengah.

Namun di sisi lain, kondisi sebaliknya akan terjadi di wilayah lain seperti Australia, Amerika Tengah, sebagian Asia Selatan, dan termasuk Indonesia. Wilayah-wilayah ini berpotensi besar mengalami musim kemarau atau kekeringan yang jauh lebih parah dari biasanya.

Bagi Indonesia, ancaman kekeringan ini perlu diwaspadai karena bisa memicu masalah serius, seperti gagal panen di sektor pertanian, berkurangnya pasokan air bersih, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). 

Melihat dampak tersebut, Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, menegaskan bahwa situasi ini harus menjadi peringatan serius bagi seluruh masyarakat dunia mengenai krisis iklim.

“Dunia harus memperlakukannya sebagai peringatan iklim yang mendesak. Kondisi El Nino ini akan membuat pemanasan global semakin parah,” kata Guterres.

Meski begitu, WMO menjelaskan bahwa belum ada bukti kuat kalau perubahan iklim membuat El Nino jadi lebih sering terjadi. Namun, perubahan iklim yang terjadi saat ini terbukti membuat dampak merusak dari El Nino, seperti gelombang panas ekstrem dan hujan badai menjadi jauh lebih parah dari masa lalu.

[RWT] 



Berita Lainnya