Nasional

Heatwave Eropa Tewaskan Ribuan Orang, BMKG Ungkap Potensinya di Indonesia

Network — Kaltim Today 01 Juli 2026 16:18
Heatwave Eropa Tewaskan Ribuan Orang, BMKG Ungkap Potensinya di Indonesia
Ilustrasi. (Pixabay)

Kaltimtoday.co - Gelombang panas ekstrem atau heatwave yang melanda sejumlah negara di Eropa hingga menewaskan ribuan orang memicu kekhawatiran publik akan potensi terjadinya fenomena serupa di Indonesia. Menanggapi hal tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan potensi terjadinya heatwave di Tanah Air sangat kecil.

Ahli Meteorologi dan Prakirawan Cuaca BMKG, Adinda Dara Vahada, menjelaskan bahwa kondisi geografis Indonesia yang berada di kawasan tropis dan berbentuk kepulauan menjadi faktor utama yang membedakan karakter cuacanya dengan negara-negara di Eropa.

Menurut Adinda, wilayah Indonesia memiliki tingkat kelembapan udara yang tinggi akibat pengaruh masif dari penguapan air laut. Kondisi maritim ini membuat proses pembentukan awan dan hujan lebih mudah terjadi, sehingga mampu menekan kenaikan suhu udara secara ekstrem.

"Sementara itu, gelombang panas di Eropa umumnya terjadi akibat adanya massa udara panas yang tertahan cukup lama oleh pola tekanan tinggi. Kondisi ini membuat suhu ekstrem bisa bertahan hingga berhari-hari," ujar Adinda, Selasa (30/6/2026).

Adinda memaparkan bahwa pola cuaca yang memerangkap massa udara panas tersebut lebih umum terjadi di kawasan daratan luas benua atau wilayah lintang menengah. Sistem atmosfer seperti itu dipastikan tidak terjadi di negara kepulauan maritim seperti Indonesia.

Oleh karena itu, fenomena suhu terik yang kerap terjadi di Indonesia lebih tepat dikategorikan sebagai cuaca panas biasa atau peningkatan suhu udara maksimum harian, bukan fenomena heatwave seperti yang melanda belahan bumi Eropa.

Meski demikian, BMKG memperkirakan cuaca panas masih akan dirasakan di sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa waktu ke depan, terutama di daerah-daerah yang sudah mulai memasuki musim kemarau.

Faktor berkurangnya tutupan awan serta menurunnya curah hujan membuat paparan radiasi matahari pada siang hari menjadi lebih optimal, sehingga memicu kenaikan suhu udara permukaan secara linear.

"Pada kondisi tutupan awan yang minim seperti ini, pemanasan radiasi matahari pada siang hari menjadi jauh lebih optimal," kata Adinda.

Berdasarkan data pemodelan BMKG, suhu maksimum harian di Indonesia diperkirakan berkisar antara 33 hingga 36 derajat celsius. Bahkan, di sejumlah titik wilayah tertentu, suhu udara dilaporkan dapat melonjak hingga menyentuh angka 36 sampai 37 derajat celsius.

Adinda menegaskan bahwa indikator suhu tersebut sebenarnya masih tergolong dalam batas normal bagi wilayah tropis. Angka kenaikan ini tidak dapat serta-merta dimasukkan ke dalam klasifikasi gelombang panas ekstrem.

Guna menghadapi cuaca terik ini, BMKG mengimbau masyarakat untuk memperbanyak konsumsi air putih secara berkala agar terhindar dari risiko dehidrasi. Masyarakat juga diminta mengurangi aktivitas berat di bawah paparan sinar matahari langsung pada siang hari, serta menggunakan pelindung diri seperti tabir surya, topi, atau payung saat beraktivitas di luar rumah. 

[RWT] 



Berita Lainnya